
" Acy mau punya adik dua!" Pamernya yang seketika membuat raut wajah Rigel berubah.
Arsy yang masih kecil, belum tahu bahwa ucapannya itu membuat hati Rigel terasa sakit. Baginya, dia hanya ingin membagi kebahagiaan karena akan mempunyai dua adik. Tapi, bagi Rigel itu sebuah berita yang cukup membuat dadanya terasa sesak.
Bagaimana tidak sesak, dulu ia dan Elia cukup lama baru bisa memiliki anak dan ketika buah hati itu hadir, pernikahannya yang justru kandas.
Iri? menyesal atau belum move on?
Iri, sepertinya tidak.
Menyesal? Mungkin iya karena sampai saat ini dia masih menyesali perbuatannya dulu.
Belum move on? Itu sudah Rigel coba. Namun, sampai sekarang dia belum bisa melupakan Elia. Bahkan, di saat ada wanita yang mendekatinya, ia masih teringat dengan Elia.
Bisakah ia menjalin sebuah hubungan lagi? Jika iya, akankah itu bisa bertahan lama? Terkadang, Rigel juga bingung kenapa dia belum bisa move on dan terus memikirkan Elia. Padahal, wanita itu sudah menjadi milik pria lain, dan sekarang tengah mengandung bayi kembar dari pernikahan keduanya.
" Papa kenapa diam? Apa Papa cakit?" tanya Arsy sembari memegang kening Rigel. Ia mencoba mengecek apakah papanya sedang sakit.
"Papa tidak anas," lanjutnya.
__ADS_1
Rigel tersenyum melihat tingkah putrinya yang sudah sangat pintar dan menggemaskan.
" Papa tidak apa-apa sayang," ucapnya setelah terdiam cukup lama.
Sedangkan Elia menatap ke arah suaminya, seakan meminta persetujuan apakah dia bisa menyapa mantan suaminya? Saat ini, Elia memang cukup berhati-hati jika ingin menyapa sang mantan di depan Simon karena dia harus menjaga hati dan perasaan suaminya itu.
Simon tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke pundak Elia. Simon mengajak Elia berjalan untuk menghampiri Rigel dan Arsy. Jika ada yang bertanya apakah ia nyaman? Jawabannya antara iya dan tidak. Tidak karena bagaimanapun juga, pria ini adalah mantan suami sekaligus pria yang pernah sangat di cintai istrinya. Iya karena dia harus mencoba terlihat biasa saja saat bertemu dengan Rigel. Karena ada Arsy yang akan terus membuat mereka saling berhubungan.
" Kebetulan sekali bisa bertemu di sini. Apakah anda ada urusan di rumah sakit?" tanya Simon basa basi.
" Oh, hanya menjenguk teman," dusta Rigel.
" Selamat atas kehamilannya, El, " ucap Rigel.
" Terimakasih. "
" Apa kalian sudah mau pulang? "tanya Rigel yang diangguki oleh Elia.
Setelah itu, Rigel mencium pipi kiri dan kanan Arsy sebelum ia menurunkannya dari gendongannya.
__ADS_1
" Kalau begitu, kita berpisah dulu, ya. Lusa Papa akan jemput Arsy untuk liburan, oke!"ucapnya dengan tersenyum dan di angguki oleh Arsy.
Rigel tersenyum dan mengusap lembut pipi gembul putrinya, sebelum mereka berpisah. Sejak Rigel sudah bisa di percaya, Elia mulai membagi jadwal kapan Arsy bisa tinggal bersama papanya. Elia melakukan hal itu karena bagaimana juga, Rigel tetap ayah kandung Arsy dan dia berhak untuk mendapatkan hal itu.
" Kalau begitu, kami permisi Dulu," pamit Elia yang diangguki oleh Rigel.
Setelah itu, Elia membawa Arsy pergi menuju tempat parkiran. Sedangkan Rigel masih terus menatap kepergian mereka.
Selamat ya El, akhirnya kamu bisa memiliki hidup yang bahagia tanpa harus tersakiti dan tertekan lagi. Maafkan aku jika dulu pernah menyakitimu. Gumam Rigel dalam hati.
...☘️☘️☘️...
" Hei, bisakah kamu berpura-pura menjadi kekasihku?"
"Ha?" wanita itu benar-benar terkejut saat mendengar ucapan pria yang ada di depannya saat ini.
" Gila lu! Emangnya gue cewek apaan, bisa di sewa jadi pacar pura-pura? Gue nggak mau!" tolak wanita itu yang segera berlalu pergi. Namun, langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh pria itu.
"Plis, tolong bantu aku!" pinta pria itu dengan wajah memohon.
__ADS_1
...****************...