Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Kriteria pria idaman


__ADS_3


Selesai berpamitan dengan Arsy, Jingga masuk ke dalam mobil Haikal.


"Sudah selesai Kak?" tanya Haikal.


"Iya."


"Itu tadi Ayah kandung Arsy?" tanya Haikal yang memang belum pernah melihat mantan suami Elia.


"Iya, itu tadi ayah kandung Arsy."


"Oh, kirain dia di Jakarta."


"Dulu iya, baru beberapa hari ini tinggal di sini."


Haikal mengangguk, lalu menginjak pedal gas untuk menuju rumah sakit tempat Jingga praktek. Jingga memang masih kerja di salah satu rumah sakit, dan juga dalam proses membuka tempat praktek sendiri.


Selama perjalanan, Jingga dan Haikal terus mengisi dengan pembicaraan. Biasanya Jingga sangat tertutup dengan pria, tapi karena Haikal sahabat Simon. Dia berpikir tidak masalah untuk berteman juga.


Mereka berdua cukup nyambung karena sifat Haikal hampir mirip dengan Simon, dia bukan tipe cowok narsis dan sombong sehingga membuat Jingga cukup nyaman berbicara dengannya.


"Oh ya, Kak. Boleh tanya sesuatu?" izin Haikal.


"Silahkan."


"Kriteria cowok idaman kakak seperti apa?"


Jingga mengerutkan keningnya, dan tersenyum tipis saat mendengar Haikal bertanya seperti itu. Ini adalah pertama kalinya ada seorang pria bertanya seperti itu padanya.


Jingga menatap ke arah Haikal. "Kenapa bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin tahu saja," dusta Haikal. Sebenarnya dia ingin tahu apakah Haikal masuk dalam kriteria cowok Jingga atau tidak.


Jujur, Haikal memang sedikit minder saat ingin mendekati Jingga. Jingga adalah wanita cantik dan mempunyai pekerjaannya yang bagus.


" Aku tidak terlalu punya kriteria sih, asalkan jangan brondong saja!"


Mendengar kata brondong di coret merah oleh Jingga, membuat nyali Haikal menciut.


"Memangnya kenapa kakak gak mau sama brondong?"


"Gak suka aja!"


Tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah sakit tempat Jingga bekerja. Tanpa berlama-lama, Jingga segera turun dari mobil.


"Makasih, ya."


Haikal tersenyum, lalu Jingga berjalan menuju rumah sakit. Sedangkan Haikal masih terus menatap kepergian Jingga. Padahal baru saja ingin maju, sudah di tolak sebelum dulu saat masih berada pada posisi start.


Mood Haikal yang awalnya membaik karena Jingga tak terlalu galak padanya, seketika hancur saat mendengar ucapan Jingga yang mengatakan kalau tidak suka dengan brondong.


Apakah wanita matang memang tidak menyukai pria yang lebih muda? Apakah nasibku harus seperti Simon? Berjuang menunggu sampai bertahun-tahun agar bisa di terima?


"Ah ... kenapa juga umurku jauh lebih muda!" gerutu Haikal yang menyesal karena umurnya yang masih muda.


Padahal dari dulu itu adalah kebanggaan bagi Haikal, tapi sekarang Haikal justru merasa menyesal karena umurnya masih muda.

__ADS_1


***


Di tempat lain, terlihat seorang Tuan muda yang terus di bangunkan oleh para pelayannya.


"Bisakah kalian jangan mengganggu tidurku!" teriak Angkasa dari dalam kamar.


"Maaf Tuan muda, tapi Tuan Hendra sudah menunggu Anda di meja makan. Beliau berkata jika Anda tidak turun dalam 15 menit maka___"


"Iya ... Iya, aku bangun!" teriak Angkasa yang mengerti apa kalimat selanjutnya. Yang ingin di katakan oleh sang pelayan.


Terpaksa Angkasa segera bangun dan turun dari ranjang untuk mandi terlebih dahulu. Selesai bersiap-siap, Angkasa segera turun ke lantai bawah.


Di meja makan sudah terlihat Hendra yang membaca koran dengan secangkir kopi di depannya.


"Pagi, Pa," sapa Angkasa.


Hendra menurunkan kacamata baca yang Ia pakai serta melipat korannya.


"Kamu telat lima menit!"


"Yaelah, Pa. Hanya lima menit saja! Angkasa kan harus mandi dulu."


"Jangan meremehkan waktu! Lima menit juga bisa menjadi uang jika kamu orang yang produktif, begitupun sebaliknya.


" Jika kamu hanya bisa bermalas malasan seperti ini, waktu lima menit kamu akan terbuang sia-sia. Tidak akan ada 6 menit jika tidak ada lima menit. Jadi, hargai waktu because time is money.


" Hari ini Papa ingin Kamu berangkat ke kantor. "


" No, A tidak suka.


Angkasa terbelalak, saat mendengar ucapan ayahnya.


" Baiklah A akan bekerja,"


" Bagus, kamu itu bukanlah anak SMA lagi. Jadi jangan manja dan menghamburkan uang saja. Bekerjalah, sudah cukup waktumu untuk bermain.


Angkasa hanya terdiam. Sejak mamanya meninggal, sudah tidak ada lagi yang jadi pembela baginya. Papanya semakin menjadi mengatur ini dan itu. Semua perintahnya tidak bisa di ganggu gugat.


Jika di bantah, pasti ancamannya keluar untuk memblokir semua fasilitasnya, dan Angkasa sama sekali tidak bisa jauh dari uang. Bagi Angkasa uang adalah segalanya.


Selesai makan, Angkasa pamit untuk pergi ke kantor yang di temani asisten Lim dan beberapa bodyguard.


Saat dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba Angkasa melihat seorang wanita hamil tengah merintih kesakitan seraya mencoba menghentikan mobol. Namun, masih belum ada satupun mobil yang mau berhenti menolongnya.


"Pak, pak minggir." panggil Angkasa kepada supirnya.


"Anda mau kemana Tuan?" tanya asisten Lim.


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang asisten, Angkasa sudah keluar menghampiri wanita hamil itu. Saat Angkasa masih berjalan ke arahnya, tiba-tiba wanita itu pingsan. Membuat Angkasa segera menangkapnya.


"Turun! Cepat tolongin!" teriak angkasa kepada para bodyguardnya.


Mereka segera berlari dan membantu Angkasa menolong wanita hamil itu. Mereka segera membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Angkasa segera menyuruh para bodyguardnya mengambil brankar untuk wanita itu.


Mereka meletakkan, wanita hamil itu pelan-pelan ke atas brankar dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


"Wanita itu segera di bawa masuk ke ruangan UGD.


Setelah di periksa, wanita itu harus segera dioperasi karena air ketubannya habis, dan tubuhnya juga lemah.


" Apakah anda keluarganya? "


" Bukan, memangnya ada apa? "


" Wanita yang anda bawa harus segera menjalani operasi, kalau tidak nyawa Ibu dan bayinya akan terancam."


"Kalau begitu segera lakukan operasi."


"Jika tidak ada keluarganya, siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Saya!" jawab Angkasa dengan lantang.


Asisten Lim terkejut saat melihat Angkasa begitu berani mengambil resiko. Dia boleh menolong, tapi jangan sampai membahayakan dirinya sendiri. Kalau misalnya nanti terjadi apa-apa dengan wanita itu, maka Angkasa yang harus menanggungnya.


"Tuan muda, anda tidak perlu ikut campur sejauh ini!"


"Tidak, saya tidak bisa diam saja. Cepat lakukan pembayaran administrasi biar wanita itu bisa segera di operasi."


"Tapi, Tuan__"


"Cepat!" titah Angkasa dengan wajah yang sudah menyeramkan.


Melihat Angkasa yang terlihat marah seperti itu, membuat asisten Lim menuruti perintahnya.


Angkasa memang pria manja dan suka menghabiskan uang, tapi dia punya hati yang lembut. Dia paling tidak suka melihat orang meninggal di depannya.


Setelah urusan administrasi selesai, para tim medis segera mempersiapkan keperluannya. Di dalam ruang kerjanya, tiba-tiba ada seorang perawat datang mengatakan kepada Jingga agar dia mau mengoperasi pasien gawat darurat.


"Apakah tidak ada dokter lainnya?"


"Tidak ada, Dok. Hanya tersisa anda saja, dokter Obygn yang tidak melakukan operasi."


Jingga menghembuskan nafas panjang.


"Baiklah,sebentar lagi saya akan ke sana."


"Nilam, kamu kondisikan pasien yang sudah mengantri ya. Katakan kalau saya ada operasi mendadak."


"Baik, Dok."


Selesai memeriksa pasiennya, Jingga segera keluar dari ruangannya menuju ruang operasi. Angkasa yang sedang menunggu di depan ruangan operasi, ketika melihat ada Jingga di sini segera berjalan menghampirinya.


"Hei," panggil Angkasa.


Jingga menoleh sebentar, kemudian berlalu pergi. Namun, Angkasa mencekal tangannya.


"Kita bertemu lagi."


"Tolong lepaskan tangan Anda, saya sibuk!"


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya.

__ADS_1


__ADS_2