
Peringatan ...!!! Jika ada konten yang tidak berkenan di hati, tidak usah di anggap serius. Anggap sebagai hiburan saja oke?
" A, biar aku saja yang mengemudi."
" Sudah, biar aku saja. Tuan putri duduk manis di samping supir, oke?" Angkasa membantu Jingga masuk ke kursi penumpang dekat kemudi.
" Tapi___" Bibir Jingga sudah di bungkam oleh jari telunjuk Angkasa.
" Tidak menerima bantahan!" ucap Angkasa dengan tersenyum. Selesai memasangkan sabuk pengaman, giliran A yang berjalan mengitari mobil. Lalu, duduk di kursi kemudi.
Tak butuh lama, mobil pun pergi meninggalkan area rumah sakit. Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Jingga terus menatap wajah A yang sedikit aneh, karena biasanya dia paling banyak bicara.
"Apakah aku sangat tampan, sampai kamu terus memandangiku?" mode narsis Angkasa kembali lagi. Jingga mencebik dan langsung membuang muka.
"Dasar narsis! "lirih Jingga yang masih terdengar oleh Angkasa.
Tiba-tiba Angkasa meraih tangan Jingga, dan menciumnya.
" A ..., " seru Jingga yang kembali terkejut dengan sikap Angkasa yang selalu tiba-tiba.
" Kenapa? Apakah mencium tangan calon istri sendiri tidak boleh?"
Jingga hanya diam, dengan bibir yang sedikit cemberut.
" Kamu ada apa, sih? Kok moodnya mudah sekali berubah-ubah!" ujar Angkasa.
Jingga masih terdiam, dia bingung haruskah dia bicarakan atau tidak?
" A ..., "panggil Jingga selepas diam beberapa menit.
" Em ..." jawab A tanpa menoleh, karena dia masih fokus mengemudi.
__ADS_1
" Kalau misalnya Papamu tidak merestui hubungan kita, apakah kamu akan meninggalkan aku? "
Shitt ...
Angkasa tiba-tiba mengerem mendadak ketika mendengar perkataan Jingga. Baru saja mau berbicara, sudah ada mobil yang terus membunyikan bel. Membuat Angkasa terpaksa meminggirkan mobilnya terlebih dahulu.
" Kamu kenapa berbicara seperti itu?" tanya Angkasa dengan tatapan menyelidik.
" Ya, aku hanya bertanya saja."
" Apa karena sikap Papaku tadi?" tebak Angkasa.
Angkasa tidak buta, dia juga tahu bahwa Papanya tadi terlihat terang-terangan menolak Jingga.
Angkasa kembali menggenggam tangan Jingga, dan menyuruhnya menatap matanya.
" Kamu tidak usah berpikir bahwa aku akan meninggalkan kamu hanya karena Papaku tidak setuju. Aku seorang pria, tetap bisa menikah tanpa mendapat restu darinya."
" Aku kenapa Ji? Katakan? " jawab Angkasa yang penasaran. Dari mata Jingga, Angkasa bisa melihat seakan ada keraguan di sana.
" Apakah kamu masih meragukan cintaku?" tebak Angkasa.
Jingga menggeleng.
" Terus kenapa tatapan mata indah itu tidak seperti kemarin yan penuh cinta?" tanya Angkasa dengan wajah serius.
Sebenarnya Jingga sendiri juga masih bingung, apa yang masih dia ragukan? Angkasa saja sampai rela terluka demi menyelamatkannya. Tapi ___
" A, misalkan ..., " Angkasa masih setia menunggu ucapan Jingga yang lagi-lagi terputus.
Jingga menutup matanya, lalu menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Dia akan mencoba untuk berterus terang saja agar komunikasi mereka terjalin dengan baik. Karena komunikasi yang baik sangat di butuhkan dalam sebuah hubungan.
__ADS_1
" Jangan memotong, sebelum aku selesai bicara oke?"
Angkasa mengangguk.
" Jika kamu di hadapkan dengan dua pilihan, apa yang akan kamu pilih?"
" Tetap bersama aku seorang, tapi di keluarkan dari keluarga Hanjaya. atau boleh bersamaku, dan masih di anggap sebagai keluarga Hanjaya, tapi dengan syarat mau menikah lagi dengan wanita pilihan dari keluarga Hanyaja?"
" Kenapa kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu? Apakah kamu suka menonton sinetron di ikan terbang, huh? "
" Jawab saja. "
Angkasa mendekatkan wajahnya. " Tentu saja tetap bersamamu tanpa mendua. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menduakan kamu, sekalipun harus di keluarkan dari ____" ucapan Angkasa terhenti ketika Bibir Jingga sudah membungkamnya. Karena tidak mau melewatkan kesempatan, Angkasa justru menekan tengkuk Jingga agar dia tidak melepaskan ciuman.
Awalnya, Jingga hanya refleks ingin mencium sekilas saat mendengar pilihan Angkasa. Tapi, justru berakhir menjadi ciuman yang panas. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Angkasa akan menjawab seperti itu.
Mereka berdua segera mengambil nafas banyak-banyak saat ciuman itu sudah terlepas. Angkasa mengelap bibir Jingga yang masih basah akibat ulahnya.
" Apakah ucapanmu itu bisa di pegang?" tanya Jingga untuk memastikan kembali.
" Tentu saja, penggal saja kepala ini kalau sampai aku mengingkari janji. Jingga ... Aku tidak pernah takut di keluarkan dari keluarga Hanjaya, asalkan masih bisa tetap bersamamu. Jadi, jangan pernah meragukan cintaku lagi, atau berpikiran seperti itu. Yakinlah, aku masih bisa menghidupimu tanpa menjadi keluarga Hanjaya."
" Kalaupun kamu tidak bisa menghidupiku, aku masih bisa bekerja mencari uang sendiri, bahkan aku yang akan menghidupimu. Aku hanya ingin tahu, apakah aku lebih penting dari harta keluargamu," jelas Jingga.
Angkasa tersenyum." Tentu saja kamu lebih berharga. Dan ... Menafkahi itu tanggung jawab suami, bukan istri. Karena seorang wanita itu di lahirkan untuk menjadi tulang rusuk, bukan tulang punggung."
Jingga tersenyum, ternyata Angkasa jauh lebih dewasa dari perkiraannya. Ternyata umur, memang tidak bisa menjadi patokan untuk menilai suatu kedewasaan seseorang, dan tidak semua pria itu sama.
...****************...
Udah triple up loh, tapi kalau belum muncul, berarti masih nyangkut di pusat. Karena hari ini review pusat lagi eror dari siang nggak selesai - selesai.
__ADS_1
Kasih kembang kopinya yang banyak yah...