
Hendra dan Jingga duduk bersebrangan di meja bundar yang sudah di penuhi dengan berbagai menu makanan.
" Silahkan di makan," tawar Hendra sebelum meneguk minumannya.
" Tidak perlu, anda katakan saja apa yang ingin di bicarakan pada saya!"
Hendra mengulas senyum saat melihat wanita yang sangat di cintai putranya ini ternyata wanita yang suka to the poin.
" Baiklah, saya akan memulai pembicaraan kita."
" Apakah kamu mencintai A? "
" Tentu saja! "jawab Jingga singkat.
" Sebesar apa? "
" Sebesar cintanya padaku! "
Hendra sedikit terkejut mendengar jawaban Jingga yang langsung, tanpa berpikir dan pada intinya.
Jingga memang sudah sangat mencintai pria itu tanpa dia sadari. Bahkan, dia tidak akan pernah meninggalkan Angkasa hanya karena perintah Hendra.
Tiba-tiba, beberapa pengawal datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah koper.
Sepertinya dugaanku benar, dia ingin menyuapku! Gumam Jingga dalam hati.
" Jingga, kamu tahu kan ... bahwa Angkasa adalah pewaris keluarga Hanjaya, dan kamu pasti tahu bahwa___"
" Keluarga Hanjaya adalah orang terkaya di kota ini!" sela Jingga sebelum Hendra menyelesaikan ucapannya.
" Saya tidak peduli, A berasal dari keluarga mana. Karena saya sudah mencintai A sebelum tahu bahwa dia adalah putra dari keluarga terkaya di kota ini. Jadi, simpan saja rencana anda yang ingin memisahkan saya dengan cara menyuap!" ucap Jingga dengan penuh penegasan.
__ADS_1
Di sebuah ruangan lain, terlihat seorang wanita yang tengah tersenyum bangga saat mendengar jawaban Jingga.
Sepertinya aku tidak salah menduga! Gumam wanita itu sembari terus menatap layar komputernya. Di dalam ruangan itu, memang sudah memiliki kamera tersembunyi agar sang wanita cantik itu, bisa mendengarkan perkataan mereka berdua.
Hendri terdiam saat melihat Jingga ternyata sudah paham dengan rencananya.
" Ternyata kamu benar-benar di luar dugaan, kalau begitu saya akan menyetujui pernikahan kalian, asalkan kamu bisa membuat Angkasa mau menjadi pemimpin di perusahaan Hanjaya corp."
Untungnya, Hendra sudah menyiapkan dua pilihan sehingga jika pilihan pertama gagal, maka masih ada pilihan kedua.
Jingga menyeringai sebentar, lalu menatap Hendra dengan tatapan yang tak bisa di ungkapkan.
" Tuan Hendra Hanjaya yang terhormat. Jika itu adalah permintaan anda, maaf saya tidak akan mengabulkannya. Karena saya tidak akan memaksa Angkasa untuk melakukan sesuatu yang tidak dia sukai."
Hendra mengerutkan keningnya. " Apa maksud kamu, huh?"
Hendra masih terdiam, dia mencoba untuk tidak menahan amarahnya di depan wanita ini. Karena dia masih berharap bahwa Jingga bisa membuat A mau mengurus perusahaan.
" Jika kamu tidak menerima tawaran saya, maka___"
" Saya tidak akan pernah meninggalkan Angkasa, apapun yang terjadi. Bahkan, jika dia di keluarkan dari keluarga Hanjaya sekalipun." sela Jingga yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan Hendra.
Tangan Hendra sudah mengepal dengan erat, tatkala melihat Jingga terus memotong ucapannya. Tatapan tajam dari Hendra, tak mampu membuat nyali Jingga menciut
" Bisakah kamu bersikap sopan? "ujar Hendra dengan tatapan kesal.
" Maaf Tuan Hendra, " ucap Jingga santai dengan tersenyum.
"Jika anda ingin berbicara tentang kesopanan, maka anda harus mengoreksi diri terlebih dahulu. Karena saya akan bersikap sopan pada orang yang pantas menerimanya!" telak Jingga.
__ADS_1
" Kurang ajar kamu!" umpat Hendra yang sudah tak sanggup lagi menahan amarahnya. Di benar-benar tidak menduga bahwa Angkasa bisa jatuh cinta dengan wanita seperti ini.
Jingga hanya diam, memperhatikan saja. Jingga bersikap seperti ini, karena Hendra yang lebih dulu bersikap tidak sopan. Dengan seenaknya dia membawa Jingga kesini secara paksa, dan mencoba menyuapnya. Jadi, jangan salahkan dia jika tidak bersikap sopan.
Hendra sudah berdiri dari tempat duduknya, dan menatap hina ke arah Jingga.
" Memang wanita yang terlahir dari seorang selir, tidak ada baik-baiknya!" hina Hendra.
Amarah Jingga ikut memuncak, ketika mendengar Hendra menghinanya dengan mengatakan bahwa dia adalah anak selir.
Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan Angkasa yang datang dengan penuh amarah.
" Jangan pernah menghina wanitaku dengan berkata seperti itu!" pungkas Angkasa dengan penuh penegasan.
Hendra terkejut saat melihat Angkasa tiba-tiba bisa masuk ke ruangan itu, padahal dia sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk menjaga pintu ruangan ini.
" A ..., "
" Kamu tidak apa-apa? " ucap Angkasa sembari melihat tubuh wanitanya yang masih utuh.
Jingga menggeleng.
Sebuah tepuk tangan terdengar, memperlihatkan wanita cantik yang tengah hamil besar ikut masuk ke dalam ruangan itu.
" Sepertinya Papa sudah kalah taruhan. Jadi, biarkan Sa menikahkan mereka sekarang juga!" pungkas Safwana dengan wajah penuh kemenangan.
" Ha, menikah sekarang juga!" seru Jingga dan Angkasa bersamaan.
...****************...
Ciye... Kira-kira kalian menduga endingnya tidak? Siapkan kembang kopinya ya...
__ADS_1