
Selesai acara, Jingga dan Angkasa segera kembali ke kamar hotel mereka. Acara hari ini cukup melelahkan bagi mereka berdua, ternyata menyambut para tamu undangan cukup melelahkan. Harus selalu tersenyum, menjawab pertanyaan, dan mendengarkan nasehat seputar pernikahan. Bahkan, harus mendengar godaan dari para teman-temannya.
" Huft, capek ..." ujar Jingga yang langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Angkasa pun ikut berbaring di samping istrinya. Tiba-tiba ingatan bahwa hari ini mereka sudah menikah selama seminggu, membuat Angkasa kembali bersemangat.
" Sayang..., " panggil Angkasa yang bersiap-siap untuk bertanya.
" Apakah lampu merahnya sudah hijau?" tanya Angkasa.
Jingga mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah suaminya.
" Apa maksudnya lampu merah dan hijau?" tanya Jingga bingung.
Angkasa tersenyum penuh arti. " Itu, apakah tanggal merahnya sudah selesai?" ucap Angkasa sambil mengkode dengan mata yang turun ke bawah.
" Oh, sudah!" jawab Jingga setelah paham apa yang di maksud oleh Angkasa.
" Berarti sudah boleh dong, si jake masuk ke sangkarnya," tukas Angkasa dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Deg
Jantung Jingga berhenti sejenak, lalu berpacu dengan cepat. Dia baru sadar bahwa maksud dari pertanyaan Angkasa barusan adalah sebagai bentuk kode untuk meminta haknya yang sempat tertunda.
Tanpa sadar, kini Angkasa sudah berada di atas tubuhnya, bersiap-siap untuk melancarkan Aksinya. Baru saja ingin mencium bibir sang istri, tiba-tiba sudah terdengar ketukan pintu dari luar tangan. Membuat Angkasa mendengus kesal karena lagi-lagi dia gagal.
" A, coba kamu lihat dulu. Siapa yang mengetuk pintu, siapa tahu penting," ujar Jingga.
Sebenarnya Angkasa malas untuk membukakan pintu, tapi jika tidak di bukakan juga akan terus menganggu. Jadi, terpaksa Angkasa berjalan untuk membukakan pintu, sekaligus melihat siapa yang datang mengganggu acaranya.
Melihat Angkasa pergi, Jingga bernafas lega. Setidaknya dia bisa terbebas sementara, sebelum di terkam. Mengingat di terkam, Jingga memutuskan segera berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat terus berkeringat selama acara di luar ruangan.
" Santai bro, apakah kita sudah mengganggumu?" tanya Doni tanpa rasa bersalah.
" Tentu saja! Apakah kalian tidak mengerti bahwa ini adalah kamar pengantin baru?" sungut Angkasa.
"Jika tidak ada keperluan yang penting, lebih baik kalian segera pergi, deh! usir Angkasa pada kedua sahabatnya itu.
" Yaelah, santai aja bro ... Kita mau membahas soal pekerjaan," sahut Haris dengan melingkarkan tangannya di pundak Doni .
__ADS_1
" Lebay ... Nggak usah pegang-pegang segala!" sungut Doni yang cukup risih dengan sikap Haris.
"Sudah, jika hanya soal pekerjaan pending dulu! Semua pekerjaan atau apapun yang berhubungan denganku tunda semuanya, karena aku mau menikmati waktu bersama istriku!" Angkasa segara menutup pintu kamarnya dengan keras. Menandakan bahwa dia kesal Karena sudah di ganggu.
Melihat ada kertas tempel dan bolpoin di atas meja, membuat Angkasa tersenyum penuh arti. Dia segera menuliskan sesuatu di kertas itu, lalu berjalan keluar kembali untuk menempelkan tulisan yang sudah dia buat.
"Mohon jangan di ganggu! Jika ada urusan, pending dulu." itu Kalimat yang tertulis di kertas itu.
Angkasa berharap bahwa tidak akan ada yang mengganggunya lagi. Mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, membuat Angkasa tersenyum penuh arti. Dia segera menanggalkan semua pakaiannya, lalu berjalan memasuki kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci. Angkasa membuka pintu kamar mandi pelan-pelan agar Jingga tidak menyadari hal itu.
Melihat tubuh polos Jingga yang sedang terguyur air shower, seketika membuat Angkasa menelan salivanya dalam-dalam. Bahkan, juniornya langsung mengembang seketika.
Dia berjalan menghampiri sang istri dan ikut mandi di bawah air shower itu.
" Tubuhmu harum sekali sayang," bisik Angkasa sensual.
"A!!!" pekik Jingga yang terkejut saat A memeluk tubuh polosnya dari belakang.
...****************...
__ADS_1
Mulai hareudang... Kabur!!!