
" Bagaimana, Ri?kita mau kebumikan di mana jenazah mama?" ucap Jonathan yang sedang meminta pendapat.
" Di sini saja!"
" Kenapa? Kita bukan orang sini, bukankah akan sulit untuk mengurusnya?"
" Rigel akan menyuruh orang lain untuk mengurusnya. Lagi pula Rigel akan pindah ke kota ini, dan mama juga suka kota ini. Jadi, Rigel yakin kalau Mama pasti setuju dikebumikan di kota ini juga," ungkap Rigel.
Hana memang pernah mengatakan bahwa dia sangat menyukai tempat ini. Apalagi setelah bertemu Arsy, dia sampai mengatakan tak ingin pergi dari kota ini agar bisa dekat dengan cucunya terus.
Akhirnya, Jo setuju untuk mengebumikan Hana di kota yang sangat indah ini.
...🌷🌷🌷...
Di ruangan operasi, semua sudah siap sedia.
"Apakah semuanya sudah sudah siap?" tanya Jingga.
"Sudah, Dok. Suntikan anestesi juga sudah di berikan."
"Kalau begitu kita mulai operasi hari ini. Berikan saya pisau bedah." tangan Jingga menengadah meminta pisau bedah.
Dengan konsentrasi tinggi, Jingga mulai membelah perut bagian bawah wanita itu. Setelah lapisan perut mulai terbuka, Jingga mulai memasukkan tangannya untuk mengambil sang bayi di dalam perut. Tapi, saat ingin mengangkat bayinya, tiba-tiba bayi itu terlilit.
" Bantu saya untuk dorong perut bagian atas, karena bayinya terlilit," ujar Jingga.
Seorang Dokter lain langsung segera membantu mendorong perut sang Ibu dari atas.
"1 2 3 Dorong!"
"Dorong lagi ...."
Seorang Dokter mendorong bagian perut bagian atas, sedangkan Jingga menarik bayi keluar dari dari lilitan. Tak lama kemudian, bayi berhasil di keluarkan, dan suara tangisan menggema di dalam ruang operasi.
Setelah berhasil mengeluarkan bayi dalam perut, Jingga kembali meminta gunting umbilical  Scissor (gunting tali pusar) yang di gunakan untuk memotong tali pusar bayi.
Selesai memotong tali pusar, Jingga memberikan bayi pada seorang perawat. Biasanya, bayi akan di pertemukan kepada sang Ibu untuk melakukan skin to skin contact. Tetapi, di karenakan Ibu dari bayi itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Dia langsung melakukan pemeriksaan bayi baru lahir.
Ketika seorang perawat membawa bayi keluar, dia mengatakan kepada angkasa untuk mengadzani anaknya. Namun, Angkasa menolak karena dia bukanlah ayah dari bayi itu.
"Lalu, apakah anda bisa menghubungi ayahnya?" tanya sang suster.
__ADS_1
Angkasa menggeleng karena dia tidak tahu siapa suami wanita itu. Setelah itu, sang perawat pergi membawa bayi itu pergi ke ruangan bayi.
Di dalam ruangan operasi, Jingga masih fokus pada proses penjahitan lapisan perut. Setelah dua jam lamanya, akhirnya operasi selesai.
"Kalian selesaikan sisanya, karena saya masih banyak pekerjaan."
" Baik Dokter Jingga, terimakasih bantuannya," seru para tim medis yang berada di ruangan operasi.
Melihat lampu operasi off, dan seorang Dokter keluar dari ruangan operasi. Membuat Angkasa segera berlari ke arah Dokter itu.
" Bagaimana operasinya, Dokter Jingga?" tanya Angkasa saat melihat Dokter itu adalah Jingga.
" Berjalan dengan lancar. Bukankah sudah melihat putri Anda ?"
" Putri?" ulang Angkasa. Untung saja dia cepat tanggap jadi mengerti kalau Jingga sedang salah paham.
Angkasa tersenyum." Saya bukan suaminya jadi anak itu bukan putri saya," ujar Angkasa. Dia tidak mau Jingga salah paham kalau Angkasa adalah suami dari wanita yang ditolongnya.
"Jika Anda bukan suaminya, lalu kenapa masih berada di sini sampai operasi selesai?" tanya Jingga yang masih curiga kalau pria itu berbohong.
"Saya__ hanya ingin memastikan kalau orang yang saya tolong selamat."
Jingga mengerutkan keningnya saat mendengar pria itu tidak mengakui bahwa wanita yang ada di dalam ruangan operasi adalah istrinya. lagipula itu bukan urusannya juga. Jadi, dia berpura-pura percaya saja dengan perkataan pria itu, kemudian berlalu pergi karena Jingga masih memiliki banyak pasien yang harus di periksa.
"Apa masih ada masalah?" Jingga berusaha melepaskan tangan angkasa.
"Bolehkah kita berkenalan dulu," Angkasa mengulurkan tangannya, namun Jingga tidak merespon.
"Bukankah Anda tadi sudah tahu nama saya! Jadi, tidak perlu berkenalan lagi. Maaf saya masih banyak pekerjaan!" Jingga berlalu pergi meninggalkan Angkasa.
" Namaku Angkasa Hanjaya," teriak Angkasa saat melihat Jingga kembali mengabaikannya.
" Tuan, jangan teriak-teriak di rumah sakit," nasehat Asisten Lim.
Mendengar Angkasa yang berteriak demi memperkenalkan dirinya, membuat Jingga geleng-geleng kepala.
Apa pria itu sudah gila?! Batin Jingga.
Kemudian, dia terus berjalan menuju ruangannya. Saat melihat antrian pasien yang semakin panjang, membuat Jingga menghembuskan nafas kasar. Sepertinya pekerjaannya akan selesai lebih lama dari jadwalnya.
Setelah Jingga masuk ke dalam ruangannya, seorang perawat yang membantu Jingga mulai memanggil satu persatu pasien untuk masuk ke dalam ruangan.
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
Di tempat lain, terlihat sepasang pengantin baru sedang berjalan - jalan mencari makanan untuk mengisi perut mereka. Karena sudah sangat lapar sekali, Elia kalap dan memesan begitu banyak makanan.
Simon yang melihat hal itu sedikit terkejut dan geleng-geleng kepala.
"Apakah mbak sangat kelaparan sampai memesan begitu banyak makanan?"
"Energi ku sudah terkuras habis karena terus-terusan dia ajak olah raga panas tanpa henti. Jadi, aku butuh asupan energi yang banyak!" ungkap Elia seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Jika energinya sudah penuh kembali, apakah sudah siap tempur lagi, Sayang?" goda Simon.
Seketika bola mata Elia terbuka lebar. Dia tak habis pikir dengan suaminya ini yang tak kenal lelah.
"Simon, apakah kamu tak lelah?" aku saja sudah sangat remuk badanku!"
Simon menggeleng karena rasa candunya jauh lebih besar.
Elia hanya bisa menghembuskan nafas panjang." Jangan terus menerus, nanti kamu akan cepat bosan denganku! " Elia mencoba mencari alasan agar dia bisa libur sebentar.
" Aku tidak akan bosan denganmu, sayang." Simon mengecup punggung tangan Elia.
" Saat ini kamu masih bisa bicara seperti itu, tapi__" Simon segera membungkam bibir Elia dengan telunjuknya.
"Jangan pernah berpikiran tentang sesuatu yang belum jelas akan terjadi. Kita nikmati saja kebahagiaan kita saat ini. Aku berharap pernikahan kita bisa langgeng sampai maut yang memisahkan. Jadi, stop berpikiran buruk lagi, Oke!"
Elia terdiam saat menatap mata Simon yang terlihat marah saat mendengar Elia berbicara seperti itu. Sebenarnya Elia juga berharap bahwa pernikahannya kali ini adalah yang terakhir dan bisa langgeng selamanya. Dia tak ingin gagal lagi, sudah cukup sekali saja.
"Maaf, aku hanya__"
"Sudah ya, tidak perlu di bahas lagi. Kita berdoa dan berandai yang baik-baik saja karena setiap ucapan adalah doa."
Elia mengangguk.
"I love you, Sayang."
Simon tersenyum. "I Love you more, Sayang."
Entah kenapa Simon mudah sekali luluh saat Elia mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Mungkin, karena selama ini hanya dia yang selalu mengungkapkan itu terlebih dulu. Jadi, ketika mendengar Elia mengucapkan kata I Love you lebih dulu, langsung membuat hati Simon terenyuh.
Jujur, setelah menikah rasa cinta Simon jauh lebih besar kepada Elia dari sebelumnya. Bahkan dia sangat takut sekali kehilangan wanita itu. Simon berharap bahwa Elia adalah cinta pertama sekaligus terakhir baginya. Bisa terus bersamanya merupakan anugerah terindah bagi Simon.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1