Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
bab 23


__ADS_3

“Kenapa mulutmu itu manis sekali! Jika bertemu akan selalu mengatakan cinta, tapi tiba-tiba menghilang entah kemana!” gerutu Jingga yang sudah melepaskan pelukan Angkasa.


Angkasa tersenyum mendengar Jingga menggerutu soal dirinya


yang tak ada kabar, itu menandakan bahwa Jingga sudah mulai merindukan


kehadirannya. Ingin sekali Angkasa memeluk Jingga, tapi sikap galaknya


sudah kembali lagi. Dari raut wajahnya yang dingin, seakan menuliskan bahwa jangan di sentuh!


“ Jangan suka main peluk-peluk tanpa izin!” ketus Jingga yang sedikit memundurkan langkahnya agar menjauh dari Angkasa. Jingga tak bisa jika Angkasa terus memeluknya, karena jantungnya akan berdetak lebih hebat, tapi ada rasa nyaman juga.


“  Kenapa kamu begitu galak padaku! Awas nanti jatuh cinta,” goda Angkasa.


“ Cih, mana mungkin aku jatuh cinta sama pria takut sama pistol!” elak Jingga dengan membuang mukanya.


Angkasa terdiam ketika Jingga kembali membahas tentang dia yang takut pistol. Ingatan kejadian masa lalu kembali terlintas, Angkasa memang punya trauma ketika mendengar suara


pistol, dia akan terdiam dan ketakutan. Trauma itu akibat kejadian di masa remajanya. Sebenarnya bukan hanya Jingga saja yang memiliki trauma, tapi Angkasa juga, bahkan kejadian yang menimpanya jauh lebih menakutkan dan mengerikan.


Melihat, Angkasa yang tiba-tiba terdiam dengan wajah pucat, membuat Jingga merasa bersalah.


“ A, kamu kenapa?” tanyanya yang mencoba mendekat.


“ Em” Angkasa tersadar dari lamunannya ketika Jingga menyentuh  lengannya.


“ Kita segera masuk ke kapal saja,. sebelum mereka menemukan keberadaan kita yang masih ada di sini,” Angkasa berjalan lebih dulu, dan Jingga mengekor di belakangnya.


Angkasa naik ke atas kapal terlebih dahulu, lalu membantu Jingga


untuk naik ke atas kapal. Setelah mereka naik, kapal pun berjalan mengarungi


lautan yang begitu indah pemandangannya. Angin sepoi-sepoi yang begitu menenangkan menerpa wajahnya. Jingga memejamkan matanya untuk menikmati kenyamanan ini sejenak. Lalu, dia menoleh ke Angkasa yang berbaring di kursi pantai dengan mata terpejam.


Apakah dia tertidur? Jingga berjalan menghampiri Angkasa dan duduk di kursi kosong di samping kursi Angkasa.


Jika di perhatikan lagi dia memiliki wajah yang tampan, kulit putih, hidung mancung, alis tebal, dan bibir merah alami.


Astaga Jingga sadar!!! kenapa kamu jadi terlihat seperti sedang mengaguminya begini. Batin Jingga dengan menepuk pipinya agar sadar.


untung dia tertidur, andai saja tahu,


bisa malu aku kalau ketahuan menatap wajahnya.


Karena merasa kelelahan habis bertarung hebat, Jingga ikut membaringkan tubuhnya, dan tertidur. Ketika kapal mereka telah sampai, seorang pengawal mencoba membangunkan Angkasa mengatakan bahwa mereka sudah sampai.


“  Kita sudah sampai, Tuan,” ucap seorang pengawalnya.

__ADS_1


Angkasa terbangun, ketika melihat Jingga yang masih tidur terlelap membuatnya tersenyum.


“ Apakah saya harus membangunkan nona juga,?” tanya pengawal  itu.


“ Tidak perlu.”


Karena tidak tega untuk membangunkannya, Angkasa menggendong Jingga untuk turun dari kapal menuju vila. Bukannya bangun, Jingga justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Angkasa. Hal itu membuat Angkasa tersenyum bahagia.


“ Andai ketika kamu bangun juga seperti ini, pasti akan jauh lebih indah. Tapi, aku juga suka kamu yang galak karena menggemaskan."


Sesampainya di kamar, angkasa menurunkan tubuh Jingga secara


perlahan agar dia tidak terbangun. Saat Angkasa ingin beranjak pergi, tiba-tiba


Jingga memeluknya seperti guling. Kini posisi mereka sangat intim, ketika


Angkasa ingin melepaskan diri, Jingga justru semakin mengeratkan pelukannya .


“ Apa kamu sedang mengujiku, huh? Jika kamu bangun, jangan salahkan


aku  karena kamu dulu yang memelukku


seperti guling!” decak Angkasa.


Karena Angkasa juga masih mengantuk, terpaksa dia tertidur juga. Apalagi ada yang memeluknya seperti ini sangat menenangkan, akhirnya mereka tidur saling berpelukan.


...☘️☘️☘️...


“ Kamu menghilang ke mana lagi sih, Ngga?” karena tetap tak bisa menghubungi Jingga, Elia mencoba menghubungi Angkasa. Siapa tahu mereka sedang bersama, namun Angkasa tak menjawab panggilan dari Elia, membuatnya semakin panik.


“ Kamu kenapa sih sayang? Kok mondar-mandir terus?” tanya


Simon yang baru turun ke lantai bawah.


“ tau tu mami, acy  campai


pucing liatnya!” gerutu Arsy yang sejak tadi ikut pusing melihat maminya mondar-mandir tidak jelas.


“ Itu, aku khawatirkan Jingga sampai sekarang dia belum sampai rumah


juga. Padahal tadi bilangnya mau pulang cepat, biar bisa makan malam bersama. Terus di hubungi nomornya juga nggak aktif lagi."


“ Mungkin masih ada urusan! Coba telepon Angkasa, dia kan jago


melacak lokasi orang. Siapa___"


“ Aku sudah hubungi juga, tapi nggak diangkat. Ini gimana, dong?” potong Elia sebelum Simon menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


“ Oh, MaNgga ilang lagi? Kenapa MaNgga cuka cekali menghilang, cih?” decit Arsy yang masih terdengar oleh Simon dan Elia.


Apa yang di ucapakan Arsy ada benarnya, kenapa sekarang Jingga suka menghilang tiba-tiba tanpa kabar. Andai bilang dulu, pasti Elia tidak akan khawatir. Tapi, yang Namanya menghilang untuk apa bilang? Itu mah Namanya


pamit, kalau bilang. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.


..., ☘️☘️☘️...


Di sebuah kamar, terlihat seorang wanita cantik mulai mengerjapkan matanya, dia terbangun karena merasa karena merasa lapar. Ketika sepasang mata indah itu terbuka, dia sangat terkejut melihat ada wajah pria di depannya, membuat Jingga reflek menendang pria itu sampai jatuh menggelinding dari ranjang.


Buk


Suara tubuh jatuh dari atas ranjang, Angkasa langsung terbangun ketika merasakan bahwa tubuhnya di tenang sampai terjatuh. Sedangkan Jingga sudah meringkuk di atas Kasur dengan mengecek bajunya yang untungnya masih utuh tak terbuka sedikitpun.


“ Hei A, apa yang sudah kamu lakukan padaku, huh? Di mana ini? Kenapa kita bisa tidur seranjang?” Jingga langsung menghujani berbagai macam


pertanyaan kepada Angkasa.


Angkasa masih memegang tubuhnya  yang sakit semua akibat terjatuh dari


ranjang, lalu mencoba untuk duduk.


“ Kenapa kamu menendangku, kan sakit!” keluh Angkasa yang masih memegang tubuhnya yang terasa sakit.


“ Ya habisnya__”


“ Habisnya kenapa? Apakah kamu lupa atau hilang ingatan!? ”tukas Angkasa.


“ Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Jingga yang tak paham dengan ucapan Jingga.


" Hei, Dokter Jingga pramudita yang cantik, apakah kamu tidak sadar bahwa kamu sendiri yang memelukku seperti bantal guling? Bahkan kamu


mengacak-acak rambutku, lalu menciumku juga, Apakah kamu lupa dan tak mau tanggung jawab? Ah, jangankan tanggung jawab, kamu justru menendang ku sampai jatuh kelantai!” gerutu A.


Jingga terdiam dan mencoba mengingat, apakah benar dia melakukan hal itu? Tapi kenapa dia tak ingat sama sekali?


“ Pasti kamu bohong, kan?” tuduh Jingga.


“ Bua tapa aku berbohong, huh? Meskipun aku mencintaimu sampai tergila-gila. Aku masih pria terhormat yang tak akan menyentuh wanita


tidur untuk mengambil keuntungan. Justru kamu yang mengambil banyak keuntungan."


“ Maaf, tapi aku tidak sadar, apakah sakit?” tanya Jingga yang merasa sedikit kasihan.


“ Kalau iya kenapa? Apakah kamu mau memijatku, atau mau menjadi


istriku?” goda Angkasa

__ADS_1


" Dasar! Dalam kondisi seperti ini masih bisa bercanda! Dasar tukang cari kesempatan dalam kesempitan!" cicit Jingga.


...****************...


__ADS_2