
" A, kamu yakin sudah tidak perlu di rawat lagi?" tanya Jingga mencoba untuk memastikan kembali.
"Iya sayang, aku sudah baikan kok," jawab Angkasa sembari merapikan pakaiannya.
Hari ini, Jingga akan pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Runi pasca operasi karena dia adalahDokter Obygnnya. Awalnya Jingga mau pergi sendiri, namun A memaksa ingin ikut. Dia juga ingin menjenguk sahabat Jingga sekaligus bayinya.
Sebelum pergi, Angkasa ingin mengajak Jingga untuk melihat bagaimana kondisi Papa Angkasa.
Sesampainya di depan ruangan Papa Angkasa, tiba-tiba Jingga menghentikan langkahnya.
" A, sepertinya aku tidak usah ikut masuk dulu, ya ...." pinta Jingga dengan wajah memohon. Sebenarnya, Jingga masih belum siap jika harus bertemu dengan Papa Angkasa hari ini. Namun, Angkasa tetap bersikeras mengajak Jingga untuk segera bertemu dengan keluarganya.
" Nggak usah takut, Papa aku bukan harimau yang akan memakan kamu kok! Jadi, tenang saja oke!" Angkasa mencoba meyakinkan Jingga.
" Lagian kita akan segera menikah. Jadi, harus bertemu dengan keluarga, mumpung kakakku juga katanya sudah datang," ungkap Angkasa.
Jingga masih terdiam, awalnya dia biasa-biasa saja. Tapi, setelah mengetahui bahwa Angkasa adalah anak dari orang terkaya di kota ini, membuat nyali Jingga menciut.
__ADS_1
Banyak sekali pikiran-pikiran negatif menari-nari di kepalanya. Dia takut jika di tanya tentang keluarganya, akankah keluarga Angkasa bisa menerima dirinya? Karir Jingga memang bagus, tapi kondisi dan silsilah keluarganya yang kurang bagus. Karena, biasanya orang-orang kaya banyak yang sangat memikirkan bibit, bobot, dan bebet.
" A ...," lirih Jingga.
"Iya, kenapa?" tanya Angkasa dengan tatapan lembut.
Melihat tatapan lembut dari Angkasa membuat Jingga menjadi tidak enak jika terus menolak. Jingga menutup matanya, lalu menghembuskan nafas panjang.
" Ayolah, aku siap!" tukas Jingga yang di sambut senyuman bahagia oleh Angkasa. Jingga mencoba memberanikan diri, toh dia juga akan tetap harus bertemu dengan keluarga Angkasa. Jadi, sekarang atau nanti sama saja, sama-sama akan bertemu juga. Semoga apa yang ada di dalam pikirannya tidak benar.
Ketika pintu terbuka, memperlihatkan Kakak perempuan A bersama anak dan suaminya sedang menemani Hendra.
Angkasa membalas pelukan hangat dari sang kakak yang sangat ia rindukan.
Sedangkan Jingga berdiri di belakang punggung Angkasa. Jingga yang biasanya di kenal sebagai wanita pemberani, seketika menjadi wanita gugup hanya karena bertemu calon mertua dan calon kakak ipar.
" Bagaimana kondisimu? Katanya kamu juga terluka," ucap Kakaknya seraya meneliti tubuh Angkasa yang terlihat baik-baik saja jika dari luar.
__ADS_1
" Seperti yang kakak lihat, aku sudah baik-baik saja," ucap Angkasa agar kakak perempuannya itu khawatir.
" Maaf kakak belum sempat menjenguk kamu, karena baru saja saja sampai," jelas Safwana dan diangguki oleh Angkasa.
Safwana Hanjaya memang tinggal di luar Negeri, ketika mendengar kabar bahwa Papa dan adiknya terluka, dia segera terbang ke Indonesia, dan baru saja sampai. Awalnya dia akan menjenguk Angkasa, seusai melihat kondisi Papanya. Namun, Angkasa sudah datang ke kamar Papanya terlebih dahulu.
" Ini siapa?" tanya Safwana tatkala menyadari bahwa Angkasa tidak datang sendiri.
Melihat Jingga yang hanya diam berdiri di belakangnya, membuat Angkasa segera menghampirinya. Lalu memegang kedua pundak Jingga, membawanya untuk berkenalan dengan keluarganya.
" Perkenalkan, dia Jingga Pramudita calon istriku," ucap Angkasa dengan senyuman manis.
" Calon istri?" ulang Safwana dengan nada terkejut. Dia masih belum percaya, mendengar Angkasa tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita dengan status calon istrinya.
Angkasa mengangguk. Kemudian Jingga menyapa dengan menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat.
Sebenarnya bukan hanya Safwana yang terkejut, tapi semua keluarganya. Apalagi Hendra yang terus memberi tatapan selidik ke arah Jingga.
__ADS_1
Apakah A sedang bercanda? Batin Hendra.
...****************...