Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 13


__ADS_3

Malam yang penuh dengan kejadian tak terduga telah hilang, tergantikan dengan pagi yang akan menulis cerita baru. Di dalam kamar yang begitu mewah, terlihat wanita cantik yang mulai mengerjapkan matanya. Matanya terasa lengket sekali untuk dibuka, begitu juga dengan kepalanya yang terasa sangat berat. 


Jingga memegang kepalanya, dan terus berusaha membuka sepasang mata cantiknya. Ketika sepasang mata nan indah itu telah terbuka, Jingga mulai menelisik ke ruangan itu. Menyadari bahwa dia tak sedang berada di dalam kamarnya, membuat Jingga terkejut. Lalu melihat pakaiannya, apakah masih utuh atau tidak, dan ternyata masih utuh hanya kancing bajunya saja yang sedikit terbuka. Namun, tak ada tanda-tanda merah atau apapun di sana. 


Jingga merasa lega, setidaknya tidak terjadi apapun pada tubuhnya. Tapi, Jingga tetap merasa bingung kenapa dia bisa ada di ruangan ini? Jingga mencoba mengingat-ingat lagi kejadian semalam, tapi hanya ada ingatan saat dia sedang dinner bersama rekan kerjanya. Setelah itu, Jingga tak mengingat apa-apa lagi. 


Apa mungkin  ini tempat tinggal  Lili? Ah … bukannya Lili mengatakan bahwa dia tinggal di kos? Jika dilihat dari dekorasi kamar ini sangatlah mewah, pasti pemiliknya orang kaya. Jadi, pasti bukan dia, tapi siapa?  Jingga masih terus brperang dengan pikirannya sendiri.


Daripada  hanya diam di atas kasur, namun tak kunjung mendapatkan jawaban tentang siapa yang membawanya. Jingga memilih untuk keluar dari kamar itu, siapa tahu dia bisa mengetahui siapa yang membawanya ke tempat ini. 


Ketika Jingga keluar dari kamar, sepasang matanya terbelalak tatkala melihat ada seorang pria sedang memasak di dapur. 


Jingga menempel pada pintu, lalu mengintip kembali ke dapur. 


Siapa pria itu? Apa jangan-jangan ini tempat tinggal seorang pria? Tapi, siapa dia? 


Jingga mengingat-ingat kembali, namun dia tak mengenali bentuk tubuh pria yang sedang memasak di dapur.


"Apa jangan-jangan ___" tiba-tiba Jingga mengingat pria misterius yang beberapa hari ini mendekatinya.


Saat ini, tubuh Jingga sedang dalam kondisi kurang vit. Jika dia menghajar pria itu, sepertinya tidak mungkin. Dia pasti akan kalah jadi Jingga memilih untuk pergi diam-diam saja. Baru saja berjalan dua langkah, pria itu menyadari kalau Jingga sudah bangun. 


"Kamu sudah bangun?" ujar Angkasa yang masih sibuk dengan masakannya. 


"Kamu siapa? Kenapa aku ada disini? Jangan-jangan ___" 


"Mandilah terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu di dalam paper bag itu. Setelah mandi baru kita bicara," potong Angkasa.


Jingga merasa kesal diperintah dengan orang asing, karena sudah terlanjur ketahuan kalau dia sudah bangun. Jingga memutuskan untuk menghampiri pria itu, dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa dia.


Sepasang bola mata Jingga, membulat sempurna ketika mengetahui siapa pria itu. 


"Kamu!" tunjuk Jingga di depan wajah Angkasa.

__ADS_1


"Good morning Dokter cantik," sapa Angkasa dengan senyum manisnya. 


"Kenapa kamu bisa ada di sini ? Dan___" Tiba-tiba kepala Jingga terasa pusing kembali. 


"Kamu kenapa?"


Ketika Angkasa ingin menyentuhnya, Jingga segera menepis tangan Angkasa. Lalu mundur beberapa langkah agar tak terlalu dekat dengan Angkasa. Entah kenapa kepalanya terasa begitu pusing serta tubuhnya juga sangat lemas. Seperti orang yang kekurangan energi dan dehidrasi. Padahal, Jingga selalu mengatur pola makan dan minumnya.


" Makanya kamu mandi dulu, biar tubuhmu segar!" pungkas Angkasa. 


" Aku tak butuh itu!" ketus Jingga. Karena kepalanya terasa sangat pusing, Jingga ingin segera pergi dari penthouse itu. Tapi, langkahnya terhenti karena Angkasa mencekal tangannya. 


"Lepaskan tangan saya," lirihnya. Saat ini, Jingga tak terlalu mempunyai banyak tenaga. Jadi, dia hanya bisa meminta Angkasa melepaskan tangannya dengan pelan. Andai dia dalam kondisi baik-baik saja, mungkin Angkasa sudah menjadi samsak tinjunya. 


"Kamu mau ke mana?" 


Jingga menghembuskan nafas kesal. "Tentu saja pulang!" 


" Kamu bukan ___" 


Melihat Jingga yang kerasa kepala, terpaksa Angkasa langsung menggendong Jingga seperti karung beras. Jingga berusaha untuk turun dan memukul tubuh Angkasa, namun tenaganya tak seberapa. Jadi Angkasa pasti tak akan merasakan sakit ketika mendapatkan pukulan dari Jingga. 


Sesampainya di depan kamar mandi, Angkasa segera menurunkan tubuh Jingga.


"Mandilah, atau mau aku yang mandikan?" goda Angkasa. 


Jingga mengerutkan keningnya, ingin sekali dia merobek mulut Angkasa yang enteng sekali berbicara seperti itu. Dengan sisa tenaganya, Jingga mencoba untuk menendang titik sensitif Angkasa, tapi  Angkasa dengan cepat menghindar. Jingga merasa kesal, dia ingin keluar dari ruangan itu, tapi Angkasa langsung mengunci pintu kamar secara otomatis dari ponselnya. 


Pintu dan jendela di penthouse milik Angkasa memang memiliki sistem kunci otomatis. Cukup mengendalikannya lewat ponsel saja, sudah bisa membuat pintu terkunci dan tidak bisa dibuka. Jingga terus berusaha membuka pintu itu, namun tak kunjung bisa. Kemudian, dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Angkasa. 


"Bukakan pintunya, atau ___" raut wajah Jingga sudah terlihat sangat marah. 


"Atau apa? Tubuhmu saja sedang lemas seperti itu, apa yang bisa kamu lakukan padaku? Menurutlah jika tidak ingin sesuatu yang tidak kamu harapkan terjadi!" ancam Angkasa dengan wajah serius. 

__ADS_1


Melihat wajah  Angkasa yang terlihat dingin dan serius, membuat Jingga sedikit merinding. Padahal biasanya, dia tak pernah takut dengan siapapun. Tapi, kali ini dia benar-benar tak mampu jika harus berkelahi dan melawan. Tubuhnya benar-benar sudah hampir kehabisan energi. 


Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku jadi lemah seperti ini? Bahkan saraf dan otot dalam tubuh ini juga ikut semakin melemah. Tiba-tiba tubuh Jingga jatuh ke lantai, membuat Angkasa panik.


"Jingga kamu kenapa?" tanya Angkasa seraya menepuk pipi Jingga pelan. Melihat Jingga yang tak ada reaksi apapun dan hanya mengedipkan mata, membuat Angkasa semakin panik. Tanpa berlama-lama, Angkasa langsung langsung menggendong tubuh Jingga naik ke atas kasur. 


Ingin rasanya Jingga memberontak, namun tubuhnya sudah tak bisa digerakkan sama sekali, seperti lumpuh seketika.


"Aa …," bahkan pita suaranya juga seakan ikut tak berfungsi lagi. 


Melihat kondisi Jingga yang semakin. mengkhawatirkan, membuat Angkasa segera menelpon temannya yang juga seorang Dokter. 


"Halo, Don. Aku butuh bantuan mu, cepatlah datang ke penthouse ku dan bawa semua alat medis mu!" titah Angkasa kepada seseorang di ujung telepon. 


"Ah, aku belum bisa …" Terdengar suara ******* di sana. Membuat Angkasa geleng-geleng kepala. Masih sepagi ini, temannya sudah main cangkul mencangkul. 


" Apabila dalam waktu 15 menit kamu tidak datang juga, akan kucabut semua investasi pada proyek ilmiahmu itu!" ancam Angkasa, lalu mematikan telepon. 


"Angkasa … hei! Jangan gila kamu!" teriak Doni, namun panggilan sudah di matikan oleh Angkasa. 


"Kurang ajar Angkasa!" umpat Doni.


"Ada apa baby?" tanya seorang wanita yang sedang berada di bawah kungkungan Doni. 


Hasrat Doni yang tadinya menggebu-gebu, seketika hilang. Doni mencopot pisang ambon miliknya, membuat sang kekasih merasa kesal. 


" Don, kita kan belum selesai!" teriak kekasih Doni karena di tinggal saat permainan belum selesai. 


" Kita lanjut nanti saja, ada keadaan darurat!" pungkas Doni yang sudah berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Angkasa memang suka sekali semena-mena. Andai saja dia bukan sahabat sekaligus investor penelitian ilmiahnya. Mungkin Doni tak akan sudi menuruti perintah pria gila itu. 


...****************...


Jangan lula like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2