
Ini kawasan untuk yang sudah punya suami, yang belum author nggak tanggung jawab ya ... Kalau sedikit hareudang.
...☘️☘️☘️...
Saat Jingga ingin membalikkan badannya, seperti ada sesuatu yang menyentuh gunung kembar miliknya.
" A, apa itu?" tanya Jingga.
Bukannya menjawab pertanyaan Jingga, Angkasa justru menciumi punggung putih istrinya yang membuat sang empu meremang.
Ada sensasi aneh yang di rasakan oleh Jingga saat Angkasa meraba dan menciumi tubuhnya.
" Sayang, boleh, kan? "bisik Angkasa sembari menciumi leher jenjang Jingga.
" A ... Apakah harus di si_ni? " suara Jingga menjadi terbata-bata dengan dada yang gemuruh dan mata tertutup. Ada rasa merinding, panas, tapi nagih juga. Entahlah, rasa itu sangat sulit untuk di deskripsikan dengan kata-kata.
Angkasa tak menjawab pertanyaan Jingga, karena dia sudah fokus dengan permainan panasnya. Angkasa membalikkan tubuh Jingga agar menghadap ke arahnya. Dia langsung meraup bibir Jingga yang sudah menjadi candu baginya. Jingga pun membalas ciuman yang di berikan oleh suaminya. ******* yang semula lembut, kini semakin memanas akibat ga*irah yang terus memuncak.
Karena baru pertama kali, tidak mungkin mereka melakukannya dengan posisi berdiri di dalam kamar mandi. Sehingga membuat Angkasa menggendong tubuh Jingga seperti koala tanpa melepas pagutan mereka.
Angkasa meletakkan tubuh Jingga perlahan di atas kasur, nafasnya terdengar memburu dengan mata yang berselimut kabut ga*irah.
__ADS_1
" Sayang, I love you."
" Love you too suamiku," jawab Jingga.
Kini, mereka melanjutkan kembali permainan yang sempat tertunda sebentar. Saat Angkasa menciumi setiap inci tubuhnya, membuat Jingga menggelinjang tak karuan. Saat ini, bukan hanya Angkasa saja yang sudah di puncak ga*irah, tapi Jingga juga.
" A ...," de*sah Jingga saat Angkasa memainkan segitiga bermuda miliknya.
" Boleh masuk, kan?" tanya Angkasa yang di jawab sebuah anggukan oleh Jingga. Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, membuat Angkasa semakin bersemangat.
" Nanti kalau sakit, bilang ya," ucap Angkasa sebelum memasukkan si juju kebanggaannya.
Malam itu, benar-benar menjadi saksi penyatuan cinta mereka berdua. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya, meskipun sama-sama pemula, tapi mereka bisa melakukannya hanya dengan insting masing-masing.
" Terimakasih sayang," ucap Angkasa sembari mengecup kening istrinya. Sedangkan Jingga sudah tertidur pulas akibat kecapekan bermain beberapa ronde.
...☘️☘️☘️...
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, terlihat sepasang ibu dan ayah baru tengah adu argumen untuk mengurus bayinya.
" Ren, Caka sebenarnya anak kita berdua apa anak aku sendiri, sih?" tanya Runi pada Reno yang masih tertidur dengan memeluk bantal guling.
__ADS_1
" Anak kita berdua lah, orang bikinnya juga berdua!" jawab Reno dengan mata yang masih terpejam.
" Kalau gitu tolong kamu gantiin aku gendong Caka dong," ujar Runi yang sudah sangat kelelahan.
" Aku masih ngantuk sayang," jawab Reno yang semakin mengeratkan pelukannya pada guling.
" Kamu kira, aku nggak ngantuk, apa? Bahkan aku belum tidur sejak semalam!" ketus Runi yang sudah sangat kelelahan akibat Caka sedikit rewel malam ini.
" Ya ... Sebentar lagi!" ulur Reno.
Runi yang sudah pusing, lemas, mengantuk, capek, segera membangunkan Reno dengan kasar.
" Katanya anak berdua, tapi kenapa tidak mau membantu mengurusnya!" bentak Runi.
" Iya ... Iya," ujar Reno segera bangun dan mengambil Caka dari gendongan Runi. Setelah itu, giliran Runi yang tertidur. Dia benar-benar sudah kehabisan tenaga akibat tidak tidur semalaman.
Reno yang masih mengantuk, berusaha keras untuk membuka matanya. Tak lama kemudian, Caka sudah terlihat tertidur pulas, membuat Reno segera meletakkannya pada box bayi. Lalu, dia melanjutkan tidur kembali di samping sang istri.
...****************...
Maaf hanya segitu saja, kalau kurang hareudang cari suami masing-masing ya... Bye... Mau kabur lagi.
__ADS_1