
Ketika berjalan menyusuri koridor, banyak sepasang mata yang memperhatikan ke arah Jingga dan Angkasa. Ada beberapa juga yang menyapanya.
" Eh, itu pacarnya Dokter Jingga, ya?" bisik seorang perawat pada temannya.
" Sepertinya sih, iya. Kalau bukan kekasihnya nggak mungkin lah pegangan tangan sudah kayak mau nyebrang jalan nggak lepas sama sekali! ." hihi...
" Bukan mau nyebrang jalan, tapi takut pacarnya bakalan hilang kalau tidak di gandeng, soalnya ganteng dan masih muda, sih! "
" Sepertinya Dokter Jingga memang suka yang imut-imut. "
Mendengar bisikan dari perawat itu, membuat Jingga kembali memperhatikan wajah dan penampilan Angkasa.
" Ada apa sayang? Apakah ada yang salah? "tanya Angkasa saat melihat Jingga menatapnya dengan aneh.
" Apakah penampilanku terlihat tua? "
Angkasa tersenyum, lalu menggeleng.
" Kamu masih cantik kok!"puji Angkasa.
Jingga memutar bola matanya malas saat mendengar jawaban pujian Angkasa yang tidak sesuai dengan pertanyaan.
Apakah aku harus dandan ala-ala gadis imut, biar tidak terlihat lebih dewasa? Perasaan hanya beda setahun deh, tapi wajah Angkasa memang terlihat imut dan ganteng sih! Batin Jingga dalam hati.
MaNgga bucinnya mulai keluar ya ...
Sesampainya di kamar Runi, Jingga seketika di kejutkan dengan Reno yang tengah mencoba menenangkan Runi.
" Run, kamu kenapa?" tanya Jingga saat melihat Runi yang terus menangis tanpa henti.
__ADS_1
Melihat Jingga datang bersama dengan Angkasa, membuat Runi semakin menangis.
Hu .... Hu ... Hu ...
Apakah runi mengalami baby blues?
Jingga mencoba mendekati Runi dan memeluknya. Dia jadi merasa bersalah karena baru datang sekarang untuk menjenguk.
" Sudah ya, jangan nangis lagi. Kamu cerita sama aku ada apa?" tanya Jingga yang masih memeluk Runi.
Setelah merasa tenang, Runi baru bercerita dan menanyakan kenapa Jingga tidak memberitahu dia tentang kondisi bayinya yang sebenarnya. Mendengar ucapan Runi, membuat Jingga tahu apa penyebab sahabatnya itu menangis seperti tadi.
" Maaf ya, Run. Aku hanya tidak mau kamu stres jika tahu bagaimana kondisi bayimu," jelas Jingga.
"Bukankah sekarang juga sama? Aku sedih sekaligus merasa gagal menjadi ibu karena tidak tahu bahwa putranya sedang___" tenggorokan Runi seakan tercekat ketika mengingat kembali bagaimana kondisi bayinya saat ini.
Jingga menakup wajah Runi dan menatapnya lekat-lekat.
" Runi, sekarang kamu adalah seorang Ibu. Kamu harus jauh lebih kuat agar putramu juga ikut kuat. Ingat, kamu masih dalam masa pemulihan jadi jangan terlalu stres nanti akan memperlambat proses penyembuhan luka pasca operasi, sekaligus akan mempengaruhi produksi asi. "
" Apakah kamu ingin melihat bayimu tidak tercukupi kebutuhan asinya? "tanya Jingga guna menyemangati Runi.
Runi menggeleng, tentu saja dia tidak ingin itu terjadi. Karena itu adalah makanan pokok bayinya sekarang, sekaligus bisa membentuk antibodi kekebalan tubuh bayinya agar jauh lebih kuat terhadap virus.
" Kalau begitu, tenanglah. Menangis tidak akan bisa menyelesaikan masalah," pungkas Jingga.
Runi mengangguk, membuat Reno, dan Jingga bernafas lega. Jingga sudah sering melihat kondisi seorang Ibu yang mengalami hal serupa ketika mengetahui anaknya mengalami masalah, karena dia memang Ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan lebih. Jadi, pantas saja mereka khawatir, cemas dan mudah stress.
Orang yang mengalami hal seperti ini, harus mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Karena kondisi hormon mama baru, masih belum stabil.
__ADS_1
Angkasa semakin merasa kagum dengan calon istrinya ini, dia benar-benar wanita yang istimewa. Tidak salah jika Angkasa sangat mencintainya.
Setelah itu, Jingga mengupaskan buah-buahan untuk Runi. Dia juga memberikan penjelasan terkait penyakit bayinya. Meskipun Jingga bukanlah spesialis anak, tapi dia masih mengerti.
" Ji, Apakah dia masih ada harapan untuk sembuh?" tanya Runi.
" Tentu saja, dengan bantuan obat-obatan, perawatan yang tepat, dan atas ijin Tuhan. Jadi, banyaklah berdoa semoga putra kita di beri kekuatan agar bisa sembuh layaknya bayi-bayi lainnya."
" Makasih ya, Ji ..., " Runi memeluk Jingga sekali lagi.
" Tapi aku jadi iri sama kamu, " rengek Runi yang mulai drama.
" Iri kenapa? "tanya Jingga yang tak mengerti maksud Runi.
" Ya, aku yang hamil lebih dari sembilan bulan. Tapi, kamu yang pertama kali menggendongnya. "
Jingga tersenyum," Tentu saja, bukankah itu sesuai keinginamu? "
" Iya, sih! " Dari awal hamil, Runi memang ingin melahirkan di bantu oleh Jingga. Setidaknya, orang pertama yang menggendong bayinya adalah mama angkatnya.
Ketika menyadari bahwa Jingga sudah memakai cincin berlian, membuat Runi jadi kepo lagi dengan hubungan Angkasa dan Jingga yang sebenarnya.
" Oh ya, jadi kalian___" tanya Runi sembari menatap ke arah Angkasa dan Jingga bergantian.
" Kita akan menikah!" jawab Jingga tanpa malu-malu lagi.
Runi kembali memeluk Jingga. " Selamat ya ... Akhirnya si perawan tua menikah juga," ledek Runi yang membuat Jingga merasa kesal karena di katakan perawan tua. Setidaknya masih ada kabar bahagia, di tengah-tengah kesedihannya.
Jingga segera mengurai pelukannya. " Apa maksudmu perawan tua, huh? Apakah aku sudah tua? "
__ADS_1
Runi hanya mengangguk tanpa rasa bersalah, membuat Jingga semakin merasa kesal.
...****************...