
Setelah menelpon Doni, Angkasa. Kembali duduk di sisi ranjang dengan memegang tangan Jingga yang terasa dingin. Jingga hanya bisa mengedipkan matanya agar Angkasa melepaskan tangannya, namun Angkasa tak faham akan kode yang di berikan Jingga.
Dasar pria aneh! Gila! mesum! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan! Tapi, kenapa.wajahnya terlihat begitu khawatir? Dan kenapa tubuhku bisa seperti ini? Masak iya aku lumpuh mendadak? Oh, tidak!
Tuhan ... Jangan buat aku lumpuh atau mati terlebih dahulu. Apakah engkau tega melihat aku mati dalam keadaan masih perawan? Tidak-tidak, disaat aku sudah ingin menikah dan memiliki keluarga, kenapa kondisiku justru memperhatikan seperti ini?
Jingga hanya bisa memaki Angkasa dalam hati karena bibirnya juga ikut kaku tak bisa berbicara sepatah katapun.
"Kamu sabar, ya. Sebentar lagi akan ada Dokter yang datang," ucap Angkasa dengan mengusap lembut kepala Jingga.
Entah kenapa tutur kata dan perlakuan Angkasa uang begitu lembut, membuat hati Jingga sedikit terenyuh. Apalagi saat melihat wajah khawatirnya seperti tulus tidak di buat-buat.
Apakah dia setulus itu? Ah ... Jingga, kamu jangan mudah tersentuh dengan perlakuan baik dari seorang pria. Kamu pernah di khianati sekali. Jadi, jangan sampai mudah terperangkap oleh cinta!
Jingga sedang berperang dengan hati, pikiran, dan tubuhnya yang tidak sinkron sama sekali.
Tak lama kemudian, terdengar bel pintu berbunyi, membuat Angkasa membuka kunci lewat ponselnya. Menyadari bahwa kunci otomatis apartemen Angkasa sudah terbuka, membuat Doni segera masuk ke dalam apartemen.
" Halo ... Spada, A ... Aku datang, di mana kamu?" Doni mencoba mencari di mana keberadaan Angkasa.
Melihat Doni yang kelamaan, membuat Angkasa keluar dadi kamar.
"Aku ada di sini? Kenapa kamu cari di tong sampah?" tukas Angkasa tatkala melihat Doni membuka tempat sampah dengan memanggil namanya.
" Ya, Gue kira Lo lagi semedi di tempat sampah!" tukas Doni dengan santainya.
"Kurang ajar! Lo kira gue sampah? Buruan sini, kenapa lama sekali datangnya?" protes Angkasa. Padahal Soni datang lebih cepat 5 menit, tapi Angkasa masih saja protes dengan mengatakan bahwa dia lama.
" Gue udah cepat juga! Lu,nya saja yang salah Orang lagi asyik mencangkul ___" ucapan Doni terhenti ketika melihat ada seorang wanita terbaring di atas kasur Angkasa.
Dia segera berjalan mendekati ranjang, melihat wajah cantik Jingga membuat Doni menelan ludahnya kasar. Dia terkejut sekaligus terpesona. Terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia melihat Angkasa membawa seorang gadis ke penthousenya, bahkan wanita itu di perbolehkan tidur di ranjang Angkasa.
Ini adalah sesuatu yang jarang di temui. Sepertinya wanita itu sangat spesial bagi Angkasa, tapi kenapa dia justru memanggilnya? Mau pamer atau?
__ADS_1
Seketika pukulan menghantam kepala Doni, membuat dirinya mengelus bekas pukulan itu.
" Jangan pernah menatap wanitaku seperti itu! Apa kamu ingin matamu ku congkel dan buang di sungai cibinong!" ancam Angkasa.
" Yaelah, kejam banget sih.jadi orang! Kayang mamalia saja!"
Angkasa mengerutkan keningnya." Mafia dodol!" Angkasa membenarkan.
Setelah itu, Angkasa segera menyuruh Doni agar memeriksa Angkasa. Melihat Doni memegang tubuh Jingga membuat dia kesal.
" Bisa tidak kalau periksa tak perlu pegang-pegang! " hardik Angkasa yang merasa cemburu Doni menyentuh kulit mulus Jingga. Padahal dia sedang memeriksa denyut nadi Jingga.
"Bagaimana caranya memeriksa tanpa memegang? Aku bukan cenayang yang bisa menebak penyakitnya tanpa memeriksa!"sungut Doni.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Angkasa bisa se posesif itu. Setelah itu, Doni mengambil sampel darah Jingga untuk di bawa ke lab agar mereka tahu apa penyebab Jingga seperti ini. Diagnosa awal dari Doni, Jingga sepertinya meminum racun yang mematikan.
Saat mendengar hal itu, Angkasa terbelalak, bahkan dia sampai menarik kerah baju Doni. Dia tidak suka temannya itu bercanda atau mengatakan sesuatu yang ambigu dengan kondisi Jingga.
" Hey bro, sabar! Sekarang Gue adalah seorang Dokter, dan gue nggak pernah main-main saat memeriksa pasien. Berdoa saja semoga dugaan gue salah!" lerai Doni.
...🌹🌹🌹...
Di tempat lain, terlihat seorang gadis kecil yang terus menangis karena Jingga tak menepati janjinya. Rigel berusaha mencoba menenangkan Arsy, namun dia tak kunjung berhenti menangis sampai Simon dan Eli datang.
". Mami... Daddy ...," seru Arsy ketika melihat Simon dan Elia datang menjemputnya.
Arsy berlari kearah Simon dan Elia dan menghambur memeluk mereka. Simon juga langsung memeluk putri kecilnya yang wajahnya sudah bengkak dan merah karen terlalu banyak menangis.
" Adu .. dudu... , princess Daddy kenapa menangis?" tanya Simon seraya mengusap pipi Arsy yang basah.
"MaNgga ingkal janji sama Acy ...," lapor Arsy.
"Oh, Ya Bang. Kenapa Jingga tidak datang menjemput Arsy?" tanya Elia yang jadi ikut cemas mendengar kabar kalau Jingga tak kunjung datang menjemput Arsy pulang. Bahkan nomornya juga tidak aktif.
__ADS_1
" Aku juga tidak tahu, El. Kemarin dia hanya bilang bakal jemput Arsy, tapi agak malam. Tapi, sampai sekarang tidak datang juga," jelas Rigel.
Tiba-tiba ponsel Elia berbunyi, ternyata Haikal yang menelpon.
" Halo kal, gimana? Udah ketemu Jingga?" tanya Elia. Dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas. Tidak biasanya sahabatnya itu menghilang seperti ini. Elia benar-benar takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jingga.
Meskipun dia wonder women, jago bela diri. Tetap saja Elia khawatir bagaimana keadaannya sekarang.
"Aku juga belum menemukan kak Jingga kak Lia. Kata asistennya, semalam kak Jingga justru pamit pulang terlebih dulu. Karena dia bilang ada urusan, tapi pagi ini Kak Jingga juga tidak ke rumah sakit," jelas Haikal di ujung telepon.
" Astagfirullah Jingga, kamu kemana sih? " Elia mengacak rambutnya frustasi.
" Kal coba kamu tanyakan di restoran mana tempat mereka makan bersama semalam, ya,"pungkas Elia.
Elia ingin mencoba mencari Jingga ke tempat itu, siapa tahu mendapatkan petunjuk di.mana Jingga berada.
" Gimana sayang, "tanya Simon.
" Kita pergi ke restoran tempat terakhir di mana Jingga berada, ya, " ajak Elia setelah mendapatkan alamat dari Haikal.
" Yaudah kita pergi."
Arsy yang tak tahu apa-apa hanya diam saja. Sedangkan, Simon dan Elia segera pergi ke restoran itu.
Sesampainya di sana, Elia di buat tercengang dan semakin khawatir ketika melihat ada mobil Jingga di sana. Namun, mobil itu kosong tak ada orang di dalamnya. Elia seperti orang gila yang berlari menanyakan ke scurity di sana.
Di memberikan ciri-ciri Jingga, namun orang itu tak tahu. Karena semalam bukan dia yang menjaga keamanan di restoran ini.
"Gimana sayang?" tanya Simon yang sudah menghampiri Elia dengan menggendong Arsy.
Elia menggeleng frustasi, menandakan bahwa dia belum mendapatkan di mana keberadaan Jingga.
Jingga... Kamu kemana sih? Alu khawatir cariin kamu kemana-mana. Semoga kamu baik-baik saja. Gumam Elia dalam hati.
__ADS_1
...****************...