Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 59


__ADS_3

Mendengar penjelasan Jingga kemarin, membuat Elia juga ikut penasaran apakah benar dia sedang hamil? Simon yang juga mendengarnya pun ikut penasaran sehingga membuat dia segera membeli alas tes kehamilan.


Saat bangun tidur, Elia segera mengeceknya. Bahkan, dia sampai memakai beberapa tespek yang telah di belikan oleh suaminya. Beberapa menit kemudian, hasilnya sudah keluar. Sepasang mata Elia membulat sempurna, tangannya sampai membekap mulutnya yang sudah menganga akibat terkejut.


Seper detik kemudian, mata Elia sudah berkaca-kaca, dia merasa bahagia, terharu dan tidak percaya. Tuhan begitu cepat kembali menitipkan janin calon buah hatinya dengan Simon. Dia benar-benar tidak menyangka bisa secepat ini jika mengingat kembali bagaimana kehidupan rumah tangganya dulu.


Memori kehidupan rumah tangganya di masa lalu kembali terulang bagaikan kaset lama yang terputar kembali. Elia ingat betul bagaimana perjuangannya dulu agar bisa segera hamil, bahkan dia juga sering mendapat cacian bahwa dia adalah wanita mandul akibat tak kunjung hamil. Dan akhirnya, setelah penantian panjangnya dia hamil juga. Namun, kehamilannya saat itu tidak memberikan kebahagiaan bagi pernikahannya di karenakan bersamaan badai besar yang menghantam rumah tangganya. Tapi kini, Tuhan seakan memberikan kebahagiaan yang terus datang tanpa henti.


" Terimakasih Tuhan atas kebahagiaan ini," ucap Elia sembari mengusap perutnya yang masih rata.


Elia segera keluar dari kamar mandi guna memberikan kabar bahagia ini pada sang suami. Elia mencoba membangunkan Simon yang masih tidur terlelap.


" Dad... Bangun sayang, " panggil Elia sembari menggoyang tubuh Simon.


Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Simon, karena dia tipe orang yang mudah untuk di bangunkan.


Simon mulai mengerjapkan matanya, Ketika melihat wajah istrinya sembab seperti habis menangis, membuat Simon segera bangun dan terduduk.


" Kamu kenapa sayang? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Simon dengan membelai lembut pipi sang istri.

__ADS_1


Baru saja Elia ingin menjawab, Simon sudah turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Perutnya tiba-tiba teras di aduk-aduk, mual dan akhirnya dia memuntahkan cairan bening itu.


Mendengar suara Simon yang terus muntah-muntah, membuat Elia segera menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Elia mencoba mengusap pundak Simon agar mual-mual nya membaik.


Sepertinya apa yang di katakan Jingga benar jika Simon mengalami kehamilan simpati atau bisa disebut dengan sindrom Couvade, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri.


" Apakah sudah lebih baik?" tanya Elia setelah Simon mencuci mukanya.


Simon mengangguk dengan wajah yang sudah memerah akibat terlalu lama muntah-muntah. Sesudah itu, Elia menggandeng lengan suaminya dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Elia membantu Simon duduk bersandar di ranjang, tubuhnya terlihat lemas.


" Iya, justru aku yang minta maaf karena sudah buat kamu seperti ini!" tukas Elia.


Simon mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Elia." Maksud kamu apa sayang? Masak iya aku mual-mual kerena kamu!"


Elia mengangguk, membuat Simon semakin bingung.


Elia tersenyum tatkala melihat kebingungan suaminya itu. Lalu, dia memberikan tespeknya pada Simon.

__ADS_1


" Ini ..." sepasang mata simon membulat sempurna saat melihat tulisan yes di alat tes kehamilan itu. Lalu, menatap istrinya dengan tatapan seperti meminta penjelasan.


" Aku hamil," pungkas Elia yang seketika membuat Simon memeluknya.


Simon benar-benar merasa bahagia saat mendengar istrinya sudah hamil. Ia kembali memandangi alat tes kehamilan itu, lalu menciumi pundak Elia.


" Terimakasih sayang," ucapnya yang semakin mempererat pelukannya.


Simon melepaskan pelukannya, lalu mencium perut istrinya yang masih rata.


" Hai, ini Daddy. Kamu baik-baik di dalam perut Mami ya ... Jangan nakal dan menyusahkan Mami. Daddy sayang kamu, " ucap Simon di depan perut Elia, lalu menciuminya kembali.


Entah kenapa tiba-tiba air mata Elia kembali menetes saat mendengar Simon berbicara pada janin di dalam perutnya. Mungkin efek hormon kehamilan atau karena dia merasa haru bercampur bahagia. Akhirnya, dia bisa merasakan hal seperti ini.


Mendengar suaminya menyapa dan berbicara pada sang buah hati yang masih berada di dalam perut.


Tuhan, sekali lagi aku benar-benar mengucapkan terima kasih yang amat besar karena Engkau sudah memberikan kebahagiaan ini dalam hidupku. Setelah memberikan suami yang begitu baik, menyayangiku dan Arsy dengan tulus, rumah tangga bahagia, dan kini engkau memberikan buah hati lagi sebagai pelengkap kebahagiaan kami. Sungguh kebahagian yang tiada tara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2