
" Terimakasih karena lebih mencintaiku daripada harta ayahku!" ucap Angkasa yang semakin mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar bersyukur bisa di cintai tanpa syarat seperti ini.
Setelah momen Haru itu selesai, A segera mandi. Sedangkan Jingga bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
" Aa ...," teriak Jingga saat melihat Angkasa keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
Angkasa tersenyum melihat Jingga menutup matanya. Sifat jahilnya keluar lagi, membuat dia justru menghampiri Jingga tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
" Kamu kenapa sayang?" bisik A sensual di telinga Jingga.
Jingga mencoba membuka matanya, namun di tutup kembali saat melihat Angkasa belum memakai pakaian.
" A, cepat pakai bajumu!" titah Jingga dengan wajah yang sudah memerah.
Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Jingga tetap wanita polos yang belum pernah melihat pria bertelanjang dada secara langsung dan dekat seperti ini.
"Apakah kamu mau memakaikan aku baju?" goda Angkasa.
"A, kamu bukanlah anak kecil yang baju saja harus di bantu pakai!" gerutu Jingga.
" Kalau begitu, kamu juga gadis kecil yang akan teriak jika melihat pria dewasa bertelanjang dada seperti ini." Angkasa justru memutar balikkan ucapan Jingga, membuat Jingga merasa kesal.
" Memangnya kenapa? Apakah hanya gadis kecil yang boleh berteriak saat___"
Glek
Jingga menelan salivanya saat melihat tubuh suaminya yang ternyata penuh dengan roti sobek. Jingga mencoba memalingkan wajah, tapi Angkasa justru mencengkram dagunya.
__ADS_1
" Kenapa sayang? Apakah tubuh suamimu ini kurang menarik sampai membuatmu memalingkan wajah?"
Jingga diam mati kutu, dia bingung harus berkata apa. Bukannya tak menarik, tapi detak jantungnya yang semakin tidak normal seakan ingin keluar dari tempatnya.
" Kenapa kamu diam saja? Jadi, benar kalau tubuhku kurang menarik? Apa aku harus nge gym lagi biar makin besar ya ...," gumam Angkasa yang melihat otot tubuhnya.
" Bu-kan seperti itu! Sudahlah, aku mau berangkat ke rumah sakit." Jingga berusaha untuk segera menghindar. Namun, tangannya segera dicekal oleh Angkasa.
" Tunggu, aku antar kamu ke rumah sakit. "Angkasa berlalu pergi untuk berganti pakaian di walk in closet. Sedangkan Jingga segera keluar dari kamar.
Jingga mengambil sebuah air minum, dan meneguknya sampai tandas. Ingatan tentang bagaimana bentuk tubuh Angkasa terus terbayang dalam pikirannya,sampai membuat Jingga menepuk pipinya sendiri agar sadar.
" Kenapa kamu jadi mesum seperti ini, sih Ji ... Tapi, mesumin suami sendiri bukankah tidak masalah?" Jingga berdecak sendiri sedang berperang batin.
Tak lama kemudian, Angkasa sudah keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Setelah itu, mereka segera pergi untuk mencari sarapan terlebih dahulu karena Angkasa sedang tidak mood untuk memasak.
A kenapa? Bukankah tadi masih baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba berubah jadi pendiam? Apa dia ngambek ? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran Jingga sampai membuat dia tak menyadari jika sudah sampai.
"Ji ...," panggil A, membuat Jingga tersadar dalam lamunanya.
" Iya, ada apa?" tanya Jingga gugup.
" Kamu kenapa kaget? Apa kamu sedang melamun?" tanya Angkasa.
Jingga menggeleng.
" Sudah sampai." Angkasa memberitahukan bahwa mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
Jingga menengok ke kiri dan ternyata benar, mereka sudah sampai.
Saat Jingga ingin turun, Angkasa kembali memanggilnya.
" Ada apa A?"
" Apakah kamu tidak melupakan sesuatu?" kode Angkasa.
Jingga mengerutkan keningnya, lalu kembali mengecek barang bawaannya dan sudah lengkap semua.
Angkasa hanya bisa menghembuskan nafas panjang saat Jingga tidak menyadari apa yang dia lupakan. Terpaksa, Angkasa mengulurkan tangannya agar Jingga cium tangan.
" Tangan kamu kenapa, A?" tanya Jingga polos. Otaknya benar-benar oleng gara-gara melamun.
" Masak mau kerja tidak cium tangan dulu saja suami," jelas Angkasa.
Jingga yang sudah paham segera mencium tangan Angkasa. Namun, tak hanya Itu Angkasa memberi kode pada pipinya agar Jingga juga menciumnya.
Saat Jingga ingin mencium pipi Angkasa, bibirnya sudah di kecup dulu oleh Angkasa. Ketika Jingga ingin melepaskan diri, Angkasa segera menekan tengkuk Jingga dan memperdalam kecupan itu menjadi ******* lembut.
" Au," Jingga berteriak saat Angkasa menggigit bibir bawahnya.
" Kenapa di gigit!" protes Jingga sembari memegang bibirnya.
" Itu hukuman karena kamu lupa pamit sama suami! Lain kali kalau sampai lupa lagi, hukumannya bukan hanya itu saja!" tukas Angkasa dengan seringai licik.
Jingga mendengus kesal saat melihat tingkah Angkasa yang terlihat semakin mendominasi seperti ini. Dia segera keluar dari mobil dengan perasaan kesal. Sedangkan A tertawa puas karena sudah berhasil membuat Jingga kesal plus dapat bonus vitamin pagi.
__ADS_1
...****************...