
Tak lama kemudian, Haris dan Doni datang untuk melihat bagaimana kondisi Angkasa karena dia mendengar bahwa Angkasa terluka dan di larikan ke rumah sakit.
Melihat Jingga mondar mondir di depan ruangan UGD, membuat Doni segera berlari menghampirinya.
" Jingga," panggil Doni.
Mendengar ada yang memanggilnya, membuat Jingga menengok ke sumber suara.
" Bagaimana kondisi A?" tanya Doni dan Haris bersamaan.
Jingga menggeleng, dia juga tidak tahu bagaimana kondisi Angkasa. " Dia masih di tangani oleh dokter di dalam."
Ketika melihat pakaian, serta tangan Jingga yang masih berlumuran darah, membuat Doni untuk menyuruhnya membersihkan diri dulu.
" Biarkan kita yang menunggu di sini!"
Jingga menoleh ke ruangan UGD yang masih tertutup rapat, membuat dia akhirnya mau untuk membersihkan diri dulu.
Melihat wajah khawatir Jingga, membuat Doni dan haris tersenyum.
" Sepertinya, cinta Angkasa sudah terbalas! "ujar Doni yang hanya diangguki oleh Haris.
...☘️☘️☘️...
Di dalam toilet, Jingga membersihkan tangannya dengan kasar serta air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, ketika melihat Angkasa terluka sampai tak sadarkan diri seperti tadi.
Padahal kedekatan mereka baru sebentar, tapi kenapa seakan sudah saling mencinta sejak lama? Selesai membersihkan diri, Jingga segera kembali pergi menuju ruang UGD.
Sesampainya di sana, bertepatan dengan Dokter yang menangani Angkasa keluar dadi ruangan UGD. Membuat Jingga segera berlari menghampirinya.
" Dok bagaimana kondisinya?" tanya Jingga bersamaan dengan kedua sahabat Angkasa.
" Lukanya tidak terlalu parah, namun sepertinya ada reaksi lain yang di alaminya. Apakah dia mempunyai trauma atau phobia akan suatu hal?" tanya Dokter itu untuk memastikan.
" Iya Dok, dia memang memiliki trauma akut dengan pistol atau tembakan, " jelas Haris yang tahu tentang kondisi Angkasa.
Jingga dan Doni yang tak tahu akan hal itu langsung menatap Haris seakan minta penjelasan atas apa yang dia ucapkan. Haris memang sahabat Angkasa dari kecil sehingga dia jauh lebih mengenal Angkasa daripada Doni.
__ADS_1
" Kalau begitu saya sudah mengerti kenapa kondisi pasien sempat mengalami kritis," ucap Dokter itu.
" Kritis?" seru mereka bertiga bersama lagi.
" Iya, lukanya memang tidak parah, namun sepertinya trauma yang dia alami membuat pasien sempat kritis."
Seketika tubuh Jingga melemas, dadanya juga semakin sesak, ketika mendengar kondisi Angkasa sedang dalam kondisi kritis. Jingga segera mencari pegangan untuk menopang tubuhnya.
Melihat Jingga yang shock, membuat Haris membantunya untuk duduk di kursi tunggu yang tak jauh dar mereka agar Jingga lebih rileks.
Jingga mencakup kedua wajahnya, dia tak tahu lagi harus bagaimana. Dunianya seakan berhenti, dia tidak menyangka bahwa dugaannya benar. Bahkan, Angkasa bukan hanya phobia, melainkan trauma yang sudah akut.
Kejadian seperti apa yang sampai membuat Angkasa seperti itu? Dia tak pernah menyangka, Angkasa yang selalu tersenyum di depannya ternyata memiliki trauma akut. Dia benar-benar hebat, bisa menjadi menutupi lukanya dengan senyuman.
" Apa yang sudah terjadi sama A sampai dia memiliki trauma akut?" tanya Jingga pada Haris yang duduk di sebelahnya.
Haris tersenyum. " Sepertinya itu bukan wewenang saya untuk menceritakan. Kamu bisa tanya A jika dia sudah sadar nanti. Saya hanya bisa mengatakan, bahwa Angkasa sangat mencintaimu Jingga. "
Jingga mengangguk, dia tahu akan hal itu. Jika Angkasa tidak mencintainya, dia tidak mungkin rela mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan Jingga dari tembakan itu. Bahkan di saat kondisinya sendiri sedang melawan rasa traumanya.
...☘️☘️☘️...
Jingga meminta agar dia di hukum seumur hidup, bahkan di hukum mati juga boleh, itu jauh lebih baik. Karena hukuman penjara beberapa tahun saja, tidak akan mampu membuatnya sadar, justru semakin membuat dendam di hatinya semakin besar.
Karena terlalu panik, sampai membuat Jingga lupa untuk memberikan kabar ke Elia. Ketika ingat, Jingga segera mengecek ponselnya, dan benar saja puluhan panggilan tak terjawab dari Elia tertera di layar ponselnya.
Jingga segera menghubungi Elia agar dia tak merasa cemas, sekaligus datang ke rumah sakit untuk membawakan pakaian ganti. Dari semalam, Jingga masih memakai pakaian yang terkena darah Angkasa.
Mendengar kabar bahwa Jingga baik-baik saja membuat Elia sedikit lega.
" Gimana sayang? Apa tadi kak Jingga?" tanya Simon yang tak bisa mendengar percakapan istrinya dengan Jingga di telepon.
" Iya, Jingga yang menelpon. Dia minta kita ke rumah sakit,"
" Kak Jingga kenapa? Apa dia sakit atau___" Simon menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan tajam dari istrinya.
Elia tahu, Simon juga khawatir tapi ya jangan menyela ucapannya dulu. Begini kan jadinya kalau suka menyela ucapan seseorang yang belum selesai bicara. Salah paham!
__ADS_1
Simon tersenyum canggung memperlihatkan deretan giginya yang putih, dia baru sadar telah membuat istrinya kesal.
" Jangan marah dong sayang," bujuk simon seraya memeluk pinggang istrinya.
" Mangkanya kalau ada istri ngomong di dengerin dulu! Jangan main potong, salah berita kan jadinya!" protes Elia.
" Iya ... Iya Maaf," ucap Simon seraya menciumi pipi Elia agar dia tak marah lagi.
Elia sendiri juga belum tahu jelas bagaimana cerita sebenarnya, sampai membuat Jingga mau menemani Angkasa di rumah sakit. Karena yang Elia tahu, mereka berdua belum pada tahap sedekat itu sampai rela menemani di rumah sakit. Bahkan, sampai membuat Jingga tak bisa pulang karena tidak tega meninggalkan Angkasa sendiri.
" Apa jangan-jangan, mereka diam-diam sudah jadian?" tebak Simon. Elia hanya menaikkan bahunya, pertanda bahwa dia juga tak mengerti.
Daripada menebak sesuatu yang tak kunjung mendapatkan jawaban, Elia memilih untuk segera mengemasi pakaian Jingga dan berangkat ke rumah sakit. Di sana dia justru lebih leluasa untuk bertanya semuanya.
Selesai mengemasi beberapa pakaian, dan makanan. Simon, Arsy, dan Elia segera berangkat menuju rumah sakit yang Jingga katakan.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit itu. Mereka bertiga berjalan bersama, menyusuri koridor untuk mencari di mana ruangan Angkasa di rawat.
Sesampainya di depan kamar Angkasa, Elia mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu. Membuat seseorang di dalam sana, segera berjalan membukakan pintu. Melihat Jingga membuka pintu dengan pakaian yang penuh noda darah, membuat Elia terkejut dan segera mengeceknya.
" Baju kamu kenapa, Ngga?" tanya Elia seraya meneliti tubuh sahabatnya yang untungnya masih utuh.
" Kamu tenang saja, itu bukan noda darahku, melainkan orang yang ada di dalam!" pungkas Jingga seraya mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam.
Saat melihat seorang pria terbaring lemah dengan berbagai alat bantu medis, membuat Elia terbelalak.
"Itu___" Elia menutup mulutnya tak percaya.
"Angkasa," jawab Jingga santai tapi seakan menahan kesedihan.
Elia dan Simon berjalan mendekati pria itu, dan benar saja bahwa dia Angkasa.
" Kenapa dia bisa seperti ini? Apa yang sudah terjadi? Terus keluarganya di mana sekarang? Kenapa sepi sekali?" Rentetan pertanyaan seketika langsung keluar dari mulut Elia.
" Semalam kena tembak, keluarganya juga ada di rumah sakit ini, di ruangan yang berbeda. "
Elia dan Simon mengerutkan keningnya karena belum paham dengan apa yang di maksud Jingga. Setelah itu, Jingga mulai menceritakan semuanya dengan jelas.
__ADS_1
...****************...