
Hari mulai sore, sudah waktunya Angkasa untuk mendapatkan suntikan obat. Suara ketukan pintu terus terdengar di balik pintu ruang rawat inap Angkasa. Perawat itu mengerutkan keningnya ketika tak kunjung mendapatkan jawaban.
" Kenapa tetap tidak ada jawaban? Apa terjadi sesuatu di dalam?" gumam Suster itu yang terpaksa untuk membuka pintu kamar Angkasa, karena ingin mengecek apa yang terjadi sampai membuat pasien di dalam tak kunjung memberi respon. Padahal, dia sudah mengetuk pintu sejak tadi.
Untuk kemantapan hati, Perawat itu mengetuk pintu sekali lagi.
Di dalam kamar, terlihat seorang Pria tampan yang mulai terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu. Di lihatnya sang kekasih masih tertidur pulas dengan memeluknya, membuat Angkasa tersenyum bahagia.
Tidur dengan memeluk Jingga memang sangat nyaman dan nyenyak. Ini juga salah satu alasan kenapa Angkasa ingin segera menikah dengan Jingga agar bisa terus tidur berdua sambil berpelukan seperti ini. Namun, dalam sebuah hubungan yang halal sehingga jika ingin lebih sudah sah-sah saja.
Perlahan, pintu kamarnya mulai terbuka, memperlihatkan seorang perawat datang dengan membawa nampan obat. Angkasa yang sudah bangun, memberikan intrupsi agar perawat itu berjalan pelan-pelan agar Jingga tidak ke terganggu, dan perawat itu pun mengikutinya.
Melihat ada seorang wanita tidur di ranjang pasien, membuat perawat itu merasa gimana gitu.
Pantes saja nggak ada sahutan, orang lagi asik tidur kelonan! Batin perawat itu saat melihat Jingga masih tidur terlelap dengan memeluk tubuh Angkasa.
" Tuan Angkasa, apakah anda tidak terganggu istirahatnya?" tanya sang perawat sembari menyuntikkan obat ke selang infus Angkasa.
" Tidak, justru saya senang," jawab Angkasa yang tak lepas menatap wajah Jingga. Bahkan sesekali mengusap puncak kepala Jingga saat merasakan ada pergerakan agar wanitanya kembali tidur pulas.
__ADS_1
" Oh, tapi lebih baik___"
" Jangan terlalu ikut campur, kerjakan saja apa yang harus kamu kerjakan!" potong Angkasa sebelum perawat itu menyelesaikan ucapannya.
" Maaf Tuan," ucap perawat itu sebelum akhirnya pergi ke luar dari ruangan yang terasa panas sekaligus pengap baginya. Karena melihat kemesraan sepasang kekasih yang membuat hari iri.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa seorang anak dari keluarga terkaya di kota ini yang terkenal playboy, ternyata begitu lembut terhadap pasangannya.
Tapi kenapa aku seperti tidak merasa ada aura playboy ya? Batin perawat itu. Karena dia sudah sering menjumpai pasien dari yang cuek sampai playboy jadi sedikit paham dalam menilai pria. Dan Angkasa lebih masuk ke pria cuek, karena dia tak pernah menatap ke arah si suster sedikitpun. Tatapan matanya terus tertuju pada sang kekasih, padahal suster itu bisa terbilang perawat populer di rumah sakit ini karena kecantikan dan keseksiannya.
Apa jangan-jangan itu hanya rumor belaka? Kan biasa tuh berita tukang gosip suka menggoreng berita hoax!
*
*
" Kenapa kamu bisa cantik sekali seperti ini? Apakah kamu bidadari?" puji Angkasa pada wanita yang masih tertidur. Sebenarnya bukan tertidur, lebih tepatnya pura-pura tidur. Karena terlalu gemas, Angkasa ingin kembali mencium bibir ranum itu.
Namun, Jingga segera menutup bibirnya dengan telapak tangan saat wajah Angkasa mulai mendekat.
__ADS_1
" Jangan suka menjadi pencuri yang suka mencium di saat orang masih tertidur!" ucap Jingga dengan mata yang terpejam.
" Kamu sudah bangun?"
" Tentu saja sudah!" jawab Jingga sembari merubah posisinya membelakangi Angkasa.
" Sejak kapan?" tanya Angkasa yang penasaran sejak kapan Jingga bangun.
" Sejak kamu memujiku cantik bagaikan bidadari!"
Angkasa tersenyum, lalu memeluk tubuh Jingga dari belakang.
" A lepasin," pinta Jingga seraya melepaskan tangan Angkasa yang melingkar di perutnya. Namun, Angkasa justru mengeratkan pelukannya.
" Biarkan seperti ini sejenak, karena sangat nyaman! "pungkas Angkasa.
Entahlah, Angkasa ini memang tidak ada malu-malu nya atau urat malunya sudah putus? Nempel terus kayak perangko, padahal mereka belum menikah. Apalagi kalau sudah menikah?
...****************...
__ADS_1