Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
MCDG ~Bab 29


__ADS_3

Di sebuah taman dengan berbagai macam tanaman, terlihat seorang wanita yang tengah hamil besar sedang menyirami tanaman bunganya demi mengalihkan rasa kontraksi palsunya.


Sejak semalam, Runi sudah mulai mengalami kontraksi, dan juga keluar flek. Namun, jarak kontraksinya masih cukup jauh sehingga masih di katakan kontraksi palsu. Senandung lagu juga terdengar menghiasi raut wajah bahagianya karena sebentar lagi akan bertemu dengan sang buah hati yang akan lahir ke dunia.


Rencananya sehabis menyirami bunga, Runi ingin kembali melakukan birthing ball agar cepat kontraksi asli dan pembukaan. Karena sepertinya air ketubannya juga sudah mulai merembes. Belum selesai menyirami tanamannya, rasa kontraksinya semakin kuat dan jaraknya juga dekat. Runi berusaha mencoba untuk biasa saja, dan tetap melanjutkan aktivitasnya. Namun, semakin lama, rasa kontraksinya semakin sakit sampai membuat tubuhnya bergetar.


" Sepertinya aku sudah mau melahirkan deh, " gumam Runi sembari mematikan kran air.


Baru berjalan beberapa langkah, air ketuban Runi sudah pecah dan begitu deras, membuat dirinya semakin panik. Meskipun dia seorang perawat, tetap saja panik karena ini adalah kehamilan pertamanya.


" Reno ...," teriak Runi memanggil suaminya yang sedang mencuci piring di dapur.


Runi berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumah dengan menahan rasa sakit kontraksi yang semakin kuat dan lebih sering muncul.


" Ren ... aku mau melahirkan," teriak Runi lagi memanggil sang suami yang belum muncul batang hidungnya.


Mendengar suara Runi yang berteriak memanggilnya, membuat Reno segera mencuci tangan, lalu berlari menuju ke teras.


" Sayang ... kamu kenapa?" tanya Reno saat melihat istrinya berdiri dengan memegangi gagang pintu. Dia sudah tak mampu lagi berjalan, karena rasa sakit kontraksinya semakin kuat sampai membuat kakinya bergetar.


" Bawa aku ke rumah sakit, sepertinya aku mau melahirkan! " ucap Runi dengan nada bergetar.


Mendengar kata melahirkan, membuat Reno ikut panik dan segera mengambil tas bersalin yang memang sudah di siapkan. Lalu membawa istrinya masuk ke dalam mobil.


" Sabar ya utun, kita pergi ke rumah sakit dulu. Jangan membuat Buna sakit," ucap Reno seraya mengusap perut istrinya yang sudah sangat besar.


" Ayo cepetan berangkat! Jangan banyak bicara!" gerutu Runi di tengah-tengah menahan rasa sakit yang mendera.


" Iya sayang ... sabar. " Reno segera menancap pedal gas, melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana Jingga bekerja.


Awalnya Dokter kandungan Runi bukanlah Jingga, tapi karena Jingga sudah pindah kerja ke kota ini. Dia segera mengganti Dokter kandungan, karena dia ingin sahabatnya yang membantu persalinan.


Tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah sakit. Reno keluar dari mobil terlebih dahulu untuk mengambilkan kurdi roda buat Runi.


Reno membantu Runi turun dari mobil perlahan, lalu membawanya masuk ke rumah sakit dengan menggunakan kursi roda.


" Sus, tolong istri saya mau melahirkan," ucap Reno kepada seorang suster.


Suster itu segera membawa Runi ke ruangan bersalin, sedangkan Reno di suruh mengurus administrasi terlebih dahulu.

__ADS_1


Di dalam ruangan bersalin, seorang bidan segera melakukan pemeriksaan pada Runi.


" Bagaimana sus, sudah pembukaan berapa?" tanya Runi ketika seorang bidan memeriksa mulut rahimnya.


" Masih pembukaan dua, tapi air ketubannya sudah hampir habis, detak jantungnya juga melemah. Sepertinya anda harus menjalani operasi," ucap sang bidan.


"Apa! Tapi saya ingin lahiran normal, tidak mau operasi," tukas Runi. Selama ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa lahiran normal.


" Dokter Jingga mana? Panggilkan dia ke sini, bilang sahabatnya mau lahiran. Saya tidak mau di tangani orang lain, selain dia! "pinta Runi yang mulai parno.


Tak lama kemudian, Reno datang dan melihat Runi tengah berdebat dengan seorang bidan, membuat ia segera berlari menghampiri.


" Ini ada apa? "tanya Reno.


" Begini pak, sepertinya istri anda harus menjalani operasi. Tapi, beliau terus menolak menjalani operasi dan tidak mau di tangani dokter lain. Sedangkan Dokter Jingga sedang cuti hari ini, "jelas bidan tersebut.


" Ren, cepat telepon Jingga suruh dia segera datang kesini! "titah Runi.


Reno segera menelpon Jingga, untungnya segera di angkat.


" Halo, Jingga kamu di mana?"tanya Reno pada seseorang di ujung telepon.


" Lho katanya kamu sedang cuti? Ini Runi mau melahirkan, tapi di suruh untuk operasi dan___"


" Apa! Bukankah hplnya masih seminggu lagi ya?" potong Jingga.


" Jingga cepat datang kesini! Aku sudah tidak kuat!" teriak Runi sembari mencengkram tangan Reno.


" Oke, oke! Kamu kasih dulu ponselnya ke bidan atau perawat yang ada di situ, aku ingin bicara," pinta Jingga yang jadi ikut panik.


Simon dan Elia yang mendengar bahwa Runi mau melahirkan pun ikut panik. Jingga mencoba menanyakan bagaimana kondisi runi saat ini. Melihat Angkasa yang belum sadarkan diri, Jingga memilih untuk meninggalkannya sebentar. Karena sekarang Runi juga sedang butuh bantuannya, karena dia tidak mau di tangani dengan dokter lain.


Setelah mengetahui bagaimana kondisi Runi saat ini, Jingga meminta perawat untuk segera menyiapkan semuanya agar nanti Jingga bisa secepatnya mengoperasi Runi. Saat berada di perjalanan, Jingga mencoba menghubungi Haris untuk menggantikannya menjaga Angkasa sebentar.


Untungnya jarak rumah sakit di mana Angkasa di rawat dan rumah sakit tempat Jingga bekerja tidak terlalu jauh sehingga mereka cepat sampai.


Sesampainya di rumah sakit, Elia dan Jingga segera berlari masuk ke rumah sakit, sedangkan Simon memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Sesampainya di ruang perawatan, Jingga segera menghampiri Runi.

__ADS_1


"Jingga, Elia, " lirih Runi ketika melihat kedua sahabatnya datang.


" Bagaimana kondisinya?" tanya Jingga.


" Detak jantung bayinya___ mulai melemah."


" Ngga, anakku akan selamat kan?" tanya Runi yang panik saat mendengar bagaimana kondisi bayinya.


" Kamu tenang ya, serahkan semua sama yang maha kuasa. Aku akan membantu semaksimal mungkin, tapi kamu harus rileks, dan kuat agar si utun juga ikut kuat." Jingga mencoba memberikan semangat.


Runi menganggukkan kepalanya, tapi air mata terus mengalir.


Jingga segera membantu mengusap air mata itu.


" Jangan stres, kamu percaya sama aku, kan? "


Runi mengangguk.


" Semangat, Run. Aku akan membantu doa agar persalinan mu lancar. Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, pikirkan saja bahwa sebentar lagi kamu akan bertemu utun," pungkas Elia untuk memberikan semangat.


Runi sudah mulai rileks, kedua sahabatnya ini memang benar-benar bisa menjadi kekuatannya.


Selepas itu, Jingga masuk ke ruang ganti, sedangkan Elia, Reno, dan Simon menunggu di depan ruang operasi.


Kini, Runi sudah selesai menjalani operasi, dan Jingga mulai melakukan pembedahan. Tak lama dari itu, bayi Runi sudah berhasil di keluarkan.


" Selamat datang ke dunia anak kedua MaNgga," ucap Jingga seraya mencoba membuat bayi itu menangis. Namun, tetap tak ada suara tangisan yang terdengar, bahkan tubuhnya sudah membiru.


Di karenakan kondisi bayinya sangat lemah, Jingga meminta agar segera di masukkan ke dalam inkubator tanpa memperlihatkan pada Runi terlebih dahulu. Karena itu bisa membuat kondisi Runi semakin down saat melihat kondisi bayinya yang tak baik-baik saja.


" Jingga, apakah bayiku sudah keluar?"


" Sudah dan dia seorang anak laki-laki yang tampan."


" Tapi, kenapa aku tidak mendengar suara tangisannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Runi di tengah kesadarannya yang hampir menghilang.


" Kamu tenang saja, dia dalam kondisi baik. Kamu juga tahu, tidak semua bayi langsung menangis, " ucap jingga dengan mencoba menahan kesedihannya. Ternyata benar, mengoperasi orang yang di sayangi itu sungguh mempengaruhi emosi.


Untungnya Runi sudah kehilangan kesadarannya, akibat obat bius, sehingga dia sudah tak bertanya-tanya lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2