Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 8


__ADS_3

"Tuan Muda, sepertinya kita harus pergi. Kalau tidak Tuan Hendra akan marah besar," ucap asisten Lim.


Angkasa menghembuskan nafas panjang saat dia harus berpisah dulu dengan gadis pujaannya itu. Padahal Angkasa masih ingin mengikuti Jingga, namun dia tahan.


Sungguh, aku benar-benar di buat gila oleh dokter cantik itu. Aku akan pergi kerja dulu, sampai bertemu nanti Dokter Jingga yang cantik, gumam Angkasa dalam hati.


Akhirnya, Angkasa menuruti ucapan Asisten Lim untuk pergi bekerja dulu. Karena dia juga tak mau terkena amarah sang papa yang sangat mendominasi itu. Jika papanya marah maka sumber uangnya juga akan hilang.


Saat di dalam mobil, Angkasa terus bertanya tentang apa saja yang di dapatkan oleh asisten Lim tentang Dokter Jingga. Melihat Angkasa terus bertanya seperti itu, membuat asisten Lim tahu kalau tuan mudanya ini sudah jatuh cinta dengan Dokter wanita itu.


"Jadi, dia Dokter Obygn yang baru pindah praktek ke sini beberapa hari yang lalu?" tanya Angkasa mencoba memastikan kembali.


"Iya, Tuan. Sebelumnya Dokter Jingga adalah Dokter di rumah sakit ternama yang ada di Jakarta, lalu pindah ke sini."


"Pantas saja aku baru bertemu dengannya, ternyata dia bukan orang asli sini! Tapi, kenapa dia pindah ke kota ini jika sudah memiliki pekerjaan yang bagus di kota besar? Apa ... memang sudah takdirnya agar dia bisa bertemu denganku?" Sikap narsis Angkasa memang tak pernah hilang, justru semakin lama semakin parah.


Selang beberapa menit kemudian, mereka sampai juga di kantor Hanjaya corp. Asisten Lim segera turun dari mobil terlebih dahulu membukakan pintu untuk Angkasa.


" Silahkan Tuan."


Angkasa turun dari mobil, dengan berlagak sok cool seakan terlihat seperti Tuan muda pada umumnya yang terlihat berwibawa dan dingin seperti di drama-drama.


Angkasa berjalan memasuki kantor Hanjaya grup di dampingi oleh asisten Lim dan beberapa bodyguard.


Para karyawan juga menyapa dan memberikan hormat ketika berpapasan dengan Tuan muda dari perusahaan Hanyaja corp.


Sesampainya di ruangannya, Angkasa menghembuskan nafas panjang dan kembali ke sifatnya semula yang tidak ada coolnya sama sekali.


"Tuan, ini dokumen-dokumen yang harus anda baca dan kerjakan," ujar asisten Lim dengan memberikan tumpukan Dokumen penting perusahaan.


Bola mata Angkasa langsung membulat sempurna.


"Apa kamu yakin asisten Lim? Memberikan banyak sekali dokumen kepadaku? Kamu tidak takut aku menghancurkannya?" rentetan pertanyaan muncul dari mulut Angkasa.


Dia tak habis pikir kenapa bisa asisten itu memberikan dokumen sebanyak itu.

__ADS_1


satu saja sudah membuat gue ngantuk. Apalagi segunung? Bisa-bisa meletus nih otak gue!" decak Angkasa dalam hati.


"Tentu saja serius Tuan, dan ini adalah perintah dari Tuan Hendri. Beliau meminta anda mengerjakan ini semua jika tidak maka___"


"Maka apa?" bentak Angkasa. Dia mulai kesal mendengar papanya yang terus memberikan ancaman kalau Angkasa tidak mematuhi perintahnya.


" Seperti sebelumnya, Tuan akan mengambil semua fasilitas dan tidak akan mengizinkan anda menemui Dokter Jingga lagi!" pungkas Asisten Lim.


Angkasa terkejut saat mendengar papanya tahu soal Jingga. Asisten sekaligus tangan kanan ayahnya ini pasti sudah melapor soal Angkasa yang mendekati dokter Jingga. Angkasa mengepalkan tangannya, dia benar-benar bagaikan anjing peliharaan papanya yang harus patuh dan tidak boleh melawan perintah darinya.


"Besok-besok, jangan beritahu soal Dokter Jingga ke papa. Tutup mulut ember mu itu! Kalau sampai saya tahu kamu masih melaporkan tentang dia, saya akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu sangka!" ancam Angkasa dengan tatapan tajam.


"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah," jawab asisten Lim.


Angkasa tahu, bagaimana sikap papanya itu terhadap wanita-wanita yang dekat dengannya. Dia tidak mau papanya menyentuh ataupun membuat Jingga pergi dari hidupnya. Cukup sekali saja dia kehilangan wanita yang dia cintai gara-gara sang papa. Angkasa tak mau ada kejadian berulang, apalagi Angkasa sangat menyukai Jingga.


...🌷🌷🌷...


Di rumah sakit, terlihat Jingga mulai lelah dengan pekerjaannya yang belum selesai. Jam makan siang pun sudah datang, namun masih ada banyak pasien yang belum dia periksa.


"Dokter Jingga, ada makanan dari pacar anda," ujar suster itu seraya memberikan kantong makanan itu.


"Pacar?" ulang Jingga yang tak mengerti kenapa suster itu bisa mengatakan bahwa dia mendapatkan makanan dari pacarnya.


"Iya, dia tadi datang mengantarkan makanan. Tapi karena saya mengatakan kalau anda masih banyak pasien, dia menitipkan makanan itu," ungkap sang perawat.


"Tapi saya tidak punya pacar," elak Jingga karena dia memang tak merasa memiliki pacar. Namun, sang suster tetap meletakkan makanan itu di atas meja Jingga.


Sebelumnya pria pemberi makanan itu sudah mengatakan apapun yang terjadi, dia harus tetap memberikan makanan itu pada Jingga. Dia juga sudah mendapatkan makanan imbalan. Jadi, tidak enak jika tidak memberikan makanan itu kepada Jingga.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Dok," ujar perawat itu yang berlalu keluar dari ruangan Jingga.


Jingga mengerutkan keningnya, lalu membuka kantong makanan itu. Ternyata di dalam kantong makanan tersebut terdapat makanan favorit Jingga dan sebuah kartu ucapan.


Selamat makan siang wanita cantik, jangan sampai tidak di makan, ya. Nanti makanannya akan menangis, jangan juga di berikan ke orang lain karena hatiku akan sangat sakit melihatnya. Semangat kerjanya.

__ADS_1


Salam sayang dari pria yang sangat mencintaimu☺️


Jingga bergidik ngeri saat membaca note yang menurutnya sangat menjijikkan. Lalu membuangnya sembarang.


"Kenapa, Dok?" tanya perawat asistennya. Lalu dia mengambil kertas yang di buang Jingga sembarangan dan membacanya.


"Dari pengagum rahasia?" ujarnya.


"Kamu belum makan, kan? Kamu makan saja itu makanan."


Membaca surat yang tertulis saja sudah membuat Jingga takut untuk memakan makanan yang pria itu berikan.


"Kok di kasih saya, Dok? Nanti dia sedih loh, kan sudah di berikan note untuk tidak di berikan kepada orang lain? Kan hanya makanan saja, anda sendiri juga belum makan, kan?" pungkasnya yang tahu kalau Jingga memang belum makan.


"Ya gapapa, lagian dia tidak akan punya indra keenam. Lagian saya takut nanti ada peletnya!" tandas Jingga.


Perawat itu mengerutkan keningnya saat mendengar Jingga mengatakan bahwa makanan itu ada peletnya.


"Yang namanya makanan apa bisa di kasih pelet, Dok?" tanyanya polos.


"Ya siapa tahu aja."


"La, nanti kalau saya yang justru kena peletnya gimana?"


"Yaudah minta tolong kamu buang saja!"


"Tapi sayang Dok, kalau di buang. Orang makanan mahal," timpal perawat wanita itu lagi.


Jingga jadi tambah pusing meladeni asisten perawatnya yang ruwet itu. Di suruh makan takut kena pelet, di suruh buang sayang, terus maunya gimana?


"Yaudah terserah kamu saja!" tandas Jingga yang sudah tak tahu harus berkata apalagi. Pokoknya dia tidak mau menyentuh atau memakan makanan itu.


...****************...


Kira-kira siapa pria pemberi makanannya ya?

__ADS_1


Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya ya...


__ADS_2