Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 60


__ADS_3

Di kota Paris, terlihat sepasang pengantin baru tengah jalan-jalan menikmati indahnya kota ini. Selama bekerja, Jingga memang jarang mengambil jatah cuti kerjanya karena saat itu dia lebih memilih bekerja daripada cuti.


Tapi, sepertinya mulai sekarang dia akan selalu mengambil jatah cutinya, atau akan meminta cuti jika diperlukan. Kehadiran Angkasa benar-benar mengubah kehidupan Jingga yang monoton menjadi penuh warna dan banyak kejadian tak terduga.


Seperti saat ini, tiba-tiba ada seorang jambret yang mengambil tas Jingga.


"Hei!" Jingga langsung mengejar pria itu. Melihat istrinya berlari, membuat Angkasa ikut mengejarnya.


"****! Dia mengejarku!" umpat pencopet itu yang terus berlari.


Jingga tak tinggal diam, dia segera melepas sepatunya, lalu melempar ke arah pencopet itu.


Bugh


Lemparan Jingga tepat sasaran sampai membuat pria itu jatuh tersungkur. Melihat hal itu, membuat Jingga segera berlari menghampiri pria itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ada beberapa pria yang keluar dari tempat persembunyian. Sepertinya mereka komplotan dari pencopet itu.


" Hei, Nona," sapa salah satu dari komplotan itu yang mencoba menggoda Jingga.


Melihat mangsa mereka cukup cantik, membuat mereka tertarik untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengambil uangnya.


" Kembalikan tasku! Kalian boleh mengambil uangnya, tapi yang lainnya jangan!" pungkas Jingga dengan tegas.


Jingga tidak apa-apa kehilangan uangnya, asalkan bukan benda-benda penting yang ada di dalam tas itu.


" Mau mendapatkan tasmu kembali? Kalau begitu, bermainlah dengan kami," ucap seorang pria yang menggunakan topi. Dia berjalan mendekati Jingga, dan berusaha untuk menyentuh tapi segera di tepis.

__ADS_1


"Wow, menarik!" ucap Pria itu saat melihat penolakan dari Jingga.


Jingga mengusap batang hidungnya.


" Sepertinya aku akan olahraga hari ini! Tahu saja jika aku belum berolahraga beberapa hari ini. Baiklah, akan ku layani kalian!" gumam Jingga yang segera menyerang pria itu.


Kini, Jingga sudah mulai berkelahi dengan salah satu dari keempat pria itu, sedangkan yang lain hanya menonton pertarungan secara live.


Dalam sekejap, Jingga mampu mengalahkan pria itu. Beberapa pria yang lain, cukup terkejut saat melihat wanita di hadapannya ini ternyata jago juga bela dirinya.


Kemudian, ada lagi satu yang dagang melawan dan Jingga pun melayaninya. Dia berhasil menghindar ketika ketika pria itu menyerangnya, lalu dengan cepat dengan gerakan tendangan memutar, Jingga berhasil menendang dada pria itu.


Pria itu memegang dadanya yang terkena tendangan kuat, lalu yang lainnya ikut menyerang bersama. Melihat istrinya sedang di keroyok, membuat Angkasa segera masuk ke arena pertarungan.


" Kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Jingga yang masih dalam posisi siaga.


" Aku tidak apa-apa," jawab Angkasa.


Saat mereka kembali bertarung, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi, membuat keempat pria itu berlari meninggalkan Angkasa dan jingga.


Akhirnya, Jingga bisa bernafas lega. Tubuhnya terasa lelah akibat berkelahi melawan beberapa pria itu. Sedangkan Angkasa segera mengambil tas istrinya yang tercecer di tanah.


" Apakah ada masalah miss?" tanya seorang polisi.


Jingga masih mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. " Saya tadi copet dan di sedang, tapi mereka sudah pergi," pungkas Jingga.

__ADS_1


" Lalu, apakah ada yang hilang atau terluka?" tanya polisi itu lagi.


Jingga menggeleng.


Setelah memastikan semuanya aman, polisi itu pamit pergi.


" Kamu benar-benar gila sayang, kenapa kamu mengejar dan melawan mereka tanpa rasa takut! Apakah kamu tidak peduli dengan keselamatanmu? "omel Angkasa.


" Maaf, habisnya banyak barang-barang penting di dalam tas itu."


" Lebih penting mana, nyawa atau tas itu?" ujar Angkasa dengan wajah marah.


Jingga langsung memeluk lengan suaminya." Sudah ya ... Jangan marah, yang penting aku kan masih selamat dan baik-baik saja! "ungkap Jingga.


" Aku bukan marah, hanya khawatir takut kalau___" Angkasa tak bisa melanjutkan ucapannya tatkala jari telunjuk Jingga sudah berada bibirnya.


" Sudah ya, aku tahu kamu khawatir. Maaf."


Angkasa menggeleng, lalu menangkup wajah Jingga dengan tatapan sendu.


"Kamu tidak perlu minta maaf, karena seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Bahkan, aku kalah cepat saat mengejar pencopet itu." Angkasa memang merasa sangat bersalah karena dia kalah kuat dari sang istri.


Sepertinya aku harus lebih banyak berlatih lagi agar bisa menjaga wanita perkasa ini! Batin Angkasa dalam hati, lalu memeluk Jingga dengan erat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2