Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 27


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil Van, terlihat seorang wanita yang terus memantau Angkasa dari layar monitor di depannya. Meskipun seorang Dokter Obygn, Jingga sedikit tahu tentang membaca mimik wajah, karena dia pernah mempelajarinya sekilas.


Saat melihat seringai di bibir Lim dari layar monitor, Jingga mempunyai firasat buruk yang akan terjadi. Mengetahui sedikit cerita tentang Lim dari Angkasa, membuat Jingga bisa menebak bahwa dia orang yang licik dan tidak bisa di percayai perkataannya.


Awalnya, Mereka akan bergerak jika Angkasa sudah memberikan aba-aba. Namun, Jingga sudah lebih dulu mengerahkan semua anak buah Angkasa untuk mendekat ke bangunan rumah kosong itu dengan posisi siaga satu.


Baru beberapa detik Jingga memberikan aba-aba, apa yang ditakutkannya. Sudah terjadi.


" Bala bantuan segera keluar!" titah Jingga dengan menggunakan alat penghubung di tangannya.


Mendengar aba-aba dari Jingga yang menyuruh mereka keluar, semuanya segera berlari menyerbu rumah kosong itu. Ternyata Angkasa sudah di serang oleh anak buah Lim.


Ucapan yang mengatakan damai asal Angkasa mau datang sendiri dengan beberapa dokumen penting itu, ternyata hanya jebakan dan omong kosong belaka. Untung saja Jingga peka, dan ikut. Andai dia tidak ikut, entah apa yang akan terjadi.


Angkasa cukup terkejut, ketika bala bantuan datang dengan cepat tanpa ada aba-aba darinya. Melihat Angkasa yang sama liciknya, membuat Lim semakin marah dan mengerahkan semuanya untuk menyerang. Dia ingin Angkasa dan Hendra mati malam ini juga. 


Sebenarnya dari awal Angkasa sudah main licik, dokumen yang di berikan pada Lim adalah dokumen palsu. Angkasa tak sebodoh itu, hanya dalam keselamatan dia sedikit lalai.


Melihat pertarungan semakin sengit, akhirnya Jingga turun juga dari mobil dengan membawa pistol yang dia bawa.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan saling bersahutan di ruangan itu. Ketika melihat ada seseorang tersembunyi yang sudah menargetkan ingin menembak ke arah Angkasa, Jingga segera berlari untuk menolongnya.


" A, kamu tidak apa-apa?" tanya Jingga ketika melihat wajah Angkasa yang sudah sangat pucat.


Memori ketika Angkasa menyaksikan Kakek, nenek, dan saudara kembarnya tertembak dengan orang misterius kembali terulang. Saat itu, Angkasa masih kecil, dia belum mempunyai kemampuan apa-apa. Saat kejadian, dia benar-benar hanya bisa menyaksikan orang-orang itu membunuh anggota keluarganya dengan tragis.

__ADS_1


Sejak kejadian itu, A memiliki trauma mendalam dengan pistol, bahkan suaranya saja sudah membuat A gemetaran. Kejadian itu pula yang membuat dia selalu di manja oleh mamanya.


" A, kamu tenang ya. Aku ada di sini untuk kamu jadi jangan takut!" Jingga mencoba menenangkan Angkasa. Dari raut wajah Angkasa, Jingga tahu jika dia sepertinya memiliki phobia atau trauma di masa lalu.


Untung saja mereka bisa selamat, melihat wanita yang di cintai Angkasa menolongnya. Membuat Lim semakin murka.


" Baiklah, karena kamu sudah masuk dalam permainan, maka matilah juga kamu!"gumam Lim yang sudah mengarahkan pistol ke arah di mana Jingga dan Angkasa berada.


Menyadari Lim yang sedang membidik sebuah peluru ke arah Jingga, dengan sigap, Angkasa memutar posisi tubuh mereka.


Demi menyelamatkan orang yang di cintainya, Angkasa mencoba melawan rasa trauma itu. Biasanya dia akan terus gemeteran, diam di tempat dan berkeringat dingin jika traumanya kembali.


Dor


Dor


Dada Angkasa membusung, ketika sebuah peluru mengenai lengannya. Darah segar putu bercucuran keluar.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Angkasa dengan suara lirih pada Jingga.


" A ... Kamu ___" tenggorokan Jingga tercekat.


" I love you." satu kalimat terakhir yang terucap dari bibir Angkasa sebelum dia ambruk dan tak sadarkan diri.


" A, bangun ... Jangan pergi ..." kini air mata Jingga sudah menetes seraya menggoyangkan tubuh Angkasa agar dia bangun.


Tak lama setelah itu, segerombolan mobil polisi dan para intel datang. Melihat begitu banyak bala bantuan datang, membuat Lim kelabakan dan berusaha untuk lari. Namun, sebuah tembakan mengenai betis kakinya, membuat Lim jatuh.


Beberapa polisi segera menangkap Lim, dan memborgol tangannya. Rumah kosong itu benar-benar sudah menjadi lautan manusia yang terluka akibat pertarungan sengit. Untungnya anak buah Angkasa semuanya memakai pengaman anti peluru sehingga mereka hanya terluka ringan, tidak seperti anak buah Lim.


" A ... Jangan bercanda. Kamu menggunakan pengaman, kan?" Jingga melihat luka di tubuh A, ternyata peluru mengenai tubuhnya yang tak terlindungi rompi anti peluru. Hal itu membuat Jingga semakin panik.

__ADS_1


" Tolong, panggilkan ambulance!" titah Jingga. Untungnya Jingga juga sudah memanggil ambulance untuk datang karena papa Angkasa terluka.


Beberapa orang segera membantu mengangkat tubuh Angkasa naik ke atas brankar dan membawanya masuk ke dalam mobil ambulance. Karena ada banyak yang terluka, mereka memanggil beberapa ambulance lagi.


Jingga terus menemani Angkasa di dalam mobil. Tangannya terus menggenggam erat tangan Angkasa yang dingin.


" A ..., bertahanlah ... Jangan pergi dulu ... Bukankah kamu mengatakan akan menang dengan kondisi selamat?" Jingga terus meracau di dalam mobil ambulance.


Para anggita medis hanya diam saja, melibat kepanikan Jingga.


" Bisakah lebih cepat?" bentak Jingga yang sudah tak peduli dengan apapun. Yang dia pedulikan saat ini, mereka segera sampai di rumah sakit, dan A segera mendapatkan pertolongan.


" Anda tenang nona, Pasien sudah mendapatkan pertolongan pertama dan lukanya juga di bagian yang masih aman. Jadi, kemudian selamat cukup tinggi," ungkap salah satu tenaga medis.


Dia tahu wanita di sampingnya ini panik, tapi jika dia menyuruh supir untuk menambah kecepatan lagi, kemungkinan bukan hanya pria ini yang tak selamat, tapi nyawa mereka semua juga terancam.


" Tenang? Bagaimana anda bisa menyuruh saya tenang di saat calon suami saya tak sadarkan diri seperti ini!" bentak Jingga.


Sebagai seorang Dokter, seharusnya Jingga tahu hal itu. Sebenarnya bukan luka tembakan yang membuat Angkasa tak sadarkan diri, melainkan rasa traumanya. Namun, kepanikan membuat Jingga tak bisa berpikir jernih.


Petugas medis itu ingin menanggapi Jingga yang membentaknya, namun segera di tahan oleh temannya. Seorang keluarga pasien yang terserang panik, akan seperti ini itu adalah hal wajar. Kita sebagai tenaga medis harus lebih sabar menghadapinya.


Tak lama kemudian, mobil ambulance yang membawa Angkasa sudah sampai di rumah sakit. Mereka segera membawa Angkasa masuk ke ruangan UGD. Wajah panik Jingga membuat dia terus mondar-mandir di depan ruangan UGD.


Tuhan ... Tolong selamatkan dia, jangan kau ambil dia dulu. Baru saja aku bisa merasakan jatuh cinta kepada pria, apakah engkau tega mengambilnya secepat ini? Doa Jingga dalam hati.


Jika waktu boleh di ulang kembali, Jingga ingin menjawab lamaran Angkasa terlebih dahulu sebelum menyuruhnya mengangkat telepon. Ya ... Jingga sudah jatuh cinta dengan pria itu. Dia sudah berhasil meruntuhkan tembok pertahan Jingga.


Senyumannya, tatapannya, perhatiannya, serta cinta tulus yang ia berikan membuat hati Jingga tersentuh.


Pria yang awalnya dia anggap aneh dan gila, justru satu-satunya pria yang mampu membuat Jingga jatuh cinta, bukan hanya rasa kagum belaka. Ini adalah pertama kalinya Jingga takut kehilangan seorang pria dalam hidupnya.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya


__ADS_2