
Untungnya semalam, Kak Sa mendengar pembicaraan Hendra di telepon bahwa dia ingin menemui Jingga. Saat itu, Kak Sa sudah mempunyai firasat buruk bahwa Hendra akan melakukan hal yang sama seperti pada kekasih A tiga tahun lalu.
Mengingat bagaimana terpukulnya A saat itu, membuat Safwana tidak akan tinggal diam. Kali ini, dia akan membantu sang adik karena dia bisa melihat bahwa A sangat mencintai Jingga.
Pagi tadi, sebelum misi di jalankan kak Sa menemui Hendra untuk bernegosiasi. Jika terbukti Jingga mencintai A bukan karena Harta, Hendra harus merestui pernikahan mereka, begitupun sebaliknya. Hendra yang percaya diri, menerima saja tantangan dari Safwana, karena dia yakin wanita seperti Jingga hanya menyukai Angkasa karena hartanya saja.
" Sa, apakah kamu tidak terlalu berlebihan?" tanya Hendra yang ikut terkejut saat mendengar Safwana ingin menikahkan Angkasa dan Jingga sekarang juga.
" Apanya yang berlebihan, Pa? Sa hanya mau sedia payung sebelum hujan saja. Takutnya, nanti akan ada yang mengingkari kesepakatan," sindir Sa.
" Apa maksudmu berbicara seperti itu, huh?"
Safwana berjalan mendekati Hendra, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga sang Papa.
" Bukankah Sa sudah menang taruhan? Jadi terserah Sa mau berbuat apa, Papa cukup menyetujuinya saja! "bisik Sa untuk mengingatkan kembali bahwa Hendra sudah kalah taruhan.
" Kak, sebenarnya ini ada apa?" tanya A yang masih bingung dengan maksud dari kakaknya itu.
Menikah secara dadakan, tanpa persiapan? Itu bukan keinginan A, karena dia ingin menyiapkan pernikahannya semaksimal mungkin.
" Kamu masih mau menikah dengan Jingga tidak?" bukannya menjawab, Safwana justru bertanya kembali.
" Tentu saja!" jawab A cepat.
Safwana tersenyum saat melihat wajah adiknya saat ini." Jika kamu masih mau menikah sama Jingga. Ikuti saran kakak untuk menikah sekarang juga, kalau tidak nanti akan ada yang berubah pikiran!" jelas Sa.
Saat mengetahui bahwa dia akan menang, Safwana tiba-tiba mempunyai rencana baru. Dia akan menikahkan Angkasa dan Jingga sekarang juga karena takutnya, Hendra akan melakukan sesuatu yang tidak di sangka-sangka.
__ADS_1
" Tapi, Kak___" Jingga yang sejak tadi diam karena terkejut, kini mulai membuka suara.
" Sudah, kalian tenang saja. Kakak sudah menyiapkan semuanya!" Safwana menepuk tangannya, lalu munculah seorang penghulu, Elia, Runi, Reno dan juga Simon.
Saat feelingnya mengatakan bahwa dia akan menang, Safwana langsung menyuruh anak buahnya untuk memanggil penghulu, tukang rias, dan juga sahabat - sahabat Jingga. Saat mengetahui bahwa ayah Jingga sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, membuat semuanya semakin mudah, karena tak perlu meminta restu lagi pada ayahnya.
" Jingga ..." seru Elia yang berlari menghampiri Jingga.
" Kamu gapapa, kan?" tanya Elia sembari mengecek tubuh Jingga yang masih utuh.
" Ini sebenarnya ada apa?" tanya Runi yang tak tahu apa-apa. Dia yang baru saja keluar dari rumah sakit jadi bingung, saat tiba-tiba ada orang tak di kenal memaksa membawa mereka dengan mengatakan bahwa sahabatnya akan menikah sekarang.
Kaget? Tentu saja.
Jingga menggeleng karena dia sendiri juga bingung. Setelah itu, Kak Sa menyuruh seseorang untuk membantu Jingga dan Angkasa berganti pakaian. Meskipun hanya menikah secara agama dulu, mereka tetap harus di make up layaknya pengantin sungguhan.
Angkasa yang sudah siap, duduk di kursi yang berhadapan dengan penghulu. Gugup, satu kata yang sedang melanda diri Angkasa. Dia takut kalau belum bisa mengucapkan kalimat ijab qabul dengan benar.
" Kak, Jingga tidak disandingkan?" tanya Angkasa pada kak Sa.
" Belum lah, kalian kan belum halal. Jadi, belum di sandingkan," jelas Safwana.
" Tapi ___"
" Sudah, jangan protes terus! Lakukanlah saja ijab qabulnya, biar cepat bisa bertemu dengan Jingga.
" Bagaimana, apakah sudah siap? "tanya sang penghulu.
__ADS_1
Angkasa mengangguk, lalu mereka berjabat tangan. Di karenakan dadakan, dan belum melakukan persiapan yang matang, membuat Angkasa salah terus dalam mengucapkan ijab Qabul.
" A, rileks ... Kalau salah satu kali lagi. Pernikahan kalian akan gagal, apa kamu tidak kasihan dengan kakak yang sudah bersusah payah untuk menyiapkan semuanya? Nanti akan kakak kasih hadiah istimewa!" Safwana mencoba menyemangati Angkasa.
" Lagian, kakak sendiri juga tidak memberi kode terlebih dulu. Andai bilang, aku kan ada persiapan! "gerutu Angkasa.
" Kamu bukan anak kecil lagi, nggak usah suka menggerutu! Masak hanya ijab qabul saja salah terus! " hina Safwana yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Angkasa.
Sedangkan di ruangan lain, terlihat Jingga yang ikut gugup saat melihat Angkasa salah terus.
" Kamu gugup, Ji? "tanya Elia saat melihat wajah tegang sahabatnya itu.
" Enggak kok, " elak Jingga.
" Tenang, doakan saja biar Angkasa lulus yang sekali lagi, " ucap Runi menenangkan.
" Kayak ujian saja, lulus! "
" Bagaimana saudara Angkasa, apakah sudah siap? "tanya penghulu yang ketiga kalinya.
Angkasa menarik nafas panjang, lalu kembali berjabat tangan dengan sang penghulu.
...****************...
Kira-kira lulus nggak ya...
Maaf baru up, karena author lagi demam, ini saja mencoba menguatkan untuk nulis. Di musim pancaroba seperti ini, jaga kesehatan semua ya....
__ADS_1