Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 25


__ADS_3

Tiba-tiba Angkasa mengeluarkan sebuah kotak persegi dari sakunya. Awalnya dia memang ingin melamar Jingga sekali lagi di tempat yang jauh lebih romantis. Namun, kejadian tak terduga terjadi, membuat rencana itu gagal.


Meskipun tidak dalam suasana romantis, tapi suasana hati Jingga sedang dalam mode bahagia. Jadi, Angkasa bertekad melamar Jingga, dia sudah tak mau menundanya lagi, karena semakin kesini Angkasa tak ingin kehilangan Jingga. Dia ingin bisa hidup bersama Jingga seperti ini seterusnya, bukan hanya sesaat.


Angkasa menarik nafas dalam-dalam agar rasa gugupnya sedikit menghilang. Lalu berjalan ke arah dimana Jingga duduk. Dia berlutut di hadapan Jingga dengan membuka kotak persegi yang di dalamnya terdapat cincin berlian.


Tuhan, apa lagi yang akan terjadi? Apakah dia ingin melamarku lagi? Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Jingga kamu harus bisa rileks jangan tegang ataupun gugup. Mana Jingga yang tak mempan dengan bualan manis pria buaya?


"Jingga ... Aku tahu, mungkin suasananya tidak romantis seperti di dalam drama. Tapi, tekad 'ku sudah bulat. Aku ingin selamanya kamu ada di sampingku, menemaniku dalam keadaan susah maupun senang. Aku bahagia ketika kita bisa tidur seranjang bersama, memasak makanan enak untukmu, dan melihatmu tersenyum bahagia memakan masakan ku. "


" Aku ingin seterusnya bisa melakukan itu. Kamu bagaikan cahaya yang datang di saat aku merasa kesepian. Kamu, adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila karena mencintaimu. "


" Bahkan, dari awal kita bertemu, kamu sudah mencuri perhatian dan hatiku. Jingga Pramudita, maukah kamu menikah denganku? Menjadi teman hidupku sampai tua nanti? "


Tidak terasa air mata Angkasa jatuh membasahi pipi karena apa yang dia ucapkan benar-benar tulus dari lubuk hati paling dalam.


Padahal ini bukanlah pertama kalinya ada pria yang melamarnya dengan mengucapkan kata-kata manis. Bahkan, beberapa hari lalu, Haikal juga melamarnya di depan umum dengan dekorasi yang sangat cantik dan romantis. Tapi, itu tak mampu membuat hatinya tersentuh, justru membuatnya malu sampai ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut.


Tapi, malam ini Angkasa mampu membuat hatinya tersentuh. Entah mengapa sejak kejadian beberapa hari lalu, wajah Angkasa terus saja hadir dalam pikirannya, bahkan dia terus menunggu kabar dari Angkasa yang sempat menghilang.


Apakah aku sudah jatuh cinta dengan pria aneh bin gila ini? Tapi, apa yang membuatku jatuh cinta?


"Gimana Ji? Apakah kamu menerima lamaranku?" tanya Angkasa untuk memastikan lagi karena Jingga hanya diam tanpa kata.


Ji adalah panggilan baru dari Angkasa karena para reader author tidak suka panggilan Jingga sebelumnya.


" A, maaf aku___"


"Kalau kamu belum bisa menerima tidak apa-apa," sela Angkasa sebelum Jingga melanjutkan ucapannya.


Kemudian, A melepaskan kalungnya, dan memasukkan cincin itu ke dalam kalung tersebut. Lalu, memakaikannya ke leher Jingga.


"Pakailah dulu sebagai kalung agar kamu ingat bahwa ada pria yang sedang menunggu kamu bisa memakai cincin itu di jari manis!" ungkap Angkasa dengan tersenyum.


"Tapi, A bukan__" ucapan Jingga terhenti ketika dering ponsel Angkasa terus berbunyi tanpa henti. Membuat suasana semakin tidak kondusif.

__ADS_1


"Kamu mau bilang apa, Ji?" tanya Angkasa penasaran dengan apa yang ingin Jingga katakan.


"Lebih baik, kamu angkat dulu teleponnya. Siapa tahu penting," ujar Jingga. Karena dia juga jadi tidak bisa fokus dengan apa yang ingin di katakan.


Siapa sih yang menelpon? Mengganggu orang saja! Gerutu Angkasa dalam hati.


Terpaksa Angkasa bangun, dan berjalan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Angkasa mengerutkan keningnya ketika melihat nomor tanpa nama.


"Halo, siapa ini?" tanya Angkasa dengan nada dingin pada seseorang di ujung telepon.


"Selamat malam A," salam orang itu.


Angkasa sedikit terkejut ketika mendengar suara tak asing itu meneleponnya.


"Oh, ternyata kamu Lem? Ada apa kamu meneleponku, huh?"ketus Angkasa. Dia merasa sangat kesal karena Lim sudah menganggu waktunya bersama Jingga.


" Namaku itu Lim bukan Lem!" pungkas Lim yang tak terima Angkasa salah menyebut namanya.


Hahahaha


"Kurang ajar! Kamu hanya anak manja, jangan berbicara tidak sopan denganku!"


Hahahaha ...


Angkasa kembali tertawa mendengar Lim menyebutnya sebagai anak manja.


"Hei Lem fox! Kamu menyebutku anak manja? Tapi, apakah kamu lupa bahwa anak manja ini jauh lebih hebat dan unggul darimu?"


Tangan Lim mengepal, rahangnya mengeras, aura kemarahan tercetak jelas di wajahnya. Dia tidak terima di hina seperti ini oleh Angkasa.


" Dengar A, mungkin sekarang kamu masih bisa tertawa, dan menghinaku. Tapi, kita lihat apakah kamu masih bisa seperti itu, setelah melihat vidio yang aku kirim!"tukas Lim.


Angkasa menyipitkan matanya. Perasaanya tiba-tiba tidak enak seakan sesuatu buruk akan terjadi.


" Apa maksudmu Lim? Jangan macam-macam kamu! "bentak Angkasa. Namun, panggilan sudah di putuskan sepihak oleh Lim.

__ADS_1


Melihat Angkasa yang berteriak-teriak, membuat Jingga penasaran dan mencoba menghampiri Angkasa untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Setelah panggilan terputus, sebuah notifikasi masuk. Angkasa segera membukanya, bola matanya membulat sempurna ketika melihat vidio apa yang di kirim Lim.


"Papa," lirih Angkasa ketika melihat siapa orang yang ada di dalam vidio itu.


Mata Angkasa memerah, dadanya terasa sesak dan bergemuruh, amarahnya sudah memuncak melihat Lim sedang memukuli ayahnya sampai babak belur.


Ponsel itu seketika jatuh dari tangan Angkasa, membuat Jingga mengambilnya. Jingga ikut terkejut saat melihat vidio pendek yang ada di layar ponsel Angkasa. Vidio kekerasan yang sangat mengerikan.


Tanpa berpikir panjang, A segera pergi untuk menyelamatkan papanya. Meskipun papanya suka mengekangnya, dia masih tetap ayahnya yang baik.


"A, kamu mau kemana?" Jingga mengejar Angkasa dan mencekal tangannya agar dia berhenti.


Angkasa mencakup wajah Jingga. "Ji, kamu di sini saja ya. Aku ingin menyelamatkan papaku dulu, setelah selesai aku akan kembali ke sini untuk menjemputmu, " ucap Angkasa, lalu mengecup kening Jingga sekilas.


Kemudian, dia berlalu pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Jingga masih menggenggam erat tangannya.


" Aku ikut kamu,"pinta Jingga.


Angkasa membalikan tubuhnya menghadap ke Jingga. " Ji, jangan ... Ini berbahaya, aku tidak mau ___"


" A, bukankah kamu sudah tahu jika aku lebih pandai ilmu bela diri dan menembak daripada kamu?" sela Jingga. "Biarkan aku membantumu, ya?" pinta Jingga tulus. Entah kenapa Jingga sangat khawatir dan takut sesuatu akan terjadi jika dia tidak ikut bersama Angkasa.


Angkasa menggeleng, dia tidak ingin membahayakan wanita yang sangat dicintainya.


"Ji, No!" tolak A dengan penuh penekanan.


Tapi, Jingga tetap keras kepala dan ingin ikut Angkasa. Bahkan dia tak mau melepaskan tangan Angkasa untuk pergi dan meninggalkan dirinya sendiri di sini.


Dengan berat hati, akhirnya Angkasa setuju membawa Jingga bersamanya. Mereka berjalan bersama dengan tangan yang terus bergandengan menuju kapal di pinggir pantai.


Seperti sebelumnya, A naik terlebih dahulu, lalu membantu Jingga untuk naik. Angkasa segera membangunkan Nahkoda yang masih tertidur untuk membawa mereka keluar pulau.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2