
" Hei, Kamu benar Jingga, 'Kan?" tanya Rendris lagi saat Jingga hanya terdiam.
" Kamu mengenal istri saya?" tanya Angkasa pada pria itu.
" Istri? Kamu sudah menikah Jingga? Wow ... Fantastik! Aku tidak menyangka bahwa seorang Jingga pramudita akan menikah, Dan ..." Rendris terdiam sejenak sembari memperhatikan penampilan Angkasa.
" Dan apa? "tanya Angkasa penasaran. Namun, Jingga justru mengajak Angkasa untuk segera pergi dari sana. Jingga malas berurusan dengan pria ini, jangankan berurusan, melihat wajahnya saja ingin muntah.
" Dan ... Sepertinya seleramu berubah drastis menjadi lebih suka dengan pria cantik dan imut! " kata Rendris dengan senyuman merendahkan.
" Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kamu menghinaku? " kesal Angkasa tatkala mendengar pria asing ini merendahkan dirinya.
" Apa aku berkata seperti itu? " Rendris bertanya kembali seakan tak menerima tuduhan Angkasa bahwa ia tengah menghina dirinya.
" Sudahlah sayang, kita pergi saja. Tidak perlu menghiraukan ucapan anjing gila yang hanya suka menggonggong!" sarkas Jingga yang sedang tak ingin ribut ataupun berkelahi.
Rendris terbelalak tatkala mendengar ucapan Jingga yang seakan menghinanya kembali dengan menyebutnya sebagai anjing gila.
" Kamu! "tunjuk Rendris dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Jingga berjalan mendekati Rendris.
" Aku kenapa, huh? Predator **** seperti kamu itu sama sekali tidak pantas menilai atau menghina suamiku! " hina Jingga, lalu menarik lengan Angkasa untuk segera pergi dari tempat itu.
Jingga tidak mau berlama-lama melihat wajah pria penghianat itu. Andai tidak sedang berada di tempat umum, mungkin Jingga sudah merobek mulutnya yang telah merendahkan Angkasa.
Kurang ajar! Berani-beraninya dia menghinaku. Awas saja kamu Jingga, akan ku beri perhitungan kamu nanti.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di rumah, Angkasa segera membawa semua belanjaannya dan meletakkannya di meja. Melihat wajah kusut istrinya, membuat Angkasa jadi penasaran dengan pria yang mereka temui tadi. Pasalnya, wajah Jingga seketika terlihat murung setelah bertemu dengannya.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Angkasa yang mencoba mendekati istrinya.
" Kamu yakin?" tanya Angkasa memastikan.
Jingga mengangguk dan berpura-pura tersenyum agar suaminya itu tidak curiga dan khawatir.
" Yasudah, kamu tadi bilang lapar, kan? Mau di masakin apa, hem?" tanya Angkasa dengan mendekatkan wajahnya pada sang istri.
__ADS_1
" Nggak usah, sepertinya aku sudah tidak lapar lagi. Jadi Lebih baik, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Jingga.
" Seriusan, udah nggak lapar? "
Jingga mengangguk.
Angkasa mencoba memperhatikan ekspresi wajah istrinya, dia yakin kalau ada sesuatu yang sedang Jingga sembunyikan.
Apa pria tadi adalah orang di masa lalu Jingga? Batin Angkasa yang sedikit curiga bahwa pria itu adalah mantan kekasih Jingga. Namun, dia tidak ingin membahasnya sekarang karena Jingga terlihat sedang bad mood. Jika di bahas sekarang yang ada bisa membuat mereka berdua bertengkar.
" Sudah sana, katanya pekerjaannya masih banyak," Jingga mendorong tubuh Angkasa agar segera pergi ke ruang kerjanya. Di penthouse itu memang tersedia satu ruangan untuk tempat kerja Angkasa karena dia memang bekerja dari rumah.
" Itu, bahan-bahan makanannya ... " Angkasa menunjuk ke bahan makanan yang masih tergeletak di atas meja dapur.
" Untuk itu, biar akau saja yang urus! Kamu kerja saja, oke!" pungkas Jingga.
Angkasa tersenyum serta mengecup kening istrinya sekilas, lalu melangkah pergi menuju ruang kerjanya. Sedangkan Jingga mencoba menata bahan makanan untuk di masukkan ke dalam kulkas.
Mood Jingga benar-benar berubah menjadi buruk setelah bertemu dengan Rendris sang mantan kekasih yang dulu pernah menghianatinya. Jingga tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan pria itu lagi, bahkan dia sempat merendahkan Angkasa.
__ADS_1
Semoga ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan pria menyebalkan itu! Gumam Jingga dalam hati. Lalu, ia kembali melanjutkan memasukkan bahan-bahan makanan yang baru saja ia beli ke dalam lemari pendingin.
...****************...