
"Apakah kamu melupakanku?" tanya Haikal.
Mita mengerutkan dahinya. "Maksudnya?" tanyanya yang masih belum mengerti. Begitulah Mita, dia mudah melupakan wajah orang yang sekali atau dua kali dia temui.
" Kamu, serius lupa dengan wajah tampan ini?" goda Haikal. Dia benar-benar tidak terima Mita bisa melupakan wajahnya.
Mita mencoba mengingat-ingat kembali, namun tetap tidak tahu siapa pria asing yang ada di depannya saat ini.
Haikal memundurkan wajahnya ketika melihat Mita masih belum juga mengingatnya.
Sakit? Bukan sakit, lebih tepatnya malu. Mita pasti akan berpikir bahwa Haikal adalah pria aneh yang narsis.
Haikal menghembuskan nafas beratnya, kemudian berlalu pergi.
" Tunggu!," panggil Mita yang seketika membuat Haikal menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Mita.
" Ada apa?" tanya Haikal dengan ekspresi cool.
" Terimakasih karena sudah mau membantuku," ucap Mita dengan penuh kesungguhan. Akibat kesal, membuat Mita lupa kalau dia harus berterima kasih pada pria yang sudah menolongnya dari kumpulan geng orang tidak punya hati nurani.
" Sama-sama, lain kali kamu jangan mau di tindas sama anak-anak seperti mereka" nasehat Haikal.
Mita menaikkan sudut bibirnya berbentuk seringai. " Aku juga tadi sebenarnya sudah mau memukul mereka tapi ___"
__ADS_1
" Wanita elegan itu, tidak suka main kekerasan, tapi main cantik dengan otaknya!" sela Haikal.
" Jadi kamu mau bilang kalau aku ___"
" Bukan, aku hanya ingin mengingatkan saja!" tukas Haikal, kemudian berlalu pergi.
Sedangkan Mita menggerutu kesal karena pria asing itu terus menyela ucapannya, bahkan menghinanya juga.
Eh, sebentar ... katanya dia tadi bukan menghina, tapi mengingatkan. Apa benar begitu? Gumam Mita.
Dari kecil, Mita sudah tidak punya Ibu. Dia hanya tinggal bersama ayah dan kakak laki-lakinya sehingga membentuk kepribadian dirinya seperti seorang pria. Tidak bisa berdandan, bersikap feminim layaknya seorang gadis pada umumnya.
...☘️☘️☘️...
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik yang masuk ke dalam.
" Apakah sudah menunggu lama?" tanya Jingga sembari mencium tangan suaminya. Ini sudah menjadi kebiasaan mereka jika bertemu dan berpisah.
" Lumayan, gimana pekerjaannya?" tanya Angkasa.
" Seperti biasanya, melelahkan," jawab Jingga dengan merebahkan tubuhnya di kursi.
" Kasihan istriku, capek ya ... Mau jalan-jalan atau pulang ke rumah?" tawar Angkasa sembari mengusap puncak kepala Jingga.
__ADS_1
" Em, pulang ke rumah aja," sahut Jingga. Dia ingin segera pulang ke rumah, mandi berendam dan bersantai ria bersama Angkasa.
Sejak menikah, Jingga lebih suka langsung pulang di rumah. Karena menurutnya lebih privasi dan leluasa jika ingin bermesraan dengan suaminya. Maklum, pengantin baru yang masih anget-angetnya.
Angkasa tersenyum, dan segera menginjak pedal gas, mengemudikan mobilnya melaju ke penthouse miliknya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di parkiran apartemen. Seperti biasanya, Angkasa akan membukakan pintu untuk Jingga seperti seorang putri. Kemudian, mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan.
" Oh, ya sayang ... Bagaimana soal rencana resepsi? Apakah sudah beres semua? Maaf, aku tidak bisa membantu mempersiapkan resepsi pernikahan kita," ujar Jingga merasa bersalah.
Selama beberapa hari ini, Angkasa memang hanya sendirian dalam mengurus acara resepsi pernikahan mereka karena Jingga belum bisa mengambil cuti. Bahkan, jadwal operasinya sangat padat akibat dia akan mengambil cuti tiga hari untuk honeymoon setelah acara resepsi di gelar.
" Tidak masalah sayang, aku tahu kamu sibuk. Yang penting, kita jadi honeymoon kan?" tanya Angkasa untuk memastikan.
" Tentu saja jadi, aku sudah mengambil cuti. Tapi, ya ... gitu hanya bisa tiga hari," ungkap Jingga dengan wajah sedih.
Angkasa tersenyum," tidak masalah, tiga hari sudah cukup, daripada tidak sama sekali."
Jingga terharu, dia benar-benar bersyukur bisa memiliki suami yang sabar dan pengertian seperti Angkasa. Dia benar-benar bisa merasakan bahwa kehidupan pernikahan tidak seburuk seperti yang ada di dalam pikirannya dulu.
" Makasih ya, A ... kamu sudah menjadi suami yang perfect bagiku!" ucap Jingga sambil meluncurkan sebuah ciuman di pipi Angkasa. Lalu berlari masuk ke dalam kamar dan segera mandi. Takutnya, Angkasa akan meminta lebih dari itu, sedangkan dia belum mandi dan bau keringat.
...****************...
__ADS_1