
Di saat moodnya masih dalam keadaan buruk, tiba-tiba masalah datang kembali. Tiba-tiba ban mobil Haikal bocor, membuat dia semakin merasa kesal.
" Sialan! Kenapa hari ini sial banget sih hidup gue!" gerutu Haikal sambil menendang ban mobilnya. Bukannya Ban bisa kembali tak bocor, justru kakinya yang terasa sakit akibat terlalu kerasa menendangnya.
Kesialan Haikal tidak berhenti di situ saja, tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai kepalanya.
" Au, "pekik Haikal saat kepalanya terpukul sesuatu.
" Astaga! " bola mata cewek itu membulat sempurna ketika menyadari bahwa botol kaleng bekas yang ia tendang mengenai kepala seseorang.
Karena merasa bersalah, cewek itu segera berlari menghampiri pria itu untuk meminta maaf.
" Maaf ya ... Kak, aku___"
" Jadi kamu yang menendang kaleng sembarangan?" amuk Haikal.
Cewek itu mengangguk takut-takut saat melihat wajah Haikal yang marah.
" Lain kali, kalau ada kaleng kosong itu di buang ke tempat sampah, bukannya di tendang sembarangan ke orang!" tukas Haikal.
" Niat awalnya tadi juga gitu, tapi___."
" Tapi, apa?" tanya Haikal saat gadis itu tidak melanjutkan ucapannya.
" Tapi kebablasan, " lanjut gadis itu.
Haikal mengerutkan keningnya, membuat gadis itu menunjuk sebuah tempat sampah di belakang Haikal.
" Astaga ..., " Haikal menepuk jidatnya ketika menyadari bahwa berhenti di dekat tempat sampah. Pantas saja sejak tadi seperti mencium sesuatu yang aneh, ternyata dekat dengan pembuangan sampai.
__ADS_1
Gadis itu jadi ikut bingung saat melihat Haikal menepuk jidatnya.
Apakah aku masih salah lagi? Batin gadis itu.
" Apa ada masalah kak?" gadis itu memberanikan untuk bercanda.
" Kalaupun ada juga kamu tidak akan bisa membantu," tukas Haikal yang segera berjalan menuju bagasi mobilnya untuk mengambil ban serep sekaligus alat - alatnya.
Tapi, lagi-lagi kesialan berpihak padanya. Alat-alat tempurnya tidak ada di bagasi, membuat Haikal semakin frustasi.
" Hei, gadis kecil! "panggil Haikal ketika gadis itu mau pergi.
" Namaku Mita, bukan gadis kecil! "sungut gadis itu yang tidak terima di panggil gadis kecil.
" Oke, Mie__"
" Bukan Mie, tapi MITA," ulang gadis itu dengan penuh penekanan.
Gadis itu mengangguk, membuat Haikal sedikit lega.
" Kalau jalan, berapa jauh? Atau ada nomor yang bisa di hubungi, soalnya ban mobil saya bocor!" jelas Haikal.
" Oh ... Sebentar." gadis bernama Mita itu segera menelpon kakaknya. Karena kebetulan, pemilik bengkel itu adalah kakak Mita.
" Ada ban serepnya nggak?" tanya Mita.
" Ada kok, hanya alat-alat saja yang lupa bawa. "
Tak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian otomotif datang menghampiri mereka. Tanpa basa basi, pria itu segera mengganti ban mobil Haikal.
__ADS_1
" Makasih, ya," ujar Haikal sembari memberikan beberapa lembar kepada Mita. Namun, di tolak.
" Tidak perlu," tolak Mita.
" Ambil saja, buat tanda terimakasih," ucap Haikal.
" Tidak perlu bro, cukup bayar jasa gue saja sudah cukup!" bukan Mita yang menjawab, melainkan pria otomotif itu sembari merangkul Vita.
Haikal mengangguk, lalu memasukkan uang itu kembali. Setelah itu, Mita dan abangnya pamit pergi duluan. Karena tidak mau berlama-lama di tempat itu dengan cuaca yang cukup panas, membuat Haikal memutuskan untuk segera pergi juga.
...☘️☘️☘️...
Untungnya Arsy mudah di bujuk dengan di iming-imingi bahwa besok akan di ajak jalan-jalan ke kebun binatang oleh Angkasa, sudah membuatnya memberi izin. Meskipun kadang belum bersikap dewasa, soal membujuk anak kecil Angkasa cukup berpengalaman karena sering membujuk Luke dulu.
Saat Safwana belum menikah lagi, Luke memang tinggal bersama di mansion utama, dan Angkasa juga sering menjaganya karena dia suka anak kecil. Jadi, saat Jingga meminta izin untuk menginap semalam di rumah Elia agar Arsy tidak ngambek lagi. Membuat Angkasa mencoba untuk membujuknya, dan berhasil.
Sebelumnya, Angkasa menanyakan dulu apa kesukaan Arsy, dan dia suka binatang. Jadi, mengajak liburan ke kebun binatang adalah cara jitu.
Setelah mendapatkan izin dari Arsy, Jingga bisa pergi dengan perasaan lega campur sedih karena sekarang hidup berpisah dengan putrinya. Sesampainya di penthouse, mereka benar-benar di buat terkejut dengan suasana tempat itu yang gelap. Namun, di penuhi dengan lilin-lilin kecil yang sudah seperti jalan kenangan.
" A ... Kapan kamu menyiapkannya?" tanya Jingga saat melihat penthousenya terlihat sangat romantis.
A menggeleng sekaligus tersenyum, karena bukan dia yang menyiapkan ini semua.
" Apakah kamu suka?" tanya A sembari memeluk tubuh Jingga dari belakang.
" Em ... Not bad, " jawab Jingga.
Mendengar jawaban Jingga yang seperti itu, membuat Angkasa kesal sekaligus gemas. Ia menciumi pipi Jingga gemas sampai membuatnya merasa geli.
__ADS_1
" A ... Cukup, geli! " seru Jingga.
...****************...