Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Nasehat Mama


__ADS_3

Aisyah terus terbayang ucapan Ryu, padahal sudah lima hari berlalu, tapi ucapan Ryu seakan baru saja dia dengar. Akibat dari ucapan pemuda itu, Aisyah menjadi kurang fokus saat belajar, untung saja dia masih bisa mengejar yang lain.


Seperti malam ini, saat dia belajar dan menunggu kabar dari Ryu yang sedang latihan, dia justru teringat akan kejadian di senin pagi itu.


"Aku yang akan menjadi suami mu Aisyah, bukan orang lain. Jadi, aku mohon kenalkan aku dengan Tuhan mu. Kenalkan saja dulu, meskipun aku tak tahu akan seperti apa akhirnya, tapi aku akan berusaha cinta dengan Tuhan mu seperti kamu mencintai Tuhan mu. Kamu tidak perlu memaksa ku, jika aku menyerah, berarti memang itu keputusanku, dan sebaliknya," ucapan itulah yang ternginag dalam benak Aisyah, dia tak menyangka seorang Ryu yang tak pernah mengenal yang namanya kepercayaan, justru meminta dirinya untuk mengenalkan agama yang dia anut, tentu Aisyah sangat bahagia meski tak berharap lebih.


Aisyah memilih untuk menelpon ibunya karena dia tak fokus belajar, dia ingin mengadukan semua keluh kesahnya pada sang Mama. Melihat jam ternyata belum terlalu malam, jarak waktu yang tak terlalu panjang membuatnya bisa menghubungi sang Mama saat ini juga.


Menanyakan kabar sang Mama, dan kegiatan hari-hari Mamanya itu, hingga dia menceritakan apa yang sedang dialaminya.


"Sejak kapan kamu pacaran sama idol itu? Apa itu tidak masalah? Mama takut terjadi sesuatu dengan mu," Mama tentu sangat mengkhawatirkan putrinua yang tinggal jauh darinya, ditambah putrinya itu kini sudah memiliki kekasih dan parahnya kekasih putrinya tersebut adalah idola.


"Satu bulan yang lalu Mah. Mama tenang aja dia baik kok, enggak seperti yang Mama bayangkan," Aisyah mencoba menenangkan kegundahan sang Mama.


"Tapi sayang, Mama tahu seperti apa kehidupan idol-idol itu, Mama takut kamu ikut seperti mereka, Mama tidak rela jika itu terjadi," orang tua akan tetap khawatir meski anaknya mengatakan akan baik-baik saja sekalipun.


"Tidak Ma, aku jarang bertemu dengan mereka. Aku hanya bertemu dengan Ryu, itu pun kalau hari minggu, dia selalu sibuk, jadi Mama jangan khawatir ya," Aisyah menjelaskan keadaan di sini tak seperti yang Mama pikirkan, karena mungkin Mama mengira jika dirinya akan ikut minum arak bersama idolanya itu.


"Sebenarnya aku ingin meminta pendapat Mama," Aisyah mulai menceritakan kegundahannya. Dia mengatakan semua yang dikatakan oleh Ryu tanpa terlewat sedikit pun, sebab dia sudah hafal di luar kepala.


"Menurut Mama, turuti apa yang dia inginkan, kamu tidak boleh memaksanya, dan jangan lupa doakan dia dalam setiap lantunan doa yang kamu langit kan, terutama saat sepertiga malam, jika kamu memang menginginkan dia menjadi imam mu kelak," tutur Mama, sedikit lebih lega setelah mendengar penjelasan Aisyah tentang Ryu yang ingin mempelajari agamanya.

__ADS_1


"Mama, terimakasih ya. Aku akan mengikuti semua saran Mama, tolong doakan aku yah Ma. Rasanya aku sudah lega, karena sudah menceritakan semua ini dan mendapatkan nasehat terbaik dari Mama," sahut Aisyah dengan binar bahagia. Karena waktu sudah larut malam, akhirnya Aisyah mengakhiri panggilan tersebut, dia sudah lega sekarang.


"Kemana sih kamu sayang? Ih, dari tadi Dm ku enggak di bales," Aisyah cemberut saat melihat pesan yang dia kirim ke Ryu, tapi belum dibalas oleh pemuda itu.


Saat dia akan naik ke kamarnya, terdengar belum rumahnya berbunyi, dia sedikit ragu untuk membuka pintu, sebab ini sudah larut malam. Jika yang datang orang jahat bagaimana? Tapi jika yang datang Ryu, pasti kekasihnya itu akan marah jika dia tak membukakan pintu.


"Kalau Ryu, dia pasti langsung masuk, dia kan tahu paswordnya," gumam gadis itu.


Tapi langkahnya sudah mendekat ke arah pintu, dia melihat siapa yang berada di depan pintu kamarnya, dan ternyata itu adalah lelaki yang baru saja dia bahas bersama sang Mama.


"Ryu, sayang! Apa yang terjadi dengan mu? Hei! Kamu mabuk ya!" Aisyah terkejut mendapati wajah Ryu, terdapat beberapa lebam di area kedua pipinya dan bibir yang sedikit bengkak, pasti telah terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu. Keterkejutannya bertambah saat Ryu terlihat sempoyongan seperti seorang yang sedang mabuk berat.


"Sweetheart, kenapa aku di bawa ke kamar mu? Aku tidak mau," ucap Ryu sedikit tak jelas. Dia berontak ingin turun dari tangga tersebut, tapi Aisyah kembali menuntunnya ke loteng dengan sekuat tenaga.


"Aku tidak tega melihatmu tidur di sofa, apalagi keadaan mu seperti ini," Aisyah tetap menjawab meski dia tahu Ryu tak mendnegarkannya.


Setelah susah payah membawa tubuh besar dan tinggi kekasihnya itu, Aisyah akhirnya berhasil membaringkan tubuh Ryu di atas ranjangnya. Dia mulai membuka sepatu, dan jam tangan yang dipakai pemuda itu. Lalu mengambil kotak p3k untuk mengobati luka diwajah tampan Ryu.


"Kamu kenapa sih? Tawuran? Atau demo karena BBM naik? Sampai-sampai babak belur gini?" omel Aisyah saat membersihkan luka di wajah Ryu.


"Sweetheart, aku merindukanmu, tapi kenapa malam ini kamu cerewet sekali?" Ryu mencoba menyentuh pipi Aisyah, tapi gadis itu langsung menghindar.

__ADS_1


"Jangan pegang aku, kalau bau aneh ini belum hilang." tolak Aisyah.


"Aku rindu kamu sayang." Ryu terus berusaha meraih wajah Aisyah tapi gadis itu kini justru meninggalkan dirinya, entah kemana.


Aisyah kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa baskom berisi air hangat dan juga waslap, dia berniat membersihkan wajah dan kaki Ryu menggunakan waslap, karena dia tak tahan dengan bau alkohol yang tercium dari mulut Ryu.


"Aku salah ya, harusnya aku bersihkan dulu wajahmu setelah itu aku obati," gumam Aisyah saat menyadari kesalahannya.


Selesai membersihkan wajah, kaki dan tangan Ryu, dia pun mengembalikan baskom tersebut ke tempat semula dan kembali ke kamar. Dia akan tidur di lantai dekat tempat tidur, sebab tak mungkin mereka tidur dalam satu ranjang.


"Meskipun wajahmu babak belur seperti ini, kamu tetap tampan Ryu." Aisyah memandang wajah pemuda itu yang sudah terlelap.


Tiba-tiba dia mengecup pipi Ryu yang terlihat membiru, "Semoga cepat sembuh, ya," ucapnya, dia merasa malu sendiri karena telah mencuri ciuman di pipi kekasihnya itu saat Ryu tertidur.


Aisyah memilih menyelimuti tubuh Ryu, lalu menuju tempat tidurnya sementara yang hanya beralaskan karpet dan sebuah selimut tebal.


Tanpa Aisyah sadari, Ryu tersenyum mendapatkan perlakuan seperti ini, dia memang mabuk tapi dia masih menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya.


"Kamu mulai berani ya," ucapnya dalam hati. Dia bahagia karena Aisyah berinisitif seperti itu, padahal sebelumnya dia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2