Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

Malam semakin larut tapi tak menturutkan seorang Ryuga untuk pulang ke apartemennya, karena sang kekasih menyuruhnya untuk pulang. Meskipun lelah mendera, dia tak mungkin mengabaikan pesan kekasihnya, apalagi jika kekasih tercintanya itu ada di apartmennya saat ini. Kebahagiaannya pasti berlipat ganda.


Ryu masuk ke dalam apartemen miliknya tepat pukul sebelas malam. Dia tersenyum saat melihat seseorang tidur di sofa dengan menutup seluruh tubuhnya. Dugaannya pasti tidak salah, jika itu kekasihnya. Tanpa pikir panjang dia pun langsung memeluk tubuh tersebut.


"Aku sudah menduga, kau pasti di sini," ucapnya.


"Aisyah sepertinya tidak sebesar ini?" gumamnya saat menyadari tubuh yang dia peluk tersebut cukup besar, dan parfum yang tercium di indra penciumannya bukan parfum yang biasa Aisyah pakai, melainkan parfum maskulin pria.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa memelukku seperti itu?"


Ryu terkejut saat mendengar ucapan seorang lelaki yang terasa begitu dekat dengannya. Saat mendongakkan kepala dia makin terkejut, karena yang dia peluk bukanlah Aisyah, melainkan seorang lelaki paruh baya yang tadi bersama Aisyah. Dia pun langsung melepaskan pelukan tersebut, diiringi gelak tawa dari arah kamar atas yang sangat dia kenal. Ya, itu adalah tawa Aisyah.


"Maafkan saya Tuan," ucap Ryu pada lelaki itu menggunakan bahasanya.


"Aku tak mengerti bahasa mu," sahut Papa Fadly yang tadi sempat dipeluk oleh Ryu.


"Gimana Pa dapat pelukan dari cowok keren?" tanya Aisyah dengan mengedipkan matanya.


"Jadi, kamu sengaja mengerjai dia. Papa pikir kamu tega membiarkan Papa tidur di sofa," sahut Papa yang baru mengerti akan rencana Aisyah. Dia mengikuti apa ucapan putrinya untuk tidur di sofa sementara waktu sebelum pemilik apartemen itu kbali, karena sebentar lagi pemilik apartemen akan pulang, tanpa dia tahu jika pemilik apartemen itu adalah kekasih putrinya.


"Maafkan aku Pa, sekarang Papa boleh masuk kamar yang itu. Atau mau kamar atas juga tidak apa-apa," sahut Aisyah.


"Baiklah, Papa masuk kamar. Kalian berdua jangan macam-macam!" Papa menatap Aisyah bergantian dengan Ryu yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Ayah dan anak itu.


"Papa tenang aja," jawab Aisyah.


"Dia Papa mu? Kalian sudah baikan? Syukurlah," tanya Ryu setelah Papa menghilang dibalik pintu kamar.

__ADS_1


"Iya, aku mencoba untuk berdamai dengan masa lalu, semoga ini berhasil meskipun aku tak mengharapkan banyak dengan ini semua," jawab Aisyah.


Ryu menghampiri gadis itu lalu memeluk tubuh Aisyah erat, "Aku merindukanmu," ucapnya.


"Papa bilang jangan macam-macam! Apa yang kalian lakukan itu!" teriak Papa Fadly.


Ryu langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan Papa Aisyah begitu dekat dengan telinganya. Dan benar saja saat dia menoleh, lelaki paruh baya itu sudah berdiri di belakangnya dengan berkacak pinggang.


"Tahu begini aku tidak akan pulang," batin Ryu. Dia seperti kepergok merusak anak orang jika seperti ini, apalagi tatapan mata Papa Aisyah begitu tajam menghunus hingga ke jantungnya.


"Maafkan saya Tuan," kali ini Ryu menggunakan bahasa internasional untuk meminta maaf dengan Papa Aisyah.


"Sekarang kalian berdua juga masuk kamar, ini sudah tengah malam. Papa takut kalian khilaf. Suruh dia masuk kamar." Papa menatap dua sejoli itu secara bergantian.


"Iya Pa," jawab Aisyah.


"Kalian jangan menginap di tempat yang sama lagi seperti ini, besok kamu harus kembali ke apartemen mu sendiri. Kali ini Papa maafkan karena ada Papa di sini." Papa memperingati, dan Aisyah mengiykan supaya semuanya cepat selesai.


"Papa, saya permisi masuk ke kamar. Papa selamat istirahat, maaf untuk kelancangan ku tadi," pamit Ryu menggunakan bahasa internasional.


Papa mengangguk, dia sebenarnya sengaja ingin melihat seperti apa lelaki yang sangat dicintai putrinya itu. Dia tentu tak rela jika putrinya jatuh ke tangan lelaki tidak baik, meskipun dia juga tak yakin jika hubungan mereka akan berlangsung lama. Mengingat perbedaan mereka yang tak bisa disatukan.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Pagi sekali Ryu harus kembali ke HS untuk persiapan konser ke dua nanti malam. Dia terbangun saat kegelapan masih menyelimuti bumi. Tanpa pikir panjang, dia langsung naik ke lantai dua diakan kekasihnya berada.


"Sweetheart, buka pintunya sebentar, aku mau bicara." Ryu mengetuk pintu pelan, tak ingin membangunkan Papa Aisyah. Dia tahu jika Aisyah sudah bangun dijam sepagi ini.

__ADS_1


Aisyah yang mendengar bisikan suara Ryu dari depan pintu, langsung membuka pintu kamar tersebut, senyum mengembang di bibirnya saat melihat penampilan Ryu yang masih berantakan, "Tumben sepagi ini sudah bangun," ucapnya.


Ryu tak menyahuti ucapan Aisyah, dia langsung mendorong Aisyah dan memeluk kekasihnya itu setelah menutup pintu menggunakan kakinya. "Aku merindukan mu." Ucapnya.


Aisyah membalas pelukan tersbeur, dia juga merindukan Ryu, apalagi setelah kejadian penculikan itu. Dia sebenarnya ingin selalu bersama Ryu, tapi keadaan yang tak memungkinkan apalagi ditambah kedatangan sang Papa. "Aku juga merindukan mu," sahut Aisyah.


Mereka berpelukan cukup lama hingga Ryu melepaskan pelukan tersebut lebih dahulu, dia takut Papa Aisyah terbangun dan langsung mencari putrinya. Ryu menatap wajah kekasihnya penuh damba, lalu mengecup kening dan kedua pipi gadis itu.


"Aku harus segera kembali ke HS. Nanti malam kamu harus datang lagi ya, Eun Ji akan menjemputmu. Dan tolong sampaikan permohonan maaf ke Papa kamu, karena aku harus pergi sepagi ini, tak enak jika harus membangunkannya." Pesan Ryu panjang lebar.


"Pasti akan aku sampaikan, Papa juga akan pulang pagi ini." Jawab Aisyah, dia mengecup salah satu pipi Ryu setelah mengatakan hal itu.


"Satu lagi, yang lain iri nanti." Ryu mengetuk sebelah pipinya yang tidak mendapatkan kecupan dari Aisyah.


Dengan wajah bersemu Aisyah kembali mengecup pipi Ryu yang satunya, lalu dia mendorong tubuh pemuda itu untuk keluar dari kamar. Tak akan baik jika mereka berlama-lama di dalam kamar apalagi dalam suasana musim dingin seperti ini.


Pagi yang masih gelap itu, Ryu meninggalkan apartemen tanpa berpamitan dengan Papa Aisyah. Dia tak mau mengganggu tidur nyenyak lelaki paruh baya tersebut, meski sebenarnya dia ingin berbincang panjang lebar dengan Papa Aisyah. Mungkin lain kali.


Pagi menjelang siang, Aisyah mengantar sang Papa ke rumah Tuan Park sebelum ke bandara. Papa Aisyah akan berpamitan dengan Tuan Park terlebih dahulu, karena berkat lelaki itu Fadly bisa mendekati putrinya.


"Terimakasih untuk waktu yang kau berikan, akhirnya aku bisa dekat dengan putriku," ucap Fadly pada Tuan Park saat mereka sudah berada di ruang kerja Tuan Park.


"Tak masalah untuk itu, dia masih putri kandung mu, asalkan kamu tak melupakan kesepakatan kita," sahut Tuan Park.


"Tentu saja, aku tak akan melupakan kesepakatan itu. Biarkan aku bahagia dengannya saat ini sebelum dia bahagia dengan mu," sahut Papa Fadly.


Tanpa mereka sadari percakapan dua lelaki setengah baya itu terdengar oleh seorang gadis berhijab yang kini di kedua pipinya mengalir deras air mata berharganya.

__ADS_1


"Keterlaluan! Kau bukan Papa ku!" ucapnya lalu meninggalkan rumah mewah itu dengan meninggalkan pesan pada Bibi Cha.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2