
Selesai ijab qobul dan segala hal yang bersangkutan dengan itu, semua tamu yang hadir dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Di sisi lain, kedua pengantin sedang asik jadi rebutan dia sahabat Aisyah yang ingin berfoto. Beberapa gaya mereka lakukan untuk mengabadikan momen tersebut. Sesuai rencana, tak boleh ada satu pun orang yang memotret menggunakan ponsel mereka pribadi dan itu dijaga sangat ketat oleh pengawal.
"Nanti kalian berdua aku kasi fotonya, tapi janji jangan di upload di sosmed," Aisyah memperingati kedua sahabatnya.
"Siap kalau itu, rahasia bakalan aman," sahut Nita.
"Lo enggak usah khawatir." Santi pun ikut menyahuti.
"Papa boleh ikut foto enggak?" Fadly datang bersama Tuan Park dari ruang keluarga setelah menemani para tamu makan.
"Boleh sekali Pa, ini momen langka yang harus diabadikan," jawab Ryu, sedangkan Aisyah hanya diam.
Akhirnya mereka berdua foto dengan Papa Fadly. Lelaki itu terlihat bahagia, meskipun dia sedikit merasa bersalah pada putrinya. Entah kenapa dia baru menyadari setelah menikahkan Aisyah, jika dirinya memiliki banyak kesalahan pada putrinya. Dia menyesali keputusannya menukar Aisyah dengan Agam. Jika saja, dahulu dia tak menukar putrinya, mungkin saat ini Aisyah akan bermanja dengannya, tidak seperti dia dan Agam yang sering kali adu argumen dan menjadikan mereka tak akur.
"Tan, ikut foto dong sama Papanya Aisyah, sekali aja ya Tan," pinta Nita pada Winda.
Wanita itu menggeleng, "Tadi kan tante udah foto bareng kalian," jawabnya.
"Tan, ini momen yang terjadi seumur hidup sekali lholho. Apa Tante enggak menyesal nantinya?" Nita terus membujuk Winda supaya ikut berfoto dengan Papanya Aisyah.
Winda pun menghela napas panjang, "Baiklah Tante mau foto, tapi sekali aja." Dia pun beranjak dan ikut foto bersama. Hanya satu kali potretan saja yang dia setujui, tetapi saat akan meninggalkan tempat pemotretan itu, suara Tuan Park menghentikan niatannya.
"Sebentar Bu Winda, kita foto sekali lagi bersama saya." Tuan Park menghampiri mereka, dia berdiri di samping Mama Winda, sedangkan Fadly berdiri tepat disamping Aisyah, seorang diri. Winda sama sekali tak merasa keberatan, dia justru merasa lebih baik seperti itu.
Tak lama semua tamu pun berpamitan untuk pulang. Bahkan Fadly pun berpamitan pulang, dia tak mau berlama-lama di sini, karena Dewi akan curiga, jika dia tak kembali pulang tepat waktu. Tanpa dia ketahui, Dewi sudah curiga dengan kepergiannya, bahkan putranya sudah menyusul ke tempat Aisyah.
Tuan Park juga ikut berpamitan tak lama setelah Fadly pergi. "Aisyah, kalau kamu khawatir dengan Mama mu, ajaklah dia tinggal di sana, saya siap mengurus semuanya," ucapnya saat akan berpamitan pada Aisyah dan Ryu.
__ADS_1
"Akan saya bujuk Paman, tetapi untuk saat ini sepertinya Mama belum siap," sahut Aisyah.
"Baiklah, semoga dia berubah pikiran. Sekarang saya pamit ya, kalian berdua harus segera kembali, Paman tunggu di sana." Tuan Park pun meninggalkan rumah Aisyah.
Di rumah itu hanya tersisa kedua sahabat Aisyah dan dua karyawan Mama Winda serta Mama Nita yang masih sibuk di dapur. Semua orang sudah pergi, bahkan perias pun ikut pergi bersama tamu yang lain.
"Ryu, biarkan kami di sini sebentar ya, boleh kan? Aku masih ingin bersama sahabat ku," pinta Santi pada Ryu saat kedua pengantin itu masuk ke dalam kamar.
Ryu tak menjawab. Pemuda itu justru duduk dengan santai di sofa sambil melepas tuxedo berwarna putih yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Dia seakan tak mendengar ucapan Santi barusan.
"Kalian tidak akan melakukan enak-enak di siang bolonga, kan?" Santi kembali melontarkan pertanyaan, membuat Aisyah melebarkab kedua bola matanya menatap sahabatnya itu.
"Sepertinya ide yang bagus, jadi kalian mengerti kan maksud saya?" Ryu menatap Santi dan Nita dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Santai saja, kita sebentar lagi pulang. Tunggu lima sampai sepuluh menit lagi yah, aku mau peluk Aisyah sebentar." Nita meyahut, dia tahu jika Ryu hanya bercanda, tetapi Santi menanggapi serius ucapan Ryu.
Ryu tersenyum lalu mengangguk, berbeda saat menanggapi ucapan dua sahabat Aisyah, "Nikamtilah kebersamaan mu dengan kedua sahabat mu itu, aku lapar mau makan." Dia pun beranjak dari tempat duduknya, bermaksud untuk mencari makan.
"Biar aku siapin." Aisyah berdiri, dia tak bisa membiarkan Ryu mencari makan seorang diri.
"Tak perlu sayang, kamu lihat penampilan mu masih seperti ini. Lepas dulu kebayanya, biar kamu enggak kesulitan. Tenang aja aku bisa cari makanan sendiri." Ryu menatap penampilan Aisyah yang terlihat sulit untuk bergerak banyak.
"Baiklah, aku akan menggantinya dengan baju biasa," sahut Aisyah.
"Mereka berdua pasti mau membantu mu melepaskannya. Aku keluar dulu ya." Ryu mengecup bibir Aisyah sekilas sebelum meninggalkan kamar itu, membuat Nita dan Santi terpana anak kelakuan Ryu.
"Gue iri," celetuk Santi.
__ADS_1
"Gue yang masih polos ini ternodai, ahh!" Nita sedikit berteriak, dia ikut baper dengan apa yang dilakukan Ryu.
Aisyah tersipu malu karena kelakuan Ryu. Dia tak bisa menahan rasa panas di seluruh wajahnya. Jika saja, wajahnya tak bermake-up, sudah dipastikan akan merona, dan dia akan menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya.
"Ciee, dapat kecupan. Uh, jadi pengen dapat kecupan juga," cetus Santi saat Aisyah kembali duduk di sisi ranjang.
"Gimana rasanya dikecup sama idola plus suami?" tanya Nita asal ceplos.
"Apaan sih kalian berdua, udah deh jangan ganggu gue terus. Ngambek nih." Aisyah sengaja pura-pura merajuk, sebab dia tak mau menjadi bahan ejekan dua sahabatnya.
"Jangan ngambek dong, pengantin kok ngambek. Ntar malam pertamanya gatot lhoh." Nita mencolek dagu Aisyah, membuat sahabatnya itu makin cemberut.
"Tau ah kalian ini. Tolong jangan bahan itu di depan Ryu, gue kan malu." Aisyah menatap kedua sahabatnya, mengiba.
"Berarti kalau enggak ada Ryu boleh dong. Oke gini ... em, gue kasih tips untuk malam pertama kalian nanti," sahut Santi, dia berperan sebagai seorang yang sudah berpengalaman.
"Lo harus berendam selama beberapa menit dengan sabun mawar, biar tubuh Lo harum. Nanti Ryu pasti bakalan suka. Sama satu lagu, Lo harus potong kuku. Coba gue lihat kukunya." Santi memeriksa kuku Aisyah. "Panjang ini, harus di potong. Mana potong kukunya? Jangan sampai kuku tajam Lo ini nyakitin tubuh indah Ryu," lanjutnya.
"Lo muji tubuh laki gue? Lo pernah lihat emang?" Aisyah tak terima jika ada orang yang menganggu kisah tubuh suaminya, padahal seluruh fangirl suaminya mengagumi tubuh tersebut tanpa dia ketahui tentunya.
"Penganten sensi amat perasaan. Nit, mana ginting kukunya?" Santi meminta penotong kuku yang sejak tadi dicari oleh Nita tetapi belum ditemukan.
"Ada di laci meja rias Nit, buka aja enggak apa-apa," ucap Aisyah.
"Nah, ini dia." Nita pun menemukan gunting kuku tersebut dan memberikannya pada Santi.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1