Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Masa Depanku


__ADS_3

"Bun, bunda!" Agam berteriak sambil mencari sang bunda yang entah ada di mana. Dia baru saja masuk ke dalam rumah dan langsung berteriak seperti itu, entah apa yang terjadi.


"Apa sih Nak, kenapa teriak-teriak gitu?" Bunda Dewi menghampiri putranya.


"Bun, aku baru saja dari kantor, tapi Papa enggak ada. Kata sekretarisnya Papa keluar kota, apa Papa bilang sama Bunda?" tanya Agam. Sejak dia mendengarkan cerita dari sang bunda, Agam sering mengawasi Papanya.


"Kamu tenang dulu, duduk terus minum." Dewi memberikan segelas air putih pada putranya.


"Papa bilang kok sama Bunda, kalau mau ke luar kota. Kamu enggak usah curiga gitu sama Papa, dia orangnya baik tak mungkin melakukan seperti apa yang kamu curigai," tutur Dewi.


"Bun, Bunda percaya gitu aja sama Papa? Kalau ke luar kota untuk kerja, sudah pasti sekretarisnya diajak," sahut Agam.


Dewi terdiam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan oleh putranya. "Mungkin Papa lagi enggak butuh sekretaris. Udah ah, Bunda mau lanjut buat cemilan." Dia meninggalkan Agam di ruang makan.


Agam, pemuda itu menelepon Pak Taufik, sopir di rumah itu yang sering diajak Papa pergi kemanapun. Dia yakin kali ini Papa juga mengajak Pak Taufik ikut serta, dan dia harus mendapatkan informasi dari sopir tersebut. Tak butuh waktu lama panggilannya pun dijawab oleh Pak Taufik.


"Bapak dimana sekarang?" tanyanya setelah sambungan telepon itu terjawab.


"Den Agam mau pergi? Saya di belakang Den, kalau Aden mau pergi saya siap mengantar," jawab Pak Taufik.


"Enggak ikut Papa?" tanya Agam.


"Enggak Den, Bapak pergi dengan sopir kantor. Beliau mau bertemu dengan Tuan Park di luar kota." Pak Taufik mengatakan yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Ya udah, makasih Pak." Agam langsung menutup panggilan teleponnya.


"Tumben banget Papa pergi enggak sama Pak Taufik, sama sopir kantor? Terus mau bertemu Tuan Park? Kenapa enggak ketemu di sini aja? Bisanya Tuan Park kesini, kan?" gumam Agam, dia curiga dengan kepergian sang papa.


"Harus gue selidiki lagi nih. Pasti ada sesuatu yang sedang Papa lakukan." Agam bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Tanpa Agam duga, sejak tadi sang bunda terus mengawasinya. Dia sebenarnya terusik dengan ucapan Agam, apalagi setelah mendengar percakapan Agam dan Pak Taufik. Akan tetapi dia tak bisa berbuat lebih selain mempercayai suaminya.


"Mas, semoga saja kamu tidak melakukan hal yang membuat ku kecewa di luar sana. Rasanya aku tak sanggup lagi jika harus menerima kenyataan pahit seperti dulu," gumamnya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Di rumah Aisyah, acara pernikahan Aisyah dan Ryu akan segera di langsungkan. Terhitung hanya ada sepuluh orang yang hadir dalam acara itu termasuk Tuan Park dan dua petugas KUA. Sedangkan yang lainnya adalah tetangga sekitar yang sengaja diundang, termasuk Papanya Nita, ketua RT dan RW setempat. Ketua RW, bertindak sebagai saksi dari Ryu, sedangkan Papanya Nita bertindak sebagai saksi dari Aisyah.


Saat ini Ryu sudah berhabat tangan dengan Papa Fadly, selaku Papa Aisyah. Tangan Ryu terasa dingin, bahkan sedikit bergetar. Mungkin pemuda itu gugup dengan apa yang akan dia lakukan kali ini. Sebuah kalimat sakral akhirnya terucao dari bibir pemuda itu dengan satu tarikan nafas dan lancar jaya, disertai pengesahan dari para saksi. Kini dia sudah berganti status sengai seorang suami dari tadi yang sangat dia cintai.


"Selamat ya sayang, sekarang kamu adalah seorang istri dari idola kamu sendiri. Jaga nama baik suami ku, dan jadilah istri yang sholihah buat suami mu ya." Mama melepaskan pelukannya, dia menatap Aisyah lalu menghapus titik air mata dari wajah gadis itu.


"Sudah jangan nangis, nanti makeup kamu luntur, kan jadi jelek." Mama tersenyum menatap Aisyah dan gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum.


Dua gadis yang duduk tak jauh dari mereka berdua pun ikut terharu. Nita memeluk erat Santi, dia tak kuasa menahan air mata bahagia, karena sahabatnya sudah sah menjadi seorang istri. Dia tak akan bisa lagi bebas menginap di rumah ini nantinya.


"Gue terharu liat Aisyah sama Tante Winda, mereka akan terpisah jauh nantinya. Gue enggak bisa bayangin kalau jadi Tante Winda." Santi membalas pelukan Nita, dia pun ikut menangis.

__ADS_1


"San, Nit, tolong antar Aisyah keluar ya." Tante Winda menatap dua gadis itu yang sedang berpelukan dengan sebuah senyuman.


"Kalian harusnya bahagia dong, karena Aisyah sudah menemukan belahan jiwanya," lanjutnya.


"Iya Tan, kami terharu," sahut Nita dan Santi hampir bersamaan.


"Ais, ayo kita keluar. Tante juga haru ikut keluar dong. Biar aku di belakang aja." Santi mengemukakan pendapatnya.


"Iya Tan, Tante harus ikut keluar. Menyaksikan pertemuan kedua pengantin," sahut Nita.


Akhirnya Winda pun setuju ikut keluar bersama Aisyah dan dua sahabatnya. Awalnya dia tak mau keluar karena semua tamu adalah lelaki. Dia tak mau menjadi pusat perhatian para lelaki itu, meskipun sebagian dari mereka mengenalnya.


Ryu harap-harap cemas, menunggu kedatangan wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Padahal bisa dibilang mereka berdua tiap hari selalu bertemu, tetapi entah bagaimana perasaannya kali ini sangat gugup dan jantungnya berdetak tidak sesuai ritme. Dia tersenyum saat melihat gadis yang sudah dah menajdi istrinya itu keluar dengan diapit oleh Mama dan Nita. Menurutnya Aisyah terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih.


Semua orang berdiri saat pengantin wanita masuk. Mereka melantunkan sholawat untuk menyambut pengantin wanita. Papa menuntun putrinya untuk berhadapan langsung dengan Ryu dan menyerahkan putri semata wayangnya itu pasan sang menantu.


"Sekarang putriku sudah menjadi hak kamu sebagai suaminya. Aku serahkan dia pada mu. Tolong jaga dia baik-baik, jika kamu tak sanggup menjaganya, kembalikan pada kami, dengan baik-baik sepeti kamu memintanya dengan baik pula," tutur Papa. Kedua bola mata lelaki itu terlihat memerah seperti menahan tangis.


"Siap Pa, aku akan menjaga putri Papa dengan baik. Dia adalah istriku belahan jiwa ku, tak mungkin aku menyakiti dia. Aku akan menjaganya hingga akhir khayat," sahut Ryu.


Papa meraih tangan Ryu dan menyatukan tangan itu dengan tangan Aisyah. Sebagai tanda penyerahan putrinya. "Nak, sekarang pemuda di hadapan mu ini adalah suami mu, lelaki yang sangat kamu cintai. Jadilah istri yang sholihah untuk suami mu ya," ucapnya.


Aisyah mengangguk, lalu dia menyalami Ryu dan mencium punggung tangan suaminya. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya runtuh kembali. Dia melepaskan tangan Ryu, dan Ryu bergantian mencium keningnya cukup lama sambil membacakan doa yang dituntun oleh pak penghulu.

__ADS_1


"Kamu adalah masa depan ku, yang sudah aku tandai sejak pertama kali kita bertemu," bisik Ryu setelah menyelesaikan doa tersebut. Aisyah tersipu mendengar ucapan suaminya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2