
Pukul 08.00 Aisyah dan Ryu sudah keluar dari hotel tempat mereka menginap menuju rumah sakit menggunakan taksi yang mereka sewa. Ryu tak sabar ingin bertemu dengan ibunya, ingin memastikan keadaan ibunya sudah membaik. Tak lama taksi yang mereka tumpangi sampai di sebuah rumah sakit, keduanya pun bergegas untuk turun dari taksi itu.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Ryu saat dia sudah berada di dalam ruangan dokter.
"Dia terlihat lebih baik, dia sedang sarapan bersama bibi mu," jawab dokter itu.
Mereka pun bergegas menuju ruang rawat ibunya, meninggalkan dokter tersebut yang harus kembali bekerja. Dengan diantar oleh seorang perawat, Ryu dan Aisyah kini sudah berada di depan ruang rawat ibunya. Terlihat di dalam sana ibunya sedang disuapin oleh bibi Ryu.
"Apa bibiku sering ke sini Sus?" tanya Ryu.
"Biasanya dua minggu sekali, tapi ini tumben dia datang lebih awal," jawab suster itu.
Ryu mengangguk, dia tahu adik ibunya itu salah satu orang yang paling peduli diantara saudara yang lainnya. Mungkin karena dia yang paling dekat dengan ibunya sejak dahulu. Meski begitu Ryu tetap bersyukur, setidaknya masih ada yang peduli dengan ibunya.
"Kenapa enggak kamu bawa ibu ke sana saja?" tanya Aisyah, perempuan itu menatap ibu mertuanya yang ogah-ogahan saat disuapin.
"Tidak bisa sayang, ibu berkewarganegaraan sini. Sejak dulu ibu tak mau pinda warganegara, sedangkan aku jika pindah ke sini akan sangat sulit, aku juga memiliki misi di sana," jawab Ryu tanpa menatap istrinya.
"Aku rasanya enggak tega ninggalin ibu disini sendirian, Ryu. Dia pasti menderita." Aisyah iba melihat kondisi ibu mertuanya tersebut.
"Nanti kalau ibu sudah sembuh harus kita bawa kesana, aku akan menemaninya," lanjutnya.
Kali ini Ryu menoleh ke arah istrinya dengan senyum terbaiknya, "Aku bersyukur memiliki istri sepertimu. Aku janji akan membawa Mama dan Ibu hidup dengan kita nantinya," ucapnya.
Aisyah pun membalas senyuman Ryu, "Apa kita boleh masuk sekarang?" tanyanya.
"Ayo masuk, biar aku kebaikan sama bibi juga." Ryu membuka pintu ruang rawat itu perlahan, tetapi ternyata bibi dan ibunya mendengar pintu dibuka, hingga membuat mereka menoleh secara bersamaan.
__ADS_1
"Hai anak nakal! Kau itu, menikah tapi tidak bilang-bilang! Bibi mu ini kamu anggap apa?" Cerca sang bibi saat melihat kedatangan Ryu dan Aisyah.
"Urusanku dengan bibi kita tunda nanti, aku mau bertemu ibu dan ngenalin menantunya. Bibi bisa tunggu di luar, kan?" Ryu mengusir bibinya secara halus, dia ingin berbicara dengan ibunya tanpa ada yang mendengar selain ibunya dan Aisyah.
"Baiklah, bibi keluar. Hai gadis manis, bibi keluar dulu ya," wanita itu mengangguk pada Aisyah membuat Aisyah membalas anggukan nya.
"Dia tidak mengerti apa yang bibi katakan," ucap Ryu.
"Ah begitu ya," setelah itu bibi pun keluar dari kamar rawat tersebut.
"Ibu, bagaimana keadaan mu?" tanya Ryu. Dia duduk di tempat yang tadi diduduki oleh bibinya, menggenggam tangan ibunya tersebut.
Wanita itu terdiam, terus menatap Ryu seakan mengatakan jika dia merindukan putranya tersebut. Dia bahkan mengusap wajah Ryu dengan kedua tangannya. Menyelusuri seluruh wajah tampan putranya itu.
"Ibu, aku juga merindukan dirimu. Maaf, aku baru bisa datang." Ryu memeluk ibunya, dia tak sanggup melihat wanita yang telah melahirkannya itu seperti ini sekarang.
"Aku akan membalas semua perbuatan mereka pada ibu," ucap Ryu masih dalam pelukan sang ibu.
Wajah Ryu makin banjir dengan air mata, dia teringat akan ucapan itu. Ucapan yang seringkali ibu katakan saat dia masih kecil. Pujian itu selalu ibu berikan saat dia melakukan kesalahan.
"Dia pasti teman mu yang sering ngasih bekal makananya, kan? Cantik sekali." Ibu menatap Aisyah dengan sebuah senyuman.
"Ibu, dia istriku, menantu ibu. Namanya Aisyah, dia memang cantik dan baik sekali." Ryu merangkul pundak Aisyah supaya lebih dekat dengannya.
Aisyah pun menyalamai tangan ibu mertuanya, "Salam kenal ibu," ucapnya menggunakan bahasa negara Ryu, karena sejak tadi Ryu berbicara dengan ibunya menggunakan bahasa itu.
"Kamu harus hati-hati dengan ayahnya Ryu dan wanita gila itu. Mereka pasti akan mencelakai mu."
__ADS_1
Aisyah terkejut mendengar ucapan ibu. Bahkan wajah wanita itu terlihat penuh kekhawatiran saat menatapnya, seakan apa yang dibicarakan benar adanya. Aisyah tentu bingung harus mengatakan apa, akhirnya dia pun hanya mengangguk.
"Dia wanita gila! Dia rela melakukan apapun demi harta! Dia gila! Dia membu*nuh anaknya sendiri! Gila dasar gila! Hahahaha." Ibu meracau tak jelas sambil berteriak, hingga bibi terpaksa menerobos masuk.
"Kenapa ibumu Ryu?" tanya Bibi
"Aku enggak tahu Bi, tiba-tiba ibu teriak seperti itu. Apa mungkin ibu teringat pertemuannya dengan wanita sialan itu? Ah, aku benci dia, akan ku balas perbuatan mereka!" Ryu tak terima meliha kondisi ibunya yang makin memburuk setelah bertemu dengan istri ayahnya itu.
"Ryu anak baik, putra terbaik ibu. Ryu enggak boleh nakal sama temannya ya," ucap ibu yang kembali tenang setelah mendengar makian Ryu.
Ryu terkejut mendengar ucapan ibunya, itu tandanya dia tak boleh melakukan apa yang dia ucapkan. Ibunya bahkan tersenyum ke arahnya, dan kembali mengusap wajah putranya itu.
"Kamu harus jadi anak yang baik, enggak boleh nakal. Kalau Ryu nakal, terus ditangkap polisi, siapa yang akan jagain ibu?" seperti sedang menasehati anak kecil, tetapi Ryu bahagia karena ibunya masih mengingat hal kebaikan.
Ryu memeluk ibunya kembali, "Aku janji tak akan membalas mereka, tapi aku tetap akan merebut apa yang menjadi hak ku, bu. Biarkan aku melakukan itu ya, karena dengan begitu aku akan lebih tenang," ucapnya dan sang ibu puj mengangguk.
Ibu tak menjawab, dia melepaskan pelukan Ryu dan kembali menatap putranya tersebut, seakan tak bosan meanatap wajah tampan Ryu.
"Tuan, Nona, waktu berkunjung kalian sudah habis. Biarkan pasien beristirahat dahulu," ucap seorang perawat wanita.
"Terima kasih sus, kami akan keluar," sahut Bibi.
"Ibu aku pulang ya, aku janji besok akan kesini lagi." Ryu memeluk ibunya sebentar, bergantian dengan Aisyah, tetapi saat memeluk Aisyah ibu seakan tak ingin melepaskan pelukannya.
"Anak manis, ibu titip Ryu, bilang sama ibu kalau dia nakal atau bertengkar dengan temannya," ucap ibu. Entah kenapa jika berdekatan dengan Aisyah selalu memberi nasehat bijak seakan dirinya sadar sepenuhnya.
"Aku akan menjaga Ryu untuk ibu. Sekarang kami harus kembali bu, ibu sehat-sehat di sini ya, kami besok kembali," ucap Aisyah setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari ruang rawat ibu, meski berat Ryu tak mungkin melanggar peraturan di negara ini. Negara dimana ibunya berada saat ini, bahkan dilindungi di negara ini.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜