
Pagi kembali datang, Ryu belum menerima informasi apapun dari Tuan Park yang sudah berjanji akan membantunya. Dia geram sendiri memikirkan semua itu. Semalam dia tak bisa memejamkan mata sedikit pun, terus memikirkan kekasihnya itu. Ditambah Ayahnya yang selalu mengancam. Seperti pagi ini, Ryu sudah mendapatkan pesan dari Ayahnya berisi video kondisi Aisyah.
"Sial! Aku tak bisa terus begini! Lebih baik kehilangan harta dari pada Aisyah menjadi korban!" serunya setelah menonton video Aisyah.
Dalam video tersebut, Aisyah sedang berbaring di atas ranjang, dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Seorang pemuda yang tak dikenalnya berusaha menggoda Aisyah, hingga gadis itu menjerit saat pemuda sialan itu menyentuh bagian tubuh Aisyah. Tentu saja Ryu tak terima jika kekasihnya mendapatkan pelecehab seperti itu, ditambah jeritan penderitaan dari Aisyah membuatnya makin murka.
"Kau akan melihat yang lebih dari ini jika tak hari ini tak datang ke kantor Ayah," tulisan dibawah video Aisyah.
Ryu bergegas meninggalkan apartemen Aisyah, dia harus menemui Ayahnya saat ini juga. Sekarang dia tak lagi peduli dengan harta, yang terpenting Aisyah selamat dan kembali dalam dekapannya. Soal harta ibunya dia akan mencari cara lain untuk merebutnya kembali meski akan sangat sulit nantinya.
"Aku akan datang ke kantor Ayah, aku tak bisa membiarkan kekasih ku dilecehkan!" tulis Ryu dalam sebuah pesan yang dia kirim pada Tuan Park. Dia tak peduli seperti apa nanti tanggapan Tuan Park padanya, karena menurutnya lelaki itu sangat lelet dalam menyelamatkan Aisyah.
Di tempat lain, tepatnya di kamar penyekapan Aisyah. Gadis itu terus menangis setelah apa yang dilakukan lelaki tak beradab itu padanya. Meski hanya mencium pipinya saja, Aisyah tak rela, dia jijik dengan jejak bibir lelaki itu. Dia hanya berharap pertolongan akan segera datang.
"Kau lihat sendiri, kan? Kekasih bodoh mu itu tidak peduli pada mu, dia lebih memilih harta dibandingkan dirimu. Malang sekali nasibmu cantik." Lelaki itu menyentuh rahang Aisyah, lalu melepaskannya dengan kasar.
Dia terbahak saat mendapati kenyataan jika Ryu diam saja seakan tak peduli dengan kekaishnya. "Sebentar lagi kau akan jadi milikku gadis cantik. Kita akan melalui malam indah bersama," ucapnya.
"Jangan mimpi! Cuih! Aku tak sudi!" teriak Aisyah sambil meludah, dia lebih baik mati dari pada harus melayani lelaki bejat itu.
"Aku tak perlu persetujuan mu, karena kau sudah menjadi milikku." Dia kembali terbahak setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Cuih! Lebih baik aku mati!" Aisyah kembali berteriak.
"Kau tahu, kau itu sebagai bayaran bonus atas kerja keras ku, kalau kekasih bodohmu itu memilih harta, tapi kalau dia memilihmu bonus itu lebih besar sebenarnya. Tapi tak masalah jika hanya mendapatkan dirimu, sudah cukup untukku," jelas lelaki itu tanpa diminta.
__ADS_1
"Aku yakin Ryu akan melakukan yang terbaik! Dan aku yakin akan keluar dari tempat terkutuk ini!" Aisyah tak lagi bisa bersabar saat berbicara dengan orang yang sangat dia benci saat ini.
"Kita buktikan saja nanti. Sekarang kamu istirahatlah, karena nanti malam akan menjadi malam panjang kita." Lelaki itu keluar kamar tersebut dengan sebuah senyum kebahagiaan.
Aisyah hanya bisa pasrah, dia yakin tak akan mendapatkan masalah yang lebih buruk lagi di tempat itu. Dia sangat yakin jika ada orang yang akan menyelamatkan dirinya hari itu juga. Entah mendapatkan keyakinan dari mana?
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Akhirnya putra kesyanganku datang juga. Ayah bangga padamu." Tuan Kim berdiri darin kursi kebesarannya, dia menyambut kedatangan Ryu dengan suka cita.
"Katakan apa yang kau mau? Dan segera lepaskan keksih ku!" Ryu tak sabar, dia tak mau Aisyah lebih menderita lagi.
"Kau yakin? Wah, luar biasa gadis itu. Sepertinya dia patut diberi penghargaan karena segampang itu merubah keputusan putraku yang keras kepala ini. Coba dari dulu kau seperti ini, sekarang hidup mu akan aman," Tuan Kim terus berbicara membuat Ryu muak mendengar ocehan lelaki tua itu.
Tuan Kim terbahak, dia kembali ke kursi kebesarannya lalu meraih sebuah map dan menyerahkan map tersebut ke hadapan Ryu yang sudah duduk di depannya.
Ryu menerima map tersebur, dia membuka lembaran pertama dan membacanya. Tak terlalu penting, laku dia membaca halaman ke dua. Suara decakan berkali-kali terdengar dari bibir pemuda itu, bukan hanya decakan saja geraman pun terus terdengar.
"Kau gila! Aku tak percaya ibu menandatangani ini dengan suka rela! Kau pasti melakukan kecurangan!" Ryu tak lagi bisa memendam emosinya setelah membaca isi map tersebur, ditambah sebuah tanda tangan milik ibunya.
Tuan Kim terbahak, "Sangat mudah mendapatkan tanda tangan wanita gila itu," ucapnya.
Brak!
Ryu menggebrak meja lalu melempar map tersebut, "Tutup mulut mu! Ibu ku tidak gila! Kau dan wanita itu yang gila!" ucap Ryu dengan sorot mata penuh amarah, dia tak suka ibunya dikatakan gila, meski kenyataannya memang seperti itu. Ibunya mengalami gangguan jiwa karena ulah Ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, lihat ini! Tentukan pilihan mu sekarang putra ku!" Tuan Kim memperlihatkan video call dengan seseorang yang menyekap Aisyah, orang itu kembali akan melecehkan Aisyah.
"Sialan! Kau mempermainkan ku, hah!" Ryu tak bisa tinggal diam saat melihat Aisyah menjerit seperti dalam video yang dia lihat tadi.
"Ryu! Tolong aku!" teriak Aisyah dari seberang sana.
"Hei! Hentikan! Jangan sentuh dia! Menjauhlah kau dari sana, atau ku bu*nuh kau!" teriak Ryu pada seseorang di seberang sana yang kini berada di atas tubuh Aisyah, tapi belum menyentuh tubuh kekaihnya itu.
Terdengar suara tawa dari seberang sana, "Kau mau menyaksikan secara live? Baiklah, mari kita mulai!" ucap orang itu.
"Hentikan!" teriak Ryu, dia merebut ponsel Ayahnya, tapi tak berhasil sebab Ayahnya langsung menjauhkan ponsel tersebut.
"Tanda tangan, atau kau akan melihat secara live bagaimana lelaki itu melucuti pakaian keksih mu!" titah Tuan Kim.
"Brengsekk kau! Dasar se*tan! Kau tidak bisa disebut manusia lagi!" maki Ryu pada ayahnya.
"Terserah apapun yang akan kau katakan, Ayah tak peduli. Yang terpenting tanda tanganmu, cepatlah!" Tuan Kim terus mendesak Ryu untuk menandatangani berkas tersebut.
Ryu menggeram, dia bingung. Dia tak rela Aisyah diperlakukan seperti itu, tapi di sisi lain dia juga tak mau kerja keras ibunya sejak muda harus jatuh ke tangan lelaki tua itu. Dia sama sekali tak rela.
"Cepatlah putraku, waktumu hanya tinggal lima menit. Tentukan pilihanmu!" titah Tuan Kim.
Ryu kembali meraih map tersebut, mau tak mau dia harus mengorbankan salah satunya, dan dia tak mungkin mengorbankan gadis yang akan menjadi masa depannya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1