
Aisyah berjalan perlahan meninggalkan Agam. Dia masih mendengar ucapan gadis yang mendatangi Agam setelah dirinya pergi, tetapi dia tak peduli sebab Agam adalah saudaranya. Ya, mereka bersaudara meski tak lahir dalam satu rahim, karena di dalam tubuh Aisyah mengalir darah Mamanya Agam dan sebaliknya, lewat air susu ibu yang mereka konsumsi saat masih bayi.
"Ma, Agam ternyata mirip dengan Mama kalau diperhatikan, apalagi saat dia tersenyum. Harusnya Mama bertemu dengan dia," batinnya sambil berjalan menghampiri dua sahabatnya.
"Kalian kemana aja lama banget?" tanyanya.
"Biasa macet banget! Untung kita pake motor, kalau naik taksi atau angkutan umum subuh baru sampai sini," jawab Nita.
"Ais, lo tadi ngobrol sama siapa?" Santi tak sengaja melihat Aisyah mengobrol dengan seorang pemuda.
"Ah itu, gue belum cerita ya sama kalian. Intinya dia sodara gue, dia memang enggak tahu kalau kita saudaraan. Tadi juga ketemunya juga kebetulan, enggak nyangka aja bisa ketemu dia lagi. Waktu itu kita pernah bertemu di luar negeri, ternyata dia masih inget sama gue. Takdir memang semudah itu." Aisyah menatap Agam dan teman-temannya yang bersiap untuk masuk ke dalam gedung.
"Setelah ini Lo harus cerita. Malam ini Lo nginep di kos gue. Harus tidak ada penolakan!" Nita mengatakan hal itu sebab tahu jika Aisyah pasti akan menolak menginap di kosannya.
"Ryu, gimana?"
"Kita jarang banget ketemu lho Ais, kalo sama Ryu Lo ketemu terus, please malam ini aja deh, besok malam Lo bisa kelonin Ryu," sahut Santi.
Aisyah menghela nafas, "Baiklah, tapi gue naik apa dong ke sananya? Omongan Lo gue ralat, aku sama Ryu enggak pernah kaya gitu, kita pacaran seperti orang normal, ciuman juga enggak," Aisyah ingin mengatakan kegilaannya dulu, tapi menurutnya itu tak harus diceritakan pada mereka berdua. Terlalu malu jika mereka mengetahui hal itu. Memang setelah kejadian itu, mereka tak pernah lagi berciuman, karena Aisyah tetap pada pendiriannya.
"Gue becanda kali. Nanti Lo naik motor sama Nita, gue dijemput calon suami. Dia kerja di sekitar sini," jawab Santi.
"Siap, semoga aja Ryu nge bolehin. Ayo masuk." Ketiganya pun masuk ke dalam gedung tersebut.
__ADS_1
Mereka duduk di kursi VVIP dengan harga tiket termahal di antara yang lainnya. Aisyah sama sekali tak memikirkan masalah tiket, sebab Ryu yang memberinya tiga tiket itu waktu mereka masih di luar negeri.
Mereka duduk tepat di depan panggung, hingga terlihat jelas. Aisyah duduk di sisi kiri, ditengah ada Nita dan di sebelahnya tentu saja Santi. Mereka bersiap menyaksikan konser yang pertama untuk Nita dan Santi.
"Gue enggak nyangka bisa nonton langsung di sini. Gue juga enggak pernah bermimpi duduk di sini. Harus mikir seribu kali buat beli tiketnya." Santi melihat sekeliling, dia kagum dengan banyaknya penonton di belakang mereka.
"Udah enggak usah lebay. Aisyah yang udah biasa aja enggak lebay." Nita menarik tubuh Santi agar menghadap ke depan, dia malu melihat tingkah sahabatnya itu.
"Sttt, Ais, sebelah Lo cowok yang tadi bukan ya?" Santi melihat ke arah kiri Aisyah ternyata saudara Aisyah beserta teman-temannya duduk persis di sebelah mereka.
Aisyah menoleh dan langsung bertatapan dengan gadis yang duduk di sebalah Agam. "Kamu ngikutin aku ya?" tudingnya pada Agam.
"Eh, kok bisa pas gini. Kayaknya semua yang terjadi enggak cuma kebetulan aja." Agam tersenyum menatap gadis yang duduk di sebelahnya.
"Mungkin ini rencana Tuhan supaya kita lebih dekat," sahut Aisyah tanpa merasa bersalah.
"Maaf Mbak, enggak usah cemburu. Agam itu sudah aku anggap saudara," celetuk Aisyah.
"Aku juga sudah punya kekasih. Aku tak mungkin merebut Agam dari kamu, karena kami tidak mungkin bersama kecuali dalam ikatan saudara," lanjutnya.
Agam sama sekali tak mengerti dengan ucapan Aisyah. Dia mengira jika Aisyah hanya ingin menghibur gadis yang duduk disebelaunya itu. Akan tetapi tanpa dia sadari, ucapan Aisyah adalah sebuah fakta, jika mereka hanya bisa bersatu dalam ikatan saudara.
"Waow! Keren!" teriakan Santi membuat mereka semua menoleh ke atas panggung. Ternyata The Boys sudah berdiri di sana dengan gaya mereka masing-masing.
__ADS_1
"I love you Ryuga! You're very handsome!" teriak Aisyah mengikuti yang lain. Dia bisa memuji dan mengatakan cinta pada Ryu dengan puas saat melihat konser seperti ini.
"Ck, percaya yang doinya handsome." Nita menyenggol lenga Aisyah saat gadis itu berteriak.
"Sssttt, jangan kenceng-kenceng. Gue enggak mau di labrak sama fansnya. Disini gue statusnya juga fans, beda kalo di rumah." Aisyah berbisik tepat di dekat telinga Nita. Gadis itu pun mengangguk mengerti.
Mereka asyik mengikuti alunan musik yang sedang dibawakan oleh The Boys. Banyak di anatara mereka yang hafal akan lagu yang dinyanyikan boyband itu, tetapi ada juga yang sama sekali tak mengerti. Seperti halnya Agam, dia justru terus menatap seorang diatas panggung sana bergantian dengan menatap Aisyah. Merasa tak asing dengan seseorang di atas sana.
"Ssst, dia kekasih mu, kan? Tak menyangka kekasihmu seorang idol." Agam mencolek lengan Aisyah membuat gadis itu menoleh padanya.
"Sst, ini rahasia. Please jangan bilang siapapun, hanya kamu yang tahu selain orang terdekat ku. Aku enggak mau karir Ryu berantakan karena mereka mengetahui status kami." Aisyah berbisik, dia tak ingin orang lain mendengarkan ucapannya.
"Baiklah, tapi ada syaratnya." Agam menatap Aisyah menunggu gadia itu berbicara.
"Kamu itu ya, kenapa harus ada syarat segala sih? Aku enggak mau lah, nanti kamu ngasih syarat yang susah." Aisyah mendenus, dia paling tak suka jika menyangkut sebuah syarat apalagi jika itu menyusahkannya.
"Yaudah, aku akan umumin ke semuanya." Ancam Agam.
"Terserah, mereka juga enggak mungkin percaya kalau tanpa bukti." Aisyah sama sekali tak takut dengan ancaman Agam, dia merasa akan sangat sulit membuat publik percaya dengan statusnya dan Ryu, tanpa sebuah bukti nyata.
"Ck, gue ngasih syarat simple Aisyah. Enggak akan ribet, juga enggak akan nyusahin Lo. Gue cuma mau Lo bantuin gue. Pura-pura jadi pacar gue, sebentar aja. Biar gue enggak di jodohin sama cewek sebelah gue itu. Asal Lo tahu, gue sering cerita sama Bunda, setelah bertemu dengan Lo waktu itu, gue ngarang cerita kalau kita deket." Agam berbicara dengan berbisik.
Aisyah rasanya ingin tertawa mendengar cerita Agam, "Gue yakin Lo enggak akan berhasil bawa gue sebagai pacar pura-pura Lo. Bisa saja gue datang ke rumah Lo, tapi cara itu tetep aja akan gagal, percaya sama gue. Atau mau bukti?" Aisyah kini menantang Agam, sebab apa yang dikatannya itu sudah pasti benar.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, seseorang di atas panggung sejak tadi menatap pergerakan mereka. Terlihat sorot mata penuh kebebcian saat menatap Agam. Ya, dia adalah Ryu.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜