
Aisyah baru saja merebahkan diri saat ponselnya berdering. Dia pun segera meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilannya. Merasa heran dengan seseorang yang menelponnya kali ini, sebab si penelepon sudah lama sekali tak menghubunginya sejak putus dari kekasihnya. Ya, yang menelepon Aisyah adalah Lee.
"Hallo, ada apa kak Lee?" tanyanya setelah menerima panggilan itu.
"Bilang sama Ryu, kalau ibunya Sam meninggal dunia. Sejak pagi tadi ditelpon enggak dijawab, sampai ratusan kali kami menelponnya. Akhirnya aku minta nomormu sama Eun Ji. Katakan pada suami mu untuk segera ke rumah Sam. Sudah aku tutup teleponnya." Lee langsung mengakhiri panggilannya tersebut bahkan sebelum Aisyah menjawabnya.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun. Kasihan banget Sam." Aisyah tentu saja terkejut mendengar kabar duka tersebut. Diantara semua sahabat Ryu, dia memang lebih dekat dengan Lee dan Sam, karena Sam sering menjemput Ryu ke apartemennya.
"Kenapa sayang?" Ryu baru saja keluar dari kamar mandi. Dia baru saja mandi ke tiga kalinya di sore hari ini. Sama halnya dengan Aisyah. Jika saja mereka tak akan melakukan kewajibannya, mungkin saat ini mereka masih melanjutkan aktifitas di atas ranjang.
"Ryu, kemana ponsel mu? Kau tidak membawanya?" tanya Aisyah, sebab dia sejak tadi tak melihat Ryu memegang ponsel.
"Ada, sepertinya di dalam mobil. Kenapa memangnya?" Ryu sedikit lupa dimana dia meletakkan ponselnya.
"Sejak pagi tadi Lee menelpon mu, dia ngasih tahu kalau ibunya Sam meninggal dunia." Aisyah menatap suaminya yang terlihat sangat terkejut, bahkan lelaki itu menjatuhkan handuk yang sejak tadi dia gunakan untuk mengeringkan rambut.
"Kamu serius?" tanyanya.
"Hal seperti itu tak bisa dibuat bercanda Ryu, sekarang bersiaplah, aku mau ikut kamu ke rumah Sam." Aisyah beranjak dari tempat tidur menuju walk in closet, ingin mengganti pakaiannya dengan yang lebih baik.
Ryu mengikuti istrinya dari belakang, dia belum percaya sepenuhnya dengan kabar yang baru saja dia dengar. "Apa yang kamu katakan itu beneran? Jangan bilang ini cuma april mop," ucapnya.
"Ryu! Terserah kamu mau percaya atau tidak." Aisyah kesal dengan sikap suaminya yang seakan tak mempercayai ucapannya itu.
"Aku harus menghubungi mereka, kenapa bisa seperti ini sih?" Ryu merasa bersalah, sebab seharian ini sengaja meninggalkan ponselnya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri.
Mendengar ucapan Ryu, Aisyah pun langsung menahan lelaki itu, "Ganti baju dulu, nanti kamu bisa menghubungkan mereka saat di jalan," ucapnya.
Ryu menghela napas, dia melihat penampilannya yang hanya memakai handuk, lalu menatap istrinya yang sedang mencari pakaian di lemari. "Sayang, kamu enggak usah ikut aka ya, kamu pasti lelah. Lagian kamu juga masih sakit, kan?" ucapnya yang baru menyadari jika Aisyah butuh istirahat setelah dia garap seharian.
__ADS_1
Aisyah menggeleng, "Aku ingin melihat keadaan Sam dan dua saudara perempuannya, mereka pasti sangat terpukul. Apalagi kini mereka tak lagi memiliki orang tua," jawabnya tanpa menatap Ryu.
"Apa kamu tidak kelelahan nantinya kalau ikut? Aku takut kamu sakit." Ryu menyentuh dagu istrinya, lalu memutar kepala Aisyah supaya menatap dirinya.
"Aku akan baik-baik saja Ryu. Kita bisa pergi pakai sopir, karena aku tahu kamu juga lelah." Aisyah tersenyum menatap Ryu, lalu dia memberikan kecupan di bibir suaminya itu.
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku akan menghubungi sopir setelah bersiap," sahut Ryu, dia membalas kecupan di kening istrinya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Perjalanan menuju rumah Sam memakan waktu cukup lama, sebab rumah Sam berada di luar kota yang harus melewati beberapa kota untuk sampai di kota tujuannya. Selama perjalanan, Aisyah menghabiskan waktu dengan berbaring, meski tidur di dalam mobil tak begitu nyaman, tapi rasa lelah mematahkan semuanya. Sedangkan Ryu, dia sesekali mengecek keadan istrinya yang terlelap.
Hampir tengah malam mereka sampai di tempat persemayaman ibu Sam. Banyak orang yang hilir mudik di sana, membuat Aisyah tak berani untuk keluar dari mobil. Dia takut statusnya dengan Ryu akan terbongkar, sebab dia belum siap.
"Sayang, ayo kita keluar." Ryu menatap istrinya yang sejak tadi terdiam.
Ryu menggeleng, "Aku tak mungkin meninggalkanmu di sini," ucapnya.
"Bagaimana ya? Mereka sudah tahu jika kamu datang, lihatlah para wartawan itu sudah menanti kedatangan mu. Kamu keluarlah dulu, nanti aku akan menyusul. Ponselnya di aktifin, nanti aku akan menelpon mu." Aisyah memiliki rencana lain. Dia tak mau publik mengetahui hubungan mereka berdua, biarlah untuk sementara pernikahannya dengan Ryu menjadi rahasia.
Dengan berat hati, akhirnya Ryu pun keluar tanpa Aisyah. Seperti ucapan istrinya itu, wartawan langsung mengerubungi dirinya dan memberikan beberapa pertanyaan yang dia jawab dengan singkat, sebab ingin segera bertemu dengan Sam dan ketiga sahabatnya yang sudah menunggu di dalam.
"Sam, maafkan aku baru sampai sini. Aku turut berdukacita." Ryu langsung memeluk Sam saat bertemu dengan pemuda itu.
"Aku tahu kau sibuk Ryu, aku memakluminya. Terima kasih sudah bersedia datang ke sini, meninggalkan istrimu." Sam membalas pelukan Ryu, dia tak tahu jika Aisyah ikut dengan suaminya.
"Dia ikut memaksa ikut, tapi entah dimana sekarang. Dia tak mau keluar setelah melihat banyak wartawan," sahut Ryu.
Sam terkejut mendengar ucapan sahabatnya, "Ini hampir tengah malam, kenapa kamu membiarkan dia pergi sendiri?" tanyanya.
__ADS_1
"Suruh supir mu membawanya ke hotel, dia tak perlu ke sini, karena terlalu rawan dan banyak wartawan," lanjutnya.
"Kamu tak perlu memikirkannya, dia akan baik-baik saja. Dia pasti tidak mau jika tidak ke sini. Aku minta tolong, bilang ke saudara mu untuk menemaninya, maaf merepotkan di saat seperti ini." Ryu sebenarnya tak enak dengan Sam, karena dia merepotkan pemuda itu disaat duka menimpanya.
"Baiklah, aku kan menyuruh Kakak ku untuk menemaninya," sahut Sam.
Setelah berbicara cukup lama dengan Sam, Ryu pun menghampiri ketiga sahabatnya. Ikut bergabung dengan mereka bertiga yang sudah datang lebih awal.
"Kau kemana saja Ryu? Aku bahkan datang ke apartemen mu, tapi kau tak ada," Lee langsung mencerca dengan pertanyaan, karena dia yang sejak tadi mencari keberadaan Ryu.
Ryu tersenyum, "Aku pergi dengan Aisyah. Harusnya kamu tanya sama Sam, dia yang tahu dimana aku berada," jawabnya.
"Kau itu! Lain kali bawa ponsel kemanapun kau pergi, mau ke ujung dunia pun," sahut Shin.
"Baiklah, maafkan aku kali ini," timpal Ryu.
Tak lama, ponsel Ryu berbunyi, ternyata Aisyah yang mengirim pesan padanya. Istrinya itu mengatakan sudah berada di tempat itu, tetapi dia bingung mau masuk bagaimana? Sebab, banyak orang yang menatapnya aneh mungkin karena penampilannya yang berbeda.
Aisyah yang saat itu sedang berdiri di luar gedung, dia terkejut saat ada seorang gadis yang usianya terlihat seumuran darinya itu menyapa dan mengajaknya untuk masuk. "Kamu tak perlu khawatir, aku Iren kakaknya Sam. Dia yang menyuruhku untuk menjemputmu. Nanti kau mengaku saja sebagai temanku." Gadis itu tersenyum menatao Aisyah, yang sepertinya tak begitu yakin dengan ucapannya.
"Ayo, kamu tak usah takut. Aku bahkan mirip sekali dengan Sam, tapi kamu tak menyadarinya." Iren tersenyum melihat wajah Aisyah.
"Baiklah, aku percaya dengan mu. Aku turut berdua cita ya, buat ibumu. Kalian pasti berat sekali menerima semua takdir ini." Aisyah memberanikan diri memeluk Iren, meski mereka baru pertama kali bertemu.
Iren menbalas pelukan Aisyah, "Kami sudah menerima takdir ini. Ibu juga menginginkan hal ini, dia juga sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Kami baru saja mendapatkan kabar itu tadi sore, dari hasil pemeriksaan terakhirnya," ucapnya.
Aisyah mengangguk, tak menyangka jika ibu Sam ternyata sengaja mengakhiri hidup. Entah apa alasan yang membuat ibu Sam seperti itu, tetapi apapun alasannya itu tak penting saat ini, yang terpenting kehidupan putra putri nya di masa depan yang akan seperti apa tanpa orang tua.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1