
"Nit, San, maafin gue yah. Gue enggak bisa ikut kalian. Udah dijemput, dia disuruh sama Ryu. Kalau besok gimana?" Aisyah menatap penuh penyesalan kedua sahabatnya yang terlihat kecewa akan apa yang dia ucapkan.
"Yaudah, besok janji ya. Lo harus bujuk Ryu. Kita enggak ada kesempatan untuk seperti ini lagi lho Ais, bulan depan gue nikah," meskipun kecewa Santi tetap menghargai keputusan sahabatnya.
"Iya Ais, santai aja. Besok kita juga masih ketemu, kok. Kayaknya gue tahu kenapa Ryu nyuruh Lo pulang ke sana. Kabari kita kalau ada apa-apa yah. Kita duluan." Nita memeluk tubuh Aisyah sebentar bergantian dengan Santi sebelum mereka meninggalkan Aisyah.
Aisyah melambaikan tangan pada mereka berdua dengan diiringi sebuah senyuman. Dia bersyukur memiliki sahabat seperti mereka yang mengerti akan keadaan masing-masing, tetapi dia juga merasa bersalah karena tak bisa memenuhi permintaan mereka. Untuk besok malam, dia harus bisa ikut dengan mereka berdua, dia akan membujuk Ryu dengan berbagai alasan.
"Nona, Ryu sudah menunggu," ucap orang suruhan Ryu saat Aisyah masih saja mematung menatap kepergian dia sahabatnya.
"Baiklah, aku akan naik." Aisyah bergegas naik ke dalam mobil yang berdiri di belakangnya. Selama perjalanan menuju hotel, dia terus memikirkan kedua sahabatnya. Dia sebenarnya ingin sekali bersama mereka berdua, rindu dengan canda tawa yang sering mereka lewati saat bersama.
Tanpa terasa mobil tersebut sudah berhenti di basement hotel. Dia pun segera turun dari mobil menuju kamarnya. Ingin segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket.
"Mandi dulu ah, sebelum Ryu kembali." Aisyah bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia tak ingin terlihat kusut dan bau di hadapan Ryu.
Tak butuh waktu lama untuk gadis itu mandi. Kini dia sudah duduk di depan meja rias, sambil menyisir rambut panjangnya yang sengaja tak dia siram saat mandi. Senyum diwajahnya tak pernah pudar, dia mengingat saat di panggung tadi, bagaimana aksi Ryu dan keempat temannya.
Terdengar suara ketukan di pintu penghubung, dia pun segera mengenakan hijabnya dan membuka pintu yang sengaja dia kunci sebelum mandi tadi. "Ryu, kamu sudah pulang?" senyum diwajahnya gadis itu kembali terbit, tetapi dia bingung melihat wajah kekasihnya yang terlihat menyeramkan.
Ryu menutup pintu tersebut dengan kasar. Dia mendorong tubuh Aisyah hingga gadis itu menubruk dinding. Menatap kedua bola mata gadis itu dengan tatapan penuh intimidasi.
Aisyah masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia merinding dan takut saat Ryu menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup. Dia melihat Ryu yang lain di sana bukan Ryu yang selalu lembut dengannya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Aisyah mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
Tak ada jawaban dari Ryu, tetapi lelaki itu langsung membungkam mulutnya dengan bibir. Ryu melakukannya dengan sangat kasar, bahkan tanpa sadar membuat gadis kesayangannya itu meneteskan air mata karena rasa sakit yang timbul akibat ulah Ryu.
Aisyah mencoba untuk mendorong tubuh Ryu, tapi sama sekali tak membuat pemuda itu bergeser sedikit pun. Dia hanya bisa menagis dan menerima perlakuan kasar Ryu terhadapnya. Hingga akhirnya dia melakukan hal yang tak terduga, menggigit bibir bawah Ryu yang sejak tadi menyiksanya.
"Aku benci dirimu yang seperti ini! Kau jahat Ryu!" Aisyah meninggalkan pemuda itu setelah berhasil lolos dari Ryu.
Dia menagis sejadi-jadinya di atas tempat tidur, tak peduli jika Ryu marah atau apa, karena dia pun amat sangat marah dengan pemuda itu. Dia tak suka Ryu berbuat hal yang melewati batas, apalagi lelaki itu melakukanya dengan kasar dan seperti memaksa.
Ryu mendengus, dia meninggalkan kamar Aisyah dengan membanting pintu. Amarahnya tak kunjung reda bahkan setelah dia melihat Aisyah menangis. Dia sengaja meninggalkan kamar tersebut karena tak ingin menyakiti Aisyah lagi. Menyesal, tentu saja dia menyesal karena telah melakukan hal itu, tetapi penyesalannya tersebut tak berarti apa-apa dibandingkan amarah yang ada di tubuhnya.
"Ahk! Sial! Kenapa dia tidak merasa sudah menyakiti ku! Dia terlalu polos atau sengaja menguji ku? Asal kamu tahu! Aku cemburu melihat mu tertawa bersama laki-laki lain, bahkan kalian terlihat lebih akrab, aku benci itu, aku cemburu." Ryu meremaa rambut hitamnya menggunakan dua tangan, dia frustasi dengan rasa cemburu yang meledak-ledak saat ini.
"Kalau saja aku tahu siapa dia, sudah ku habisis dia." Ryu mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang sejak tadi terus bergejolak.
Tak ingin terus dikuasai oleh amarah, akhirnya Ryu pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas. Dia berencana menemui Aisyah lagi, setelah emosinya mereda.
"Duh, sakit juga ternyata." Dia mengeluh saat menyentuh bibirnya yang tadi digigit oleh Aisyah. Tak menyangka jika gigitan itu menimbulkan bekas di bibirnya.
Selesai mandi, Ryu merasa lebih tenang dibandingkan tadi. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur sejenak, sebelum kembali ke kamar Aisyah. Dia yakin jika gadis itu masih menagis karena ulahnya.
"Sweetheart, maafkan aku." Ryu menghampiri Aisyah yang masih berada di posisi yang sama sejak dia meninggalkannya tadi. Dia memeluk tubuh kekasihnya yang meringkuk diatas kasur dengan isan tangis memilukan.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku cemburu pada mu. Kamu tahu sendiri, aku tak bisa melihatmu dengan laki-laki lain." Dia terus berbicara meskipun Aisyah tetap bergeming dalam posisinya.
"Maafkan aku sayang, aku janji tak akan melakukan itu lagi padamu. Aku menyesal." Ryu kembali mengungkapkan kata maaf.
"Pergi! Aku ingin sendiri!" Aisyah mendorong tubuh Ryu yang sejak tadi memeluknya dalam posisi berbaring.
"Please, maafkan aku sayang, setelah itu aku akan pergi." Ryu mengalah, dia melepaskan pelukannya dan memberi jarak diantara mereka.
"Aku benci dengan mu! Aku benci!" Suara tangis Aisyah kembali terdengar.
Ryu tak kuasa mendengar tangis gadis itu, dia kembali memeluk Aisyah tak peduli gadis itu menolaknya. Dia hanya ingin menentukan Aisyah yang kini terlihat tak berdaya karena ulahnya.
"Kenapa kamu tidak bertanya, siapa dia? Kenapa kamu langsung menghukumku? Aku tak suka seperti itu," ucap Aisyah sesegukan. Dia melepaskan diri dari pelukan Ryu dan mengubah posisinya menjadi duduk.
Ryu pun mengikuti gadis itu, dia duduk dan kembali memeluk kekasihnya. "Maafkan aku, maafkan aku sayang. Aku salah, aku terlalu cemburu dan emosi, sampai tak bisa nemahannya." Ucapnya.
Aisyah menggeleng, dia membalas peluka Ryu. Kelemahannya, dia tak bisa marah terlalu lama dengan kekasihnya itu. Apalagi ketika Ryu sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dia tahu dan paham seperti apa kekasihnya itu.
Ryu melepas pelukannya, dia melihat bibir Aisyah yang tampak membengkak,lalu menyentuhnya, "Maafkan aku, ini pasti sakit."
"Aku akan memaafkan mu kali ini, tetapi tidak untuk lain kali, sebelum kamu mendengarkan penjelasan ku." Aisyah mengangguk, meski perih di kedua bibirnya masih terasa dia sudah memaafkan Ryu.
"Dia itu saudaraku, dia Agam," ucap Aisyah mulai menjelaskan.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜