
"Bagaimana kalau Mama ikut aja?" Aisyah menatap Mamanya yang sedang memasukkan pakaian miliknya ke dalam tas.
Mama menggeleng, "Mama tunggu di rumah aja. Katanya dia mau ke sini, kan?" Dia menatap balik putrinya.
"Iya Ma, tapi kan nanti kalau semuanya sudah selesai. Mama enggak pengen gitu lihat dia manggung?" Aisyah ingin sekali mengajak Mamanya, dia ingin menikmati waktu berdua dengan sang Mama.
"Mama di rumah aja, kamu sudah ada Santi sama Nita. Mereka pasti rindu dengan mu, kalau ada Mama kalian enggak bisa melepas rindu. Selamat bersenang-senang anak Mama." Mama tersenyum menatap putrinya, lalu melanjutkan memasukkan baju Aisyah ke dalam tas.
Aisyah yang saat itu sedang membereskan pakaiannya ke dalam lemari, bringsut mendekati Mamanya dan memeluk wanita itu. "Terima kasih Mama ku sayang, aku janji setelah selesai langsung pulang, kangen-kangenan lagi sama Mama." Ujarnya.
Malam itu mereka habiskan dengan bercerita banyak hal. Mereka terlihat seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Kejadian siang tadi seakan hanya sebuah mimpi buruk yang menimpa mereka dan langsung melupakannya lagi setelah keduanya saling menerima dengan ikhlas.
Aisyah berangkat lebih pagi, kali ini dia berangkat seorang diri, sebab Nita dan Santi akan menyusul besok saat konser itu dilaksanakan. Aisyah ingin menyambut kedatangan Ryu, yang rencananya akan sampai di negara ini sore hari. Dia sudah mendapatkan informasi dimana kekasihnya itu menginap. Dan dia akan menunggu Ryu di penginapan itu.
Aisyah sengaja ingin memesan kamar di lantai yang sama dengan kekasihnya. Dia memang tak akan menyambut Ryu secara terbuka di depan umum. Dia akan memberitahu Ryu dimana dia menginap supaya pemuda itu mendatanginya. Cukup sulit memang, apalagi Ryu seorang idola yang pergerakannya selalu di awasi oleh setiap pasang mata yang melihatnya. Tetapi ternyata Ryu memiliki rencana lain.
"Aku sudah mengatakan pada staff kalau kamu menginap di kamar sebelah ku. Kamar itu memiliki pintu penghubung, jadi kau tunggu aku di kamar itu ya. Pesanan kamar itu atas nama staff," ucap Ryu sebelum pemuda itu terbang.
Benar saja, saat Aisyah datang ke hotel tempat Ryu dan keempat temannya menginap, dia sudah ditunggu oleh seorang staff yang dia kenali. Dia pun langsung diajak ke kamar yang sudah disiapkan. Ternyata Ryu sudah datang lebih awal dan dia sedikit terlambat untuk menyambut Ryu.
"Ternyata aku yang menyambutmu, bukan kamu yang menyambut ku." Ryu mendekati Aisyah saat gadis itu menutup pintu kamar.
Tentu saja Aisyah terkejut melihat Ryu sudah ada di kamarnya. Dia pun langsung memeluk pemuda yang sudah menjadi kekasihnya hampir dua tahun itu. "Kamu mengejutkan ku, Ryu." Ucapnya.
__ADS_1
"Tapi kamu seneng, kan, dapat kejutan dari ku?" Ryu membalas pelukan gadis itu, dia teringat akan air mata Aisyah kemarin saat dia menelepon.
"Seneng banget. Aku kangen banget sama kamu." Aisyah masih betah memeluk Ryu, seakan mereka tak bertemu sudah satu bulan lebih, padahal baru dua hari mereka tak bertemu.
"Tapi sayangnya aku enggak." Ryu sengaja menggoda Aisyah, dia ingin melihat gadis itu cemberut sambil memukul dadanya.
"Ih, ngeselin!" Benar saja Aisyah langsung memukul dada pemuda itu dengan wajah cemberut.
"Maksudnya enggak kalah rindu dari kamu." Ryu mencubit gemas pipi Aisyah, dia juga rindu dengan gadis itu.
"Makan yuk, aku sudah pesen makanan untuk kita. Tapi, makan bareng sama yang lain, mau, kan?" Ryu mengakhiri sesi temu kangen mereka, sebab sudah ditunggu yang lain untuk makan siang yang sudah terlewat.
"Aku perempuan sendiri, malu dong. Kamu aja deh, aku makan di sini nanti." Tolak Aisyah.
"Hai Aisyah, bertemu lagi, kita." Lee yang memang sering bertemu Aisyah saat masih menjadi kekasih Eun Ji pun menyapa gadis itu.
"Iya Kak Lee, apa kabar? Lama kita tidak bertemu ya?" Aisyah menyapa balik Lee dan pemuda itu menjawab pertanyaan Aisyah.
Aisyah memang jarang bahkan dibilang tak pernah bertemu dengan keempat sahabat Ryu secara lengkap seperti ini. Biasanya dia hanya melihat dari jauh atau hanya saling menyapa saat mereka berkumpul di apartemen Ryu. Tak pernah sekali pun ikut menimbrung saat empat puda itu bertamu.
Ryu melayani Aisyah saat makan. Dia tahu kekasihnya itu merasa tak nyaman berasa di anatara mereka, tetapi Ryu ingin menunjukkan pada mereka berempat betapa dia mencintai gadis itu. Bahkan dia tak segan bersikap romantis di hadapan mereka, dengan membersihkan bibir Aisyah yang terkena saos.
"Kamu hati-hati kalau makan, enggak usah grogi. Anggap saja mereka hanya patung hiasan. Hanya ada kita berdua di sini." Ryu mengusap bibir kekasihnya itu dengan tisu.
__ADS_1
"Iya, anggap aja kita patung. Mereka sudah terbiasa melihat yang seperti itu," sahut Lee, karena dia memang pernah melakukan hal yang sama saat masih bersama kekasihnya.
Sedangkan ketiga pemuda yang lain hanya diam, mereka sama sekali tak ingin ikut campur dengan dua sejoli yang sedang bucin itu. Makanan di hadapan mereka lebih menarik ketimbang menyaksikan drama dua sejoli tersebut.
"Ryu, aku malu. Udah deh kamu makan aja." Bisik Aisyah tepat di samping telinga Ryu, dia tak suka kemesraan itu disaksikan oleh banyak orang.
"Benar apa kata Lee, mereka tidak akan melirik kita sedikit pun. Indah ya lanjut makan lagi. Mau aku suapin enggak?"
Aisyah menatap Ryu tak suka. Pemuda itu bukannya berhenti malah makin menajdi, membuatnya makin tak punya muka di hadapan keempat sahabat Ryu, meski mereka terlihat cuek, tapi dia yakin mereka mendengar ucapan Ryu.
Ryu terkekeh melihat kekasihnya, dia memang sengaja ingin menggoda Aisyah. "Kamu makin cantik kalau seperti itu, aku jadi pengen nyium." Bisiknya, kali ini dia tak ingin orang lain mendengar godaannya pada Aisyah, sudah pasti gadis itu akan makin marah.
"Aku udah selesai. Terima kasih atas makanannya. Aku harus kembali ke kamar, dulu. Permisi." Aisyah berpamitan dan meninggalkan mereka tanpa menghiraukan Ryu.
Melihat Aisyah pergi dengan wajah cemberut, keempat sahabat Ryu pun terbahak. Mereka mengejek Ryu, karena membuat kekaihnya marah. Ternyata diamnya mereka sejak tadi, justru menyimak pembicaraan dua sejoli tersebut.
"Aku yakin dalam waktu satu minggu ini, libur enggak dapat jatah." Shin tersenyum miring saat mengatakan hal itu.
"Kami tak sampai senekat itu. Kami masih punya batasan saat pacaran." Ryu tak suka mendengar ucapan Shin yang seakan mengatakan jika mereka sering melakukan hubungan layaknya suami istri.
Shin berdecak, dia sama sekali tak percaya dengan ucapan Ryu. Apalagi mereka tinggal di apartemen yang sama, hanya berbeda unit saja. Sudah pasti hal yang mudah untuk mereka melakukan hal itu.
"Kau mau percaya atau tidak itu sama sekali tak penting. Aku pergi. Ye Jun, hubungi aku kalau mau persiapan." Ryu meninggalkan kamarnya menuju kamar Aisyah, dia tak ingin keksihnya itu merajuk lagi.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜