Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Mereka Sudah Pergi


__ADS_3

Aisyah terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Wajah tampan suaminya yang dia lihat saat pertama kali membuka mata. Senyum di bibirnya mengembang, tak pernah menyangka jika hubungan mereka akan sampai di titik ini.


Dia mengusap salah satu pipi Ryu perlahan, lalu menelusuri wajah lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu. Cukup lama dia berada di posisi tersebut, setelah puas dia pun menarik tangannya kembali. Akan tetapi dia terkejut saat tangannya di tahan oleh Ryu.


"Kenapa berhenti? Aku suka kamu melakukan itu," ucap Ryu dengan mata terpejam, lalu dia mengecup tangan kekasih halalnya itu.


"Kamu sudah bangun? Sejak kapan?" Aisyah malu karena Ryu mengetahui aksinya, padahal yang dia lihat sejak tadi Ryu masih tenang dalam posisinya.


"Hem, aku terbangun karena mendengar alarm di ponselmu." Ryu membuka mata dengan senyum di wajahnya.


Aisyah kembali terkejut mendengar ucapan suaminya, "Kau curang, pasti sengaja, kan?" tudingnya.


Ryu terkekeh mendengar tuduhan istrinya itu, lalu dia memeluk erat Aisyah. "Aku menunggu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, aku kira mau nyium, eh ternyata enggak. Jadi, aku yang cium kamu aja," ucapnya lalu melakukan apa yang dia katakan.


"Aku mau bangun, kamu juga harus bangun sholat subuh." Aisyah melepaskan diri dari delapan Ryu, dia meninggalkan suaminya menuju kamar mandi.


Kegiatan pagi seperti biasa, Aisyah membantu Mamanya untuk memasak, tak lupa dia membuatkan teh hijau hangat untuk suaminya yang saat ini masih berada di dalam kamar. Cukup lama mereka berdua menghabiskan waktu di dapur, hingga semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.


"Panggil suami mu sana, setelah ini kita sarapan," titah Mama setelah semuanya siap di atas meja.


Aisyah pun mengikuti perintah sang Mama, dia masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya sedang membereskan beberapa baju dan memasukkannya ke dalam koper. Aisyah terkejut melihat aksi suaminya itu.


"Kenapa sayang? Ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kamu memasukkan semua baju ke dalam koper?" Aisyah menanyakan banyak hal, dia khawatir terjadi sesuatu pada suaminya itu.

__ADS_1


Ryu menghentikan kegiatannya, dia menghampiri sang istri. Memegang pundak istrinya itu dan menatap lekat dia bola mata indah milik kekasih halalnya tersebut. "Kita harus pergi hari ini juga sayang, ibu ku tak baik-baik saja, kamu tidak masalah, kan?" ucapnya lembut.


Aisyah mengangguk, "Aku ikut apa yang kamu rencanakan, aku ikut kapanpun dan kemanapun suamiku pergi," jawabnya.


Ryu tersenyum, "Kamu memang terbaik. Sekarang mandilah, aku akan bicara sama Mama," ujarnya.


Aisyah mengangguk, dia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak mau Ryu menunggunya terlalu lama, sebab suaminya itu sedang terburu-buru, karena khawatir dengan keadaan ibunya.


Setelah Aisyah masuk ke dalam kamar mandi, Ryu kembali membereskan sisa pakaiannya ke dalam koper, lalu menemui Mama mertuanya yang dia yakini saat ini sedang berada di dapur. Benar saja, terlihat Mama sedang membereskan alat masak yang baru saja di cuci.


"Ma, aku mau bicara sebentar saja," ucapnya.


"Bicaralah, Mama siap mendengarkan," sahut Mama Winda.


"Ah, baiklah tunggu sebentar ya, Mama selesaikan ini dulu." Winda menyadari, jika Ryu tak enak berbicara sambil berdiri seperti itu, sepertinya menantunya itu akan berbicara hal serius.


"Ma, aku minta maaf, karena secepat ini meninggalkan Mama, sebab ibu ku sedang dalam keadaan kurang baik, aku baru saja dihubungi oleh perawat. Jadi, pagi ini juga kami akan ke tempat ibu, Mama tidak masalah, kan? Atau Aisyah tetap disini selama beberapa hari, nanti aku jemput," ucap Ryu menjelaskan.


"Tidak boleh seperti itu, Aisyah sekarang istrimu, dia harus ikut kemanapun suaminya pergi, jadi kalian berdua pergilah. Kesehatan ibu kamu lebih penting, Mama tidak apa-apa. Restu Mama menyertai kalian." Winda tersenyum menandakan jika dia baik-baik saja, meskipun ada sedikit rasa tak rela, tetap saja dia akan mengalah.


"Terima kasih Mama, aku janji akan mengajak Aisyah kembali kesini secepatnya." Ryu bersyukur memiliki Mama mertua sebaik Mama Winda, yang berlapang dada melepaskan putrinya dihari kedua pernikahan.


"Tapi, kalian harus sarapan dulu sebelum pergi. Mama sudah memasak sebanyak ini, tak mungkin menghabiskan semuanya sendiri," ujar Mama Winda.

__ADS_1


"Siap Ma, kita pasti sarapan dahulu," timpal Ryu.


Tak lama Aisyah datang dengan pakaian yang sudah rapi dan tanpa menunggu lama mereka bertiga pun sarapan bersama. Menikmati masakan Mama Winda yang tak akan mereka rasakan untuk beberapa bulan ke depan, karena jarak dan waktu yang memisahkan mereka.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


"Kalian hati-hati ya, salam buat ibu kamu ya Ryu. Mama mendoakan setiap langkah kalian berdua," ucap Mama Winda sebelum Aisyah dan Ryu meninggalkan rumah itu.


"Ma, maaf aku terlalu sebentar berada di rumah. Padahal masih kangen sama Mama." Aisyah menitikan air mata untuk kedua kalinya, biasanya saat akan pergi kuliah dia tak pernah menangis, karena dia tahu jika menangis maka tak akan jadi pergi, tetapi saat ini dia tak bisa membendung air matanya.


"Jangan nangis dong sayang! Mama baik-baik saja, kasihan suami mu nanti bingung lihat kamu begini." Mama Winda menghapus air mata putrinya, dia tak mau Ryu berat meninggalkan rumah ini karena Aisyah seakan belum rela pergi.


Aisyah mengangguk, "Aku akan menjemput Mama suatu hari nanti, sekarang aku pergi ya Ma. Restui kepergian kami." Dia meneluk erat sang Mama dan mendapatkan balasan dari ibunya itu. Tak lama mereka pun melepaskan pelukan dan saling melambaikan tangan.


"Restu Mama menyertai kalian berdua," ucap Mama dengan senyum mengambang.


Setelah mobil yang mereka tumpangi meninggalkan halaman rumah, Mama Winda terlihat sendu, bahkan air mata yang sejak tadi dia pendam kini runtuh juga. Dia merasa putrinya makin jauh dengannya setelah menikah, karena kini Aisyah tak lagi menjadi tanggungjawabnya, melainkan tanggung jawab Ryu.


Baru saja akan memutar tubuh untuk masuk ke dalam rumah, sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang yang hanya setinggi dada orang dewasa itu. Dia pun bergegas membuka gerbang tersebut dan mempersilahkan mobil tamunya itu untuk masuk.


"Tuan Park, silahkan masuk." Mama Winda mempersilahkan tamunya tersebut yang ternyata Tuan Park untuk masuk ke dalam rumah.


"Maaf Tuan, kalau anda mencari Ryu, mereka baru saja pergi." Winda mengira Tuan Park mencari Ryu atau Aisyah, hingga dia tak ingin lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu kehilangan jejak mereka.

__ADS_1


"Oh tidak Bu Winda, saya kesini untuk menemui anda." Tuan Park tersenyum menatap Winda, membuat wanita itu membalas senyumannya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2