Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Kamu Akan Menyesal


__ADS_3

Mama Winda berhenti diperbatasan antara ruang tamu dan ruang keluarga. Dia menatap pemuda yang kini tengah duduk di sofa yang tengah menatap sekeliling. Air matanya luruh saat melihat wajah putra yang telah dia lahirkan dua puluh satu tahun lebih itu. Wajahnya memamg tak seratus persen mirip almarhum suaminya, tetapi pemuda yang sedang duduk itu memiliki wajah campuran antara dirinya dan almarhum suaminya.


Usapan di punggung membuatnya menoleh, dia tersenyum pada gadis yang telah dia asuh sejak bayi itu. "Mama tidak apa-apa sayang," jawabnya seakan mengerti akan kekhawatiran Aisyah.


"Beneran, Ma?" tanya Aisyah kurang yakin.


Mama mengangguk, "Iya. Sekarang kamu keluar, Mama akan bawakan minuman untuknya." Dia menghapus air matanya, lalu kembali ke dapur untuk mengambil air minum.


Sedangkan Aisyah dia keluar dan kembali duduk di tempat yang dia duduki tadi. "Rumah ini memang cuma rumah sederhana, tetapi bagiku rumah ini bagaikan istana. Sebab, di dalam rumah ini hidup seorang ratu yang hanya ada di hatiku, yaitu Mama ku." Dia mengejutkan Agam yang sedang memperhatikan foto Aisyah dan Mamanya di dinding.


"Itu Mama ku, dia seorang janda yang ditinggal oleh suaminya saat masih hamil, dan sejak itu Mama tak pernah menikah lagi," Aisyah melanjutkan ceritanya meski tanpa Agam minta.


"Aisyah itu nama pemberian Ayah sebelum beliau meninggal, meskipun tidak pernah tahu anaknya akan perempuan atau laki-laki, tetapi Ayah sangat menyukai nama Aisyah," lanjutnya.


"Eh, maaf jadi cerita panjang lebar. Kamu apa kabar Gam, dan kenapa bisa sampai ke rumah ku? Padahal jauh banget," tanya Aisyah.


"Kurang baik. Banyak cara mudah untuk menemukan rumah ini," jawab Agam datar.


Aisyah semakin tak mengerti dengan sikap Agam yang berubah seratus delapan puluh persen. Biasanya pemuda itu sangat bersahabat, tetapi kini terlihat seperti musuh untuknya. Apa mungkin Agam marah karena dia menolak permintaan pemuda itu, atau ada hal lain lagi? Tapi apa?


"Tante hanya punya ini, silahkan di minum dan dinikmati cemilannya." Mama meletakkan gelas berisi lemon tea dan juga beberapa cemilan dalam toples kecil.


Agam tak menjawab, dia justru menatap Winda dengan tatapan sulit diartikan, lalu sebuah senyum meremehkan terbit di bibir pemuda itu. "Tante, tolong jauhi Papa saya! Dia punya istri dan anak sebesar saya! Gara-gara Tante Bunda saya masuk rumah sakit!" tuduh nya langsung tanpa tendang aling-aling.

__ADS_1


Winda dan Aisyah terkejut mendengar tuduhan yang diberikan oleh Agam. Winda tak bisa berkata apa-apa untuk membela dirinya, sebab seseorang yang menuduhnya itu darah dagingnya sendiri. Dia tak mampu menyakiti darah dagingnya di pertemuan pertama mereka.


"Apa maksud mu Gam? Bunda kamu masuk rumah sakit karena Mama? Aku tak percaya! Kamu juga jangan asal tuduh sembarangan!" Aisyah tak suka wanita yang sangat dia cintai itu terluka.


"Heh! Diam Lo anak haram! Lo juga enggak usah berharap Papa menganggap Lo ada! Lo itu cuma pelampiasan kebejatan Papa dan Mama Lo itu!" Agam menunjuk Winda yang terduduk dengan air mata mengalir.


Plak


Tanpa di duga, Aisyah sudah berdiri di hadapan Agam dan menampar pemuda itu. Agam meringis karena rasa perih di pipi kanannya. Ingin membalas tamparan itu, tetapi tak mungkin karena Aisyah seorang perempuan.


"Lo jangan asal bicara! Yang Lo tuduh itu Mama kandung Lo sendiri, Gam! Lihat! Wanita yang sudah melahirkan Lo ke dunia sekarang sedang menangis karena tuduhan taj beralasan anaknya!" Aisyah naik pitam, dia tak peduli jika Agam mengetahui semuanya sekarang, yang terpenting pemuda itu tidak lagi menyakiti Mamanya.


Agam tersenyum smrik, "Ogah gue punya Mama pelakor kaya dia!" Dia menunjuk Winda dengan telunjuknya.


"Mama bukan pelakor! Lo tanya aja sama Papa yang Lo banggain itu? Apa yang sudah dia lakukan pada wanita sebaik Mama? Dan bilang sama Papa Lo itu, untuk mengurus anaknya dengan baik!" Aisyah menatap tak suka pada Agam, kekagumannya selama ini lenyap sudah setelah mengetahui sifat Agam yang seperti ini.


"Lo ngaco! Apa tujuan Lo ngomong gitu sama gue? Dikira gue percaya apa. Lo pasti pengen dapat warisan dari orang tua gue, kan? Ngaku Lo!" Agam menatap Aisyah penuh permusuhan.


"Aisyah cukup Nak, suruh dia pulang. Kamu enggak usah menjelaskan apapun, biarkan Papamu yang menjelaskannya." Winda tak sanggup melihat putra dan putrinya bertengkar seperti saat ini, karena mereka smua adalah korban Fadly.


"Tapi Ma, dia tuduh Mama sembarangan, aku enggak terima." Aisyah duduk disamping Mama lalu memeluk wanita itu.


Mama menggeleng, "Kamu cukup diam, Mama tidak apa-apa, bukankah tiduhan ini sejak dulu melekat di Mama? Meskipun Mama tak pernah melakukan hal itu. Ini juga salah Mama, sayang," ucapnya.

__ADS_1


Agam tersenyum miring, "Enggak usah sok jadi korban yang tersakiti," celetuknya.


"Mama sama anak sama saja, murahan! Mamanya pelakor, anaknya sering tidur bareng pacarnya. Cih! Menjijikkan!" Agam benar-benar sudah keterlaluan, dia menghina dua perempuan sekaligus.


Aisyah melepaskan pelukan Mamanya, menghampiri Agam dan menatap penuh kebencian pada Agam. "Lihat aja, Lo akan menyesal dengan semua ucapan Lo itu! Sekarang pergi dari rumah gue dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini sebelum Lo sujud sama Mama!" Aisyah menunjuk pintu yang terbuka lebar sejak tadi.


"Dasar murahan! Nyesel gue pernah suka sama wanita murahan kaya Lo!" Agam beranjak dari duduknya, dia akan pergi dari rumah tersebut.


"Ingat Tante, jangan pernah goda Papa lagi! Kalau sampai Tante goda Papa lagi, saya enggak akan segan-segan menghancurkan rumah dan usaha Tante. Saya serius." Agam menatap Winda.


"Pergi! Kamu enggak berhak ngancam Mama!" Aisyah mendorong tubuh Agam supaya keluar dari rumahnya, pemuda itu sudah menciptakan banyak luka di hati Mamanya.


"Lepas! Jangan sentuh gue! Najis!" Agam mendorong tubuh Aisyah hingga gadis itu terduduk di tanah.


Bugh


Agam terkejut saat sebuah bogeman mendarat di pipi kirinya, hingga gigi-giginya terasa ingin rontok. "Sialan! Apa maksud Lo hah!" Dia menatap seseorang yang telah menonjoknya itu.


"Apa yang kamu lakuin ke calon istriku?" Ryu, menatap balik Agam tanpa rasa takut sedikit pun.


Agam terkekeh, "Oh jadi dia sudah hamil dan kalian mau menikah, selamat ya? Semoga aja itu beneran anak Lo bukan anak laki-laki lain," ucapnya.


"Asal Lo tahu, dia pernah tidur sama gue," lanjutnta dengan berbisik.

__ADS_1


Ryu kembali memukul wajah Agam, dia tak terima dengan ucapan pemuda itu. Tetapi dia sedikit goyah dengan ucapan ngawur pemuda tersebut.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2