
Aisyah terbangun saat mendengar alarm di ponselnya. Seperti biasa perempuan muda itu mengatur alarm sebelum subuh berkumandang, meskipun dia sedang berhalangan. Segera meraih ponsel yang selalu dia letakkan di atas nakas saat tidur dan mematikan alarmnya. Dia menoleh ke arah samping, tak ada suaminya di sana.
"Apa Ryu enggak pulang semalam?" tanyanya pada diri sendiri, sebab semalam saat dia tidur, suaminya itu belum pulang.
Dia pun mengaktifkan ponsel yang sengaja di atur dalam mode pesawat. Setelah ponselnya aktif, ternyata banyak pesan dari Ryu, bahkan ada beberapa panggilan yang dilakukan suaminya. Salah satu pesan dari Ryu, jika lelaki itu tak bisa pulang malam ini, sebab masih ada urusan. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi suaminya, takut Ryu kesiangan saat bangun nanti.
"Iya sayang," terdengar suara parau dari seberang sana saat panggilan itu tersambung.
"Assalamu'alaikum. Sudah bangun? Aku sengaja membangunkan mu, takut kesiangan. Terakhir kamu kirim pesan udah lewat tengah malam," sahut Aisyah.
"Wa'alaikumussalam. Iya ini aku bangun. Maaf ya aku enggak pulang semalam. Tunggu aku akan pulang sebentar lagi." Suara Ryu sudah tak terdengar lemah seperti saat pertama dia menerima panggilan, berarti lelaki itu sudah sadar sepenuhnya.
"Aku tunggu. Yaudah aku tutup yah. Assalamu'alaikum." Aisyah pun mengakhiri panggilannya setelah mendengar jawaban salam dari sang suami.
Aisyah beranjak dari tempat tidurnya setelah meletakkan ponsel di atas nakas. Dia harus mandi pagi ini sebelum melakukan kewajibannya. Dia juga tak boleh telat untuk mempersiapkan sarapan buat suaminya, sebab dia yakin jika Ryu sebentar lagi akan datang.
Di tempat lain, Ryu beranjak dari tidurnya untuk ke kamar mandi. Melihat sekeliling kamar yang dia tempati, dua sahabatnya masih terlelap dalam tidurnya, tak ingin mengusik mereka, dia pun berjalan perlahan supaya tak menimbulkan suara berlebih. Selesai melakukan kewajibannya, dia pun ingin segera pulang, sebab sudah merindukan kekasih hatinya yang dia tinggal semalam.
"Kau mau pulang sepagi ini?" Ryu terkejut saat keluar kamar, dia melihat Sam yanga masih berkutat dengan laptop miliknya.
"Kau tidak tidur, Sam?" Ryu tak menjawab, dia justru penasaran dengan apa yang Sam lakukan hingga semalam suntuk tidak memejamkan mata.
"Kau tahu, kan. Aku tak akan mungkin bisa tidur, kalau pekerjaan ku belum selesai." Sam sama sekali tak menoleh ke arah Ryu, dia fokus dengan laptopnya.
"Ada masalah? Katakan padaku. Mungkin aku bisa membantu." Ryu duduk di sebelah Sam, dia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu, sebab jarang sekali Sam melakukan hal seperti ini.
Sam yang sejak tadi fokus dengan laptopnya, kini akhirnya menatap Ryu, dia tersenyum kecut, membuat Ryu makin yakin jika sahabatnya itu sedang dalam masalah. "Aku memang tak bisa membohongi mu Ryu, kau selalu tahu apa yang sedang terjadi."
"Katakan saja, aku siap mendengarkan." Ryu menepuk pundak sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Aisyah sudah menunggu mu di rumah, pulanglah. Nanti dia marah kalau kau pulang terlambat, aku tak mau itu terjadi," ujar Sam.
"Aisyah pasti akan mengerti. Masih ada banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu." Ryu melihat jam di pergelangan tangannya, waktu masih terlalu pagi.
Sam menghela napas panjang, dia pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. "Sebenarnya aku tak ingin membuatmu khawatir," dia mengakhiri ceritanya.
Ryu menepuk pundak sahabatnya itu, "Kau tenanglah, ibumu pasti akan sembuh. Besok jenguk lah ibumu di rumah sakit, tak mungkin Tuan Cho melarang mu, kan? Bedoalah untuk ibu mu Sam," ucapnya.
"Iya, terima kasih sudah mau mendengarkanku. Nanti aku akan pulang menjenguknya. Sekarang kau pulanglah, istrimu sudah menunggu. Ucapkan kata maaf untuk ku pada istrimu, karena sudah menyita waktunya bersama mu." Sam tersenyum, dia sedikit lega setelah menceritakan masalahnya pada Ryu.
"Baiklah, aku pulang. Besok aku akan mengajak yang lain untuk menjenguk ibu mu." Ryu meninggalkan Sam seorang diri di ruangan tersebut.
Ryu melakukan mobilnya menuju apartemen dengan perlahan. Sepanjang perjalanan dia mengingat semua cerita Sam akan ibunya yang sedang menderita kanker stadium empat, bahkan sahabatnya itu baru mengetahuinya semalam. Ternyata selama ini ibunya menyembunyikan penyakit tersebut.
Tak terasa mobil yang dia kendarai sudah berhenti di basement apartemen. Dia pun segera turun dari mobilnya, tak sabar ingin bertemu dengan kakasih hatinya yang dia yakini saat ini sedang berada di dapur. Benar saja saat dia masuk ke dalam apartemen, bau harum masakan tercium saat dia memasuki apartemen tersebut. Aisyah sedang memasak.
Ryu tersenyum saat melihat wanita tercintanya sedang berkutat di depan kompor, tak menyadari kedatangannya. Dengan perlahan dia pun menghampiri istrinya itu dan langsung memeluknya dari belakang.
Ryu terkekeh, dia mengecup pipi istrinya dari belakang. "Sengaja," ucapnya.
"Kamu itu, untung spatula ini belum melayang." Aisyah memgusap pipi Ryu dengan salah satu tangannya. "Kamu duduklah dulu, sebentar lagi maskanku selesai."
Ryu menggeleng, "Aku mau seperti ini, aku merindukan mu, sayang," tolak nya.
"Aku juga merindukan mu, tapi kau membuat ku sulit bergerak, dan apa ini? Ryu, geli." Aisyah menyingkirkan bibir Ryu yang sedang menelusuri leher sampingnya.
"Baiklah, aku akan menunggu mu. Setelah sarapan nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ryu membalik tubuh istrinya lalu, mengecup bibir perempuan itu sekilas sebelum meninggalkannya. "Aku mandi dulu ya."
"Iya, setelah itu kembalilah ke sini. Kita sarapan bersama," sahut Aisyah.
__ADS_1
Tak lama, sepasang pengantin baru itu kini sudah berada di meja makan untuk sarapan. Aisyah selalu melayani suaminya dengan baik, meskipun terkadang Ryu menolak bantuan istrinya. Dia lebih suka melakukannya sendiri, karena tak mau merepotkan Aisyah.
"Sayang, ponsel mu bunyi kayaknya deh," ucap Aisyah ditengah sarapan mereka.
"Biarkan saja, kalau penting pasti nanti akan menelpon lagi," jawab Ryu. Tetapi tak berapa saat ponselnya kembali berdering, terpaksa Ryu meninggalkan meja makan menuju kamar, dimana ponselnya berada.
"Siapa sayang?" tanya Aisyah.
"Orang suruhan ku, ada sesuatu yang sangat penting, dia minta bertemu pagi ini, tapi aku menolaknya," jawab Ryu.
"Kenapa?" tanya Aisyah, dia tak mengerti kenapa Ryu harus menolak pertemuan itu.
"Ada hal yang lebih penting dari itu," jawab Ryu misterius.
"Apa itu?" Aisyah tak sabar ingin mendengar alasan Ryu.
"Kamu." Ryu mengedipkam sebelah matanya, "aku sudah berjanji denganmu, dan hari ini adalah hari kita, tao boleh ada yang mengganggu," lanjutnya.
"Kau itu, kita masih memiliki waktu yang panjang, kan? Kalau orang suruhan mu itu ingin membicarakan hal penting bagaimana?" menurut Aisyah keputusan Ryu sama sekali tidak tepat.
"Tak ada yang lebih penting dari dirimu, sayang. Kamu paling utama dan paling penting," jawab Ryu.
"Baiklah, aku ikut apa katamu." Putus Aisyah.
Ryu tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia memiliki rencana indah hari ini, dan tak mungkin menggagalkan rencana tersebut karena hal lain. Rencana itu sudah dia susun sejak beberapa hari yang lalu, dan tak ingin semua rencananya berantakan hanya karena hal yang tak penting.
"Hari ini kamu harus makan yang banyak sayang." Ryu mengisi mangkuk Aisyah yang hampir kosong.
"Kamu juga, aku tak mau suamiku kelaparan." Aisyah bergantian mengisis mangkuk Ryu membuat mereka tertawa karena kerondoman mereka sendiri.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜