
Bibi Mey mengajak Ryu dan Aisyah ke rumahnya. Dia ingin mengenal seperti apa istri dari keponakannya itu, meskipun mereka terhalang oleh bahasa. Untung saja Bibi Mey bisa berbahasa Inggris walau hanya sedikit.
"Kalian menginap lah di sini nanti malam ya. Bibi akan menyiapkan kamar untuk kalian berdua," ucap Bibi Mey saat mereka memasuki gerbang rumah sederhana milik keluarganya.
"Maaf Bi, sepertinya tidak bisa. Bibi di rumah ada si mochi (anjing peliharaan Bibi), Bibi mengerti, kan maksud ku?" jawab Ryu diakhiri sebuah pertanyaan.
"Kau juga mengikuti agamanya? Luar biasa Bibi tak menyangka kau se cinta itu dengan istrimu," Bibi tak menanggapi ucapab Ryu, dia justru membahas hal lain.
"Aku memang cinta dan sayang sama dia Bi, tapi alasanku mengikuti agamanya juga bukan karena dia sepenuhnya, aku selama ini tak pernah mengenal agama apapun, setelah mengetahui bagaimana dia beribadah aku tertarik dan mempelajarinya," jawab Ryu.
Bibi Mey mengangguk, "Baiklah, kalian tunggu di sini. Bibi buatkan minum," dia pun berlalu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Apa yang bibi katakan?" Aisyah sejak tadi terdiam karena memang tak mengerti bahasa Bibi Mey, dia pun penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Kita disuruh menginap di sini, tetapi aku menolaknya. Bibi punya anjing peliharaan yang berkeliaran di dalam rumah, bahkan tidur di kasur, aku tak mau kamu tidak nyaman dengan itu," jawab Ryu tanpa memberitahu semuanya apa yang mereka bicarakan.
"Ah, begitu ya. Aku juga takut dengan anjing," sahut Aisyah. Dia mengira anjing peliharaan Bibi Mey sejenis anjing galak yang suaranya sangat keras.
"Kamu kalau melihatnya tidak mungkin takut, dia anjing menggemaskan bahkan seperti boneka," timpal Ryu.
"Ah begitu ya, apa itu dia?" Aisyah menunjuk seekor anjing putih dengan bulu halus sedang tidur di atas meja belajar.
Ryu menoleh ke arah tangan Aisyah, "Nah itu dia. Biarkan dia tertidur, nanti kalau bangun pasti menghampiri mu," ucapnya.
Aisyah mengangguk, tetapi dia terus memperhatikan anjing kecil itu, memang terlihat sangat menggemaskan sekali. Mungkin jika Mochi terbangun, dia ingin menggendong atau menciumnnya. Ah, tidak mungkin dia akan melakukan hal itu.
"Ini minumannya. Sebenarnya Bibi mau mengajak kalian makan di sini, tetapi pasti kalian tidak mau," ucap Bibi setelah meletakkan dua kaleng air minum.
__ADS_1
"Bibi mau mengajak kita makan di sini, apa kamu mau?" Ryu menanyakan hal itu pada Aisyah.
"Aku tahu kekhawatiranmu sayang, kalau kamu keberatan tak apa, aku akan menolaknya," lanjut Ryu saat melihat Aisyah terdiam. Sedangkan Bibi terus memperhatikan sepasang suami istri itu.
"Bagaimana kalau kita membeli makanan halal dari resto, lalu kita makan di sini, mungkin itu akan mengurangi kekecewaan Bibi," usul Aisyah.
Ryu mengangguk, "Bi, kami mau makan di sini, tetapi bagaimana kalau aku akan pesan makan di luar dan kita makan bersama nanti," ucapnya pada Bibi.
"Baiklah, Bibi tak masalah. Lagian kamu tahu sendiri, Bibi juga tak pandai memasak seperti ibumu." Bibi Mey tersenyum karena permintaannya terpenuhi.
Akhirnya Bibi memesan makanan dari resto yang menjual makanan halal terutama masakan khas negara Aisyah. Bibi sangat antusias, sebab ini kali pertama dia dan keluarganya akan makan masakan dari negara lain. Aisyah ikut membantu Bibi mempersiapkan tempat makan mereka yang sengaja di pilih di luar rumah, dengan menggunakan tikar di belakang rumah. Mochi sengaja dimasukkan kedalam kandangnya, meskipun anjing kecil itu sedikit memberontak.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Ryu! Kau kesini? Kamu makin tampan saja." Sora, putri sulung Bibi Mey histeris melihat ada Ryu di rumahnya, tanpa segan dia pun langsung memeluk Ryu.
"Ah kau itu! Kau tahu, banyak dari teman-teman ku pengen bertemu denganmu. Mereka rela membeli tiket dengan harga mahal hanya untuk melihatmu, tapi aku bisa memelukmu tanpa membayar, jadi, biarkan aku memelukmu lebih lama." Sora tak mau melepaskan pelukannya, dia justru mengeratkan pelukannya tersebut.
"Sudah Sora, jangan lama-lama. Kakak mu sudah punya istri, dia pasti cemburu melihatmu memeluknya seperti itu," suara Bibi membuat Sora melepaskan pelukannya.
"Kau sudah punya istri Ryu? Mama pasti becanda, kan?" Sora tak percaya mendengar ucapan ibunya.
"Iya, aku sudah punya istri," jawab Ryu.
"Sayang, kesini." Ryu melambaikan tangan pada Aisyah, membuat istrinya itu mendekat.
"Sayang, kenalin ini Sora, saudara sepupuku. Sora ini Aisyah istriku." Ryu menggunakan dua bahasa saat mengenalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Kau tidak salah memilih istri seperti ini? Seleramu kampungan Ryu! Bahkan aku terlihat lebih sempurna dari dia." Sora tak mau menerima uluran tangan Aisyah yang mengajaknya untuk bersalaman, dia justru melipat kedua tangannya di depan dada.
Meski tak mengerti dengan ucapan Sora, Aisyah merasa gadis itu sedang mengolok nya. Akhirnya dia menarik kembali tangannya, tetap dengan sebuah senyuman terbaiknya. Dia tak mau memberi kesan buruk pada keluarga Ryu.
"Kau tak ada apa-apany dengan istriku, dia wanita sempurna. Coba koreksi dirimu sendiri sebelum menilai orang." Ryu kesal mendengar ucapan Sora, dia tak terima istrinya diolok-olok seperti itu.
"Ayo sayang, kita ke sana." Ryu memeluk pinggang Aisyah, meninggalkan Sora yang terlihat kesal dengan ucapannya.
"Hai kakak ipar, aku Ayumi. Siapa namamu?" seorang gadis menghampiri Aisyah, wajahnya mirip dengan Bibi Mey tetapi versi muda.
"Aku Aisyah, senang bertemu dengan mu Ayumi." Aisyah menyalami Ayumi, tetapi gadis itu langsung memeluknya.
"Aku sudah mendengar dari Ryu, jika istrinya wanita yang sangat cantik, dan apa yang dia katakan ternyata benar." Ayumi berbicara menggunakan bahasa negara Ryu, meski sedikit terlihat kaku.
"Kamu jugak sangat cantik Ayumi." Aisyah melepas pelukannya, dia menatap Ayumi dengan sebuah senyuman.
"Kakak, boleh kan aku memanggilmu Kakak? Sora tak mau dipanggil Kakak, dia lebih suka dipanggil dengan namanya." Ayumi berbeda jauh dengan Sora, membuat mereka berdua terlihat langsung akrab.
Aisyah bersyukur, sebab dia menemukan teman yang seumuran bahkan dia juga bisa mengerti bahasa yang dia pakai. Ayumi membuatnya mengagumi gadis itu dipertemuan pertama mereka. Bahkan Ayumi tak segan menggandengnya menuju karpet yang akan digunakan untuk mereka makan malam.
"Bisa-bisanya Ayumi sok akrab sama gadis kampung itu." Sora menatap tak suka dua gadis yang kini sedang bertukar cerita. Mereka memang belum memulai makan malam, sebab masih menunggu ayahnya.
"Sama-sama kampungan!" Sora berdecak menatap mereka berdua, dia makin kesal saat Ryu memeluk pinggang Aisyah yang sedang berbicara dengan Ayumi.
Tak lama suami Bibi pun datang, dia langsung menyambut Ryu dan Aisyah dengan ramah dan baik, seperti sambutan Ayumi. Mungkin sifat Ayumi berasal dari ayahnya, meskipun wajah mereka berbed jauh karena Ayumi mirip sekali dengan ibunya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1