Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Jawaban Yang Sama


__ADS_3

"Ma, aku mau sendiri dulu. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini, maafkan aku Ma." Aisyah meninggalkan kedua orang tuanya ke dalam kamar setelah mendengar cerita yang sebenarnya. Dia merasa tak diinginkan oleh orang tua kandungnya, terutama sang Papa.


"Semua gara-gara kamu Mas! Kalau kamu enggak bahas masa lalu lagi, Aisyah enggak akan tahu. Dia tidak akan terluka lagi. Semua ini salah kamu." Winda tak terima melihat kondisi Aisyah yang makin terpuruk karena perbuatan mereka berdua.


"Kamu juga salah Win, kalau kamu mau nurut, sampai sekarang Nazwa juga tidak akan tahu." Kedua orang itu justru seperti anak kecil tak ada yang mau mengalah.


"Kamu egois! Aku tidak pernah mengusik kehidupan kalian, bahkan aku tak pernah melihat putraku sekalipun, tapi kamu selalu mengganggu kehidupan kami. Harusnya kamu tak usah urusi kehidupan ku dengan Aisyah setelah mendapatkan apa yang kamu mau! Harusnya kamu memang tak datang lagi di kehidupan kami, aku sudah bahagia dengan putriku!" Winda mengeluarkan segala unek-unek yang ada di kepalanya, dia begitu kecewa dengan Fadly yang selalu mengusik kehidupannya.


"Sekarang kamu pergi!" usir nya.


Kali ini Fadly mengalah, dia keluar dari rumah Winda dengan perasaan campur aduk. Tak menyagka jika rahasia terbesarnya semuda itu terbongkar di hadapan putrinya. Dia yakin setelah ini Aisyah akan makin memberi dirinya. Apakah dia menyesal? Sepertinya tidak, karena semuanya sudah berjalan lancar seperti keinginannya.


Winda terus menangis, dia tak sanggup jika Aisyah akan pergi meninggalkannya. Dia merasa jika Agam tak mungkin mau mengakui dirinya sebagai ibu kandung, mengingat putra kandungnya itu sudah hidup mewah sejak bayi. Meski begitu dia pun ingin bertemu dengan Agam walau hanya sekali saja.


Sedangkan Aisyah, gadis itu melamun sambil sesekali tertawa dan menangis bersamaan. Dia tak menyangka jika kenyataannya seperti itu, tak menyangka jika Mama yang selalu dia sayangi dan cintai hanya ibu susu, bukan ibu kandung. Lalu, apakah dia ingin bertemu dengan ibu kandungnya? Iya, dia ingin melihat seperti apa wajah wanita yang sudah melahirkan dirinya itu, tetapi apakah ibunya akan mengakui dia sebagai anak? Aj, rasanya dia tak berharap seperti itu, dia hanya ingin melihat wajah wanita itu.


Ponsel miliknya terus berdering sejak tadi, Aisyah seakan tak mendengar suara ponsel itu. Mungkin saja orang diseberang sana sudah sangat khawatir karena tak mendapatkan jawaban dari Aisyah. Hingga deringan kesekian kali, Aisyah menyadarinya dan dia pun menerima panggilan itu.


"Maafkan aku, tak mendengar ponsel berbunyi." Aisyah menampakkan senyum manisnya pada sang kekasih yang sedang menelpon video.


"Kamu kenapa? Mata mu sembab? Habis menangis?" Ryu ternyta tak bisa dibohongi, lelaki itu melihat senyum Aisyah yang hambar dan kedua bola mata membengkak, dia yakin kekasihnya itu menangis cukup lama.

__ADS_1


Aisyah menggeleng, lalu mengangguk, "Iya, karena Mama nangis waktu lihat aku pulang, jadi kami menangis bersama, melepas rindu," jawabnya berbohong.


"Kamu tidak bisa membohongi ku, sayang. Kamu lupa?" ternyata Ryu tak percaya dengan jawaban kekasihnya, dia bisa melihat sorot mata Aisyah yang memancarkan kesedihan.


Aisyah bergeming, air matanya kembali luruh setelah mendengar ucapan kekasihnya. Dia sadar, jika Ryu bukan lelaki yang bisa dibohongi begitu saja. Apalagi melihat kondisinya yang seperti sekarang ini, tetapi dia tak ingin membuat Ryu khawatir dengannya. Pasti lelaki itu tak akan tega membiarkan dirinya terpuruk seperti saat ini.


"Sayang, kenapa? Tunggu aku, aku akan segera menyusulmu." Seperti dugaan Aisyah jika Ryu tak akan tinggal diam melihat dirinya seperti itu.


"Jangan, kamu harus pergi sesuai jadwal. Aku baik-baik saja, hanya masalah keluarga sedikit. Nanti aku akan menceritakan kalau kamu sudah di sini." Aisyah tentu tak akan membiarkan Ryu pergi lebih dahulu dibandingkan yang lain, kekasihnya itu pasti akan terkena masalah lagi.


"Aku tak tenang melihat mu seperti itu." Ryu menatap wajah kekasihnya yang dibanjiri air mata, dia ingin sekali mengusap jejak air mata tersebut tetapi tak bisa.


"Aku baik-baik saja, tenanglah. Besok aku akan datang menyambutmu, katakan dimana kalian menginap nantinya." Aisyah mencoba menenangkan kekasihnya, dia tak ingin Ryu tidak fokus dan membuat berantakan acara tersebut.


Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang pengalaman Aisyah pulang ke negaranya seorang diri. Sejenak melupakan masalah yang dia hadapi saat ini. Yang terpenting dia tak ingin membuat Ryu khawatir dengannya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Winda sedikit banyak mendengar percakapan putrinya di telepon dengan sang kekasih. Dia lega karena Aisyah terlihat lebih baik setelah kekasihnya menelpon. Akan tetapi dia masih merasa khawatir jika Aisyah akan meninggalkannya.


"Aku yakin Aisyah bukan anak seperti itu, dia pasti akan tetap bersama ku. Dia putriku, meskipun tidak lahir dari kandungan ku." Winda kembali menitikan air mata saat membayangkan jika Aisyah meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Dia terkejut saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang, siapa lagi jika bukan Aisyah. "Mama tenang aja, aku akan tetap bersama Mama. Aku anak Mama, dan akan selalu menjadi anak Mama selamanya." Aisyah meletakkan kepalanya di bahu sang Mama yang terlihat lebih pendek darinya.


Saat ini mereka sedang berada di dapur. Wind berencana membuat masakan untuk putrinya, meskipun keadaanya kurang baik setelah pertemuan mereka dengan Fadly.


Winda membalikkan tubuhnya, dia membalas pelukan Aisyah. "Terima kasih sayang, Mama senang mendengarnya. Kamu memang anak Mama, selamanya akan jadi anak Mama." Air mata mereka berdua kembali tumpah.


Aisyah mengusap air mata Mamanya, "Ma, aku pernah lihat Agam. Dia tampan, dan sepertinya baik. Mungkin dia mirip Ayahnya, karena dia sama sekali tidak mirip dengan Papa," ucapnya.


"Kalau Mama mau bertemu dengan Agam, aku tidak masalah, Ma." Lanjutnya.


"Rasanya Mama tidak siap bertemu dengan dia. Biarkan seperti ini dulu, Mama yakin suatu saat kita akan bertemu tanpa sebuah perencanaan." Winda menggeleng, dia tak ingin membuat Aisyah sedih jika mengiyakan ucapan putrinya itu.


"Kapan kamu bertemu dengannya?" tanya Mama.


"Waktu dia liburan ke sana. Kami sempat ngobrol sebentar. Awalnya aku tak yakin dia Agam yang sama, tapi saat aku tanya sama Papa, ternyata dia Agam putra Mama. Papa memperlihatkan fotonya saat itu." Aisyah tersenyum saat menjawab pertanyaan Mama, seakan dia tak masalah jika Mama ingin bertemu dengan putranya.


"Sayang, apa kamu pengen bertemu Mama, mu? Dia cantik seperti kamu, wajah kalian hampir mirip, hanya saja kamu mewarisi hidung Papa mu." Winda menatap lekat putrinya.


"Jawaban sama seperti Mama. Aku tidak akan merencanakan pertemuan itu Ma, karena aku juga yakin kalau kami pasti akan bertemu tanpa perencanaan seperti yang Mama katakan," jawab Aisyah.


Winda kembali memeluk putrinya, dia sudah tidak khawatir lagi, jika Aisyah akan meninggalkannya. Dia tak sanggup jika Aisyah memilih hidup dengan orang tua kandungnya, dan Agam tak mau bersamanya. Sungguh hal yang tak pernah dia inginkan terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2