
Nita dan Santi baru saja meninggalkan rumah Aisyah setelah makan siang. Perpisahan kali ini terasa sangat berat, apalagi Nita yang tak bisa pulang saat Aisyah berangkat nanti, sebab ada ujian yang harus dia jalani. Nita bahkan menangis karena mengingat jika kebersamaan mereka tak akan lagi sama seperti dahulu, jika mereka bertemu nantinya. Akan tetapi dia juga tetap mendoakan yang terbaik buat Aisyah dan Ryu.
Aisyah masuk ke dalam kamar, mendapati Ryu sedang memeriksa isi kamarnya. Sepertinya ada yang membuat pemuda itu penasaran, hingga dia tak menyadari kehadiran Aisyah. Pemuda itu berdiri tepat di depan meja belajar Aisyah, entah sedang melihat apa.
"Apa yang kamu lihat?" tanyanya mmebuat Ryu terkejut hingga hampir menjatuhkan buku yang dia pegang.
"Mengagetkan saja." Ryu mengusap dadanya dengan sebelah tangan, "ternyata kamu mengidolakan Ye Jun sejak dulu ya? Ini aku sudah baca semuanya." Dia menunjukkan sebuah buku berwarna biru yang tadi dia baca.
"Lumayan, sejak pertama aku mengenal kalian semua. Bacanya jangan cuma halaman depan aja, coba baca sampai selesai dulu, biar kamu enggak salah paham." Aisyah mengira jika Ryu tak membaca semuanya dengan baik, karena wajahnya menyiratkan kekesalan.
"Sudah sayang," sahut Ryu. Dia menutup buku tersebut dan meletakkannya di atas meja belajar, lalu memilih duduk di sofa diijuti oleh Aisyah.
"Tapi, kenapa wajahmu kesal begitu?" tanya Aisyah.
Ryu tak menjawab, dia justru menarik tubuh istrinya hingga terduduk di pangkuannya. Memeluk erat tubuh gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan erat, lalu menyandarkan kepalanya di bahunya. Aisyah sama sekali tak menolak dengan perlakuan Ryu, karena dia tahu jika Ryu kini adalah suaminya dan berhak atas dirinya sepenuhnya.
"Rasanya aku tak rela, karena dulu kamu pernah mengidolakan sahabat ku sendiri," jawab Ryu setelah sekian lama membisu.
"Awalnya aku mengidolakan dia karena ketampanan dan jiwa pemimpinnya yang luar biasa, sebelum mengenalmu. Kamu juga pasti mengakui jika dia tampan, kan?" Aisyah menatap kedua bola mata Ryu, menunggu pengakuan dari suaminya itu.
"Ya, ya, ya. Aku mengakui kalau dia tampan, tapi kamu kenapa memuji dia di depan ku? Aku makin tak rela kalau dulu kamu pernah mengidolakan dia." Ryu mengeratkan pelukannya, hingga tak ada lagi jarak diantara mereka, bahkan kening dan hidung keduanya sudah menempel.
Sepasang pengantin baru itu saling menatap satu sama lain. Mereka berdua sama-sama membisu, hanya napas keduanya yang terdengar tak beraturan. Detak jantung yang semakin tak bisa dikondisikan membuat mereka tanpa sadar saling memejamkan mata, menikmati hembusan napas dari lawan masing-masing. Cukup lama mereja dalam posisi tersebut, tak ada satupun yang berniat mengubah posisi itu, hingga Aisyah memberanikan diri mengecup bibir Ryu, lalu merubah posisinya.
"Mandi dulu sana, setelah itu kita sholat bersama-sama." Aisyah turun dari pangkuan suaminya, tetapi Ryu menarik tangannya hingga kembali terjatuh kepangkuan Ryu.
"Mandinya nanti aja, gimana? Sekarang kita melakukan apa yang disarankan sama Santi aja," ucap Ryu.
__ADS_1
Aisyah terdiam, dia mengingat apa yang diucapkan oleh Santi. Seketika kedua bola matanya melebar, menatap suaminya yang kini sedang tersenyum penuh arti. "Jangan ngaco deh, siang bolong gini? Apa kata tetangga nanti? Sana kamu mandi dulu aja." Aisyah menanggapi serius ucapan suaminya itu, padahal Ryu hanya bercanda saja.
"Oke, nanti malam. Aku tak akan membiarkanmu tidur semalaman, bersiaplah." Ryu mengecup bibir Aisyah sekilas, lalu mengangkat tubuh istrinya dan kendudukan di sofa sebelahnya. "Harusnya kita mandi bareng," celetuk Ryu setelah beranjak dari duduknya.
Aisyah tersipu mendengar ucapan suaminya. Dia sama sekali tak pernah membayangkan mandi bersama dengan Ryu. Ah, pasti memalukan jika itu terjadi. Dan apalagi itu tadi? Ryu tak akan membiarkan dia tidur nanti malam? Membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti malam membuat Aisyah makin tersipu, padahal Ryu tak ada di dekatnya saat ini. Bagaimana jika Ryu ada di dekatnya? Sudah pasti dia akan kabur karena malu.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Makan malam kali ini terasa berbeda, sebab ada Ryu yang duduk bersama mereka. Jika, biasanya Mama Winda yang melayani Ryu saat pemuda itu bertamu, kini Aisyah lah yang melayani suaminya. Dia bertindak sebagai istri yang baik di hari pertama mereka menjadi suami istri. Mereka bertiga makan dalam keadaan hening.
"Ma, bagaimana kalau ikut kita saja?" tanya Ryu setelah mereka menyelesaikan makan malam tersebut.
"Mama tidak ingin mengganggu kalian berdua. Suatu saat Mama pasti akan berkunjung ke rumah kalian," tolak Mama entah yang keberapa. Ternyata wanita itu tetap dalam pendiriannya untuk tetap di sini.
"Kami tunggu kedatangan Mama," ucap Ryu pasrah.
"Enggak Ma, liburku cuma sebentar dan aku akan mengajak Aisyah menjenguk ibuku dulu, sebelum kita kembali," jawab Ryu.
Aisyah menatap suaminya meminta penjelasan. Ryu tak pernah membicarakan hal ini sesebelumnya. Dia bahkan mengira akan lebih lama lagi berada di sini, tetapi sepertinya tidak sesuai harapannya.
"Bagus itu, kalian temui dulu Ibu kamu. Dia pasti seneng anaknya datang," sahut Mama.
Obrolan mereka berakhir setelah Ryu berpamitan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Aisyah membantu membereskan meja makan, tetapi Mama melarang, dan menyuruh Aisyah untuk menyusul suaminya.
"Ini biar Mama yang beresin, sekarang kamu temani suami mu," ucap Mama.
Aisyah mengangguk, "Tapi Ma," dia ingin menolak keinginan sang Mama.
__ADS_1
"Mama sudah pernah muda dan pernah menikah, jadi tahu bagaimana rasanya jadi pengantin baru dan apa yang diinginkan pengantin baru." Mama menatap Aisyah lalu menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Aisyah pun meninggalkan sang Mama. Dia melangkah pasti menuju kamar, jantungnya berdebar lebih cepat seakan ingin melompat dari tempatnya. Membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dia pun membuka pintu perlahan dan mendapati sang suami tercinta sedang duduk di atas kasur sambil tersenyum padanya.
"Sini, sweetheart." Ryu menepuk tempat kosong disebelahnya supaya Aisyah duduk di sana.
"Aku ke kamar mandi sebentar." Aisyah tak pernah merasa se gugup ini, padahal mereka sudah biasa bersama dan seringkali mereka bermesraan, tetapi tak pernah merasa se gugup ini.
"Sebentar aja, setelah itu kalau kamu mau ke kamar mandi," ucap Ryu, menghentikan langkah Aisyah dan membuat gadis itu berbelok ke arah ranjang.
Aisyah naik ke atas ranjang dengan perlahan, lalu duduk di samping Ryu. "Ada apa sayang?" tanyanya.
"Aku punya sesuatu untuk mu." Ryu menyerahkan sebuah paperbag berwarna cokelat pada istrinya itu.
"Eits tapi jangan di buka dulu, aku ingin membuka yang lain lebih dulu." Ryu kembali menarik paperbag tersebut.
Aisyah mengernyitkan dahinya tak mengerti, "Maksudnya?" tanyanya.
Ryu memutar tubuhnya menghadap sang istri, dia menatap wajah bingung Aisyah dengan sebuah senyuman, "Kita sudah menikah, dan kamu sejak tadi masih pakai ini. Aku penasaran ingin memebukanya." Dian mulai membuka penutup kepala Aisyah yang sejak tadi sama sekali tidak terlepas dari kepalanya. Penasaran ingin melihat secantik apa wajah istrinya saat tak mengenakan hijab.
Aisyah tersenyum canggung, "Kan, pernah melihat sebelumnya," ucapnya.
"Sudah lupa sayang, itu juga dalam suasana tidak baik, jadi sama sekali tak mengingat secantik apa istriku ini? Ternyata sangat cantik." Ryu menatap Aisyah yang sudah tak mengenakan penutup kepala.
"Ini baru satu yang di buka, belum yang lain. Pasti akan terlihat makin cantik jika yang lainnya juga terbuka," lanjutnya.
"Ryu," rengek Aisyah, tak suka dengan godaan suaminya.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜