
Kedua gadis itu melanjutkan cerita mereka masing-masing saat kuliah. Tidak lagi pembahasan tentang Santi, karena mereka memang tak patut ikut campur urusan pribadi Santi. Itu jalan pilihan Santi, dan tentunya Santi sudah memikirkan semua itu sebelumnya.
"Hai, Aisyah sudah datang ternyata." Santi masuk ke dalam kamar kos Nita tanpa mengetuk pintu, sebab pintu itu sedikit terbuka.
"Hai, gue baru dateng kok. Sini kita baru pesen sarapan, tenang Lo juga gue pesenin." Aisyah menepuk sisi kosong disebelahnya supaya Santi duduk di sana.
"Baik banget sih sahabat gue. Tahu aja kalau gue belum sarapan." Santi pun duduk di sebelah Aisyah.
"Gue pengen ketemu sama Ye Jun, boleh dong." Nita menatap Aisyah penuh harap, tetapi sahabatnya itu menggeleng, membuatnya sedikit kecewa.
"Maaf San, gue enggak sedekat itu sama mereka. Kalau Lo mau ketemu sama Ryu, itu mudah. Tapi, kalau yang lain gue enggak bisa jamin Lo bisa ketemu sama mereka. Diantara keempat teman Ryu, yang paling gue kenal cuma Kak Lee dan gue punya nomornya, kalo Lo mau ketemu dia mungkin bisa, mungkin tapi ya." Aisyah menolak permintaan Santi, meskipun dia tahu Santi sangat berharap bertemu dengan Ye Jun.
"Yaudah deh, Ryu aja kalau gitu." Santi pasrah dia tak mau memaksa sahabatnya.
"Maaf ya San, alasan pertama memang gue enggak dekat dengan mereka dan alasan ke dua, Ryu itu sangat sangat cemburu kalau gue bahas tentang Ye Jun, apapun itu. Bahkan kita sering bertengkar karena Ryu yang sering overthinking tentang Ye Jun, terutama kalau mereka datang ke apartemen Ryu dan ada gue di sana." Aisyah menjelaskan akan penolakannya.
"Baiklah, enggak masalah kok, gue ngerti. Lagian gue masih bisa lihat Ye Jun nanti, kan? Ah, pengen gue tatap dia sepuasnya. Gue pengen punya anak setampan Ye Jun." Santi terlihat berbinar saat mengatakan tentang Ye Jun, sebegitu sukanya dia dengan Ye Jun.
Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Ketiga gadis itu pun menikmati makanan tersebut sambil melempar candaan satu sama lain. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan yang sangat jarang terjadi ini.
Aisyah juga menceritakan kejadian saat dia pulang ke rumah dan siapa pemuda yang mengobrol dengannya tadi malam saat menonton konser. Kedua gadis itu seakan tak percaya dengan cerita Aisyah, karena selama ini Mama Winda terlihat begitu menyayangi Aisyah yang bahkan bukan anak kandungnya sendiri.
"Bisa banget dong kenalin Agam ke Nita, biar kalian bersaudara. Nita, kan masih jomlo," celetuk Santi setelah Aisyah menjelaskan semuanya.
Kali ini Aisyah menjelaskan tanpa air mata, sebab dia sudah menerima takdir yang memang digariskan untuknya. "Kalau Nita mau, kapan-kapan gue kenalin. Siapa tahu Agam juga tertarik sama Nita," sahur Aisyah.
"Kalian berdua enggak usah ngaco deh! Gue cuma butiran debu bagi Agam yang seorang pangeran. Dia bisa milih cewek manapun yang diadia mau, kecuali Aisyah." Nita tidak setuju dengan ide kedua sahabatnya, dia merasa rendah diri di hadapan Agam tentunya.
"Dicoba, kan enggak ada salahnya." Santi terus memaksa.
__ADS_1
"Emang seblak bisa di coba. Enggak deh, kalian berdua enggak usah nentuin siapa jodoh gue. Karena gue aja enggak bisa nentuin seperti apa jodoh gue." Nita menggelengkan kepala tak setuju.
"Iya deh, jodoh Lo Agam juga gue enggak masalah." Aisyah menimpali, dia seakan tak mau berhenti menggoda sahabatnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Hari itu mereka kembali mengulang sejarah beberapa tahun lalu saat masih duduk di SMA. Berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Kali ini mereka berbelanja dengan uang saku masing-masing. Mereka mengelilingi beberapa toko pakaian, sepatu dan tas serta aksesoris. Seakan tak puas melihat semunya, mereka bahkan memasuki semua toko-toko tersebut.
"Capek juga ya, gue enggak pernah keliling kaya gini, di luar enggak ada temen buat diajak keliling." Aisyah meletakkan paper bag yang dia bawa di sebuah sofa ruang tunggu. Mereka baru memasuki sebuah toko pakaian ternama.
"Tapi seru, gue seneng banget," sahur Santi, gadis itu bahkan langsung menghilang dibalik pakaian yang tergantung.
"Mbak, kami nitip belanjaan di sini enggak apa-apa, kan?" tanya Aisyah pada salah satu pelayanan toko tersebut.
"Iya Kak, semua barang kecuali dompet memang harus ditinggal di situ Kak," jawab pelayanan tersebut.
Setelah dirasa aman, Aisyah dan Nita pun menyusul Santi yang sudah menghilang sejak tadi. Mereka mengelilingi pakaian khusus perempuan tetapi tak melihat adanya Santi disana. Hingga kedua gadis itu terngaga saat melihat Santi sedang memilih sebuah pakian tidur yang sama sekali tak layak disebut sebagai pakaian.
"Iya dong, gue sering beli kaya gini, tapi Adit selalu merobeknya. Padahal baru gue pakai sekali." Santi tanpa sadar mengatakan hal itu.
"Ck, lo juga beli Ais, biar Ryu ada kerjaan," celetuk Nita asal.
"Ogah gue, lihatnya aja ngeri apalagi make." Aisyah bergidik ngeri melihat pakaian itu, apalagi memakainya. Oh, tidak!
Selesai memilih pakian yang mereka sukai, ketiganya pun membawa pakaian tersebut ke kasir. Tak banyak yang mereka beli di sana, bahkan Nita tak membeli apapun, dia hanya membawakan pakian milik Santi yang kali ini belanja paling banyak. Alasannya untuk persiapan pernikahannya.
"Aisyah, tidak menyangka secepat ini kita kan bertemu lagi." Aisyah menoleh ke arah belakang dimana seorang pemuda berdiri dan dibelakang pemuda itu ada sepasang suami istri.
"Hai Agam, Om, Tante." Aisyah tersenyum lalu menyalami kedua orang tuanya. Tangannya sedikit bergetar saat menyalami wanita yang telah melahirkannya itu. Ternyata takdir secepat itu mempertemukan mereka.
__ADS_1
"Oh kamu yang bernama Aisyah? Agam sering cerita tentang kamu, sejak kalian bertemu di luar negeri. Kamu cantik, pantas saja anak tante jatuh cinta pada pandangan pertama. Jangan-jangan kalian sudah janjian di sini." Dewi mengusap lengan Aisyah, dia kagus dengan gadis itu.
"Tante terlalu berlebihan. Kami enggak janjian kok Tan, kebetulan saja." Aisyah tersenyum canggung, tak menyangka mendengar ucapan wanita itu tentang Agam yang menyukainya sejak pertama bertemu.
"Bunda bikin malu aja," protes Agam.
"Apa kabar Om, sudah lama kita enggak ketemu ya?" Aisyah sengaja menyapa Papanya, dia ingin menjelaskan sesuatu yang terlintas dipikirannya.
"Ah, baik. Ternyata kamu mengenal anak Om ya," jawab Fadly.
"Iya, kami tak sengaja bertemu. Aku tahu dia anak Om juga karena tak sengaja melihat wallpaper ponsel Om waktu itu." Aisyah mulai menerankan sandiwaranya, padahal dia melihat foto Agam atas pemberian Fadly.
"Jadi, kalian sudah saling kenal? Kok bisa?" Agam tak menyangka ternyata Papanya dan Aisyah saling mengenal.
"Iya, Om Fadly kan teman Tuan Park, ayah Ryu, kekasihku. Iya, kan Om?" Aisyah kembali membuat sandiwara, dia ingin melihat seperti apa reaksi Papanya itu.
"Ah iya, kami pernah bertemu di rumah temanku itu Bun." Fadly terlihat salah tingkah saat mengatakan hal itu.
"Makanya aku bilang tak mungkin menjadi kekasih pura-pura kamu, karena aku sudah mengenal Papa mu. Dan kenapa aku langsung akrab denganmu ya karena Papamu juga Gam, maaf ya aku enggak ngomong." Aisyah tersenyum canggung menatap Agam.
"Oh, jadi Agam selama ini bohong sama Bunda? Dasar anak nakal." Dewi menatap putranya tak suka karena telah berbohong.
"Maaf Bun," ucap Agam sambil menyengir.
Nita dan Santi menyaksikan drama yang dimainkan Aisyah hanya bisa menganga tak percaya. Ternyata sahabatnya itu bisa menyimpan kesedihan sebaik itu, bahkan saat bertemu ibu kandungnya dia masih terlihat baik-baik saja, meski mereka tak yakin setelah ini Aisyah akan tetap baik-baik saja.
"Wajah Aisyah itu perpaduan Papa dan Bundanya ya, tapi ada miripnya sedikit sama Tante Winda," bisik Santi pada Nita.
"Cara bicara mereka yang mirip," sahut Nita.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜