Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Rahasia Tuan Park


__ADS_3

"Bolehkah Papa memelukmu sekali ini saja," Aisyah terus terngiang-ngiang ucapan Papanya saat akan berpamitan siang tadi. Dia masih belum bisa memaafkan lelaki yang membuatnya ada di dunia ini, terlalu rumit dan penuh tanda tanya menurutnya.


"Aisyah, Papa mu itu sayangat menyayangi mu. Dia melakukan banyak hal untuk melindungi mu di sini." Tuan Park duduk di samping gadis itu yang sejak tadi terlihat terus merenung.


Aisyah menoleh ke arah Tuan Park, dia tak mengerti dengan ucapan lelaki yang masih terlihat gagah di usia setengah bayanya itu. Seakan mengerti dengan apa yang Aisyah pikirkan Tuan Park pun tersenyum lalu mengangguk sebelum dia menjelaskan apa yang diucapkannya tadi.


"Kau ingat lelaki muda berpakaian hitam yang menolong mu?" Tuan Park menatap Aisyah dan gadis itu mengangguk.


"Namanya Jae, selama setahun lebih dia selalu mengikuti kemana pun kamu pergi, dia bahkan tinggal di apartemen yang sama dengan mu. Sebentar kau jangan salah paham dulu." Tuan Park tersenyum saat menyadari Aisyah seperti ingin memotong ucapannya.


"Lalu kenapa dia melakukan itu Tuan?" tanya Aisyah.


"Dia seorang pengawal terbaik ku. Semua itu aku lakukan karena permintaan Papa mu, dia tak mau putrinya terluka di sini. Dia mengkhawatirkan mu, apalagi pembullyan di negara semakin marak di lingkungan pelajar. Papa mu tak mau itu terjadi pada putrinya, dan semua kelancaran sekolahmu itu Jae ikut andil di dalamnya. Mengerti maksudku, kan?" Tuan Park mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.


Aisyah mengangguk, dia sangat paham dengan apa yang dijelaskan oleh lelaki itu. "Aku jadi merasa bersalah dengan Papa, tapi kami memang tak sedekat itu, Tuan." Aisyah menundukkan wajahnya, dia menyesal tapi tak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Coba jangan panggil aku Tuan, bisa kau memanggilku Paman, itu terlihat lebih akrab, bukan?" Tuan Park sebenarnya sudah sejak kemarin ingin mengatakan hal ini, tetapi dia belum memiliki keberanian untuk meminta hal tersebut.


"Ah, baiklah Paman," sahut Aisyah.

__ADS_1


"Coba kamu mendekatkan diri dengan Papa mu. Dia akan di sini selama beberapa hari, dan kamu bisa memanfaatkan hal itu, kalian bisa pergi kemana pun berdua. Mungkin dengan begitu kamu akan lebih mengenal Papa mu, akan tahu seperti apa sayangnya di terhadap mu. Papa juga pasti sudah menyesali semuanya." Tutur Tuan Park.


Aisyah mengangguk, "Baiklah akan aku coba, Paman. Mungkin memang saat ini waktu terbaik untuk lebih dekat dengan nya." Ucapnya menyetujui.


"Paman, setelah ini biarkan aku tinggal di apartemen kembali, aku merasa tak enak jika harus di sini selamanya, aku akan merepotkan mu terus," ujar Aisyah, dia makin tak enak setelah mengetahui jika Tuan Park adalah sahabat Papanya, tak mau merepotkan lelaki itu.


Tuan Park mengangguk, "Kamu akan pindah ke apartemen sabtu nanti, tapi tidak di tempat yang dulu. Kamu akan tinggal di apartemen yang sama dengan Ryu, karena di sana lebih aman, banyak juga pegawai ku yang tinggal di sana, bagaimana?" sebenarnya Tuan Park tak membutuhkan persetujuan dari Aisyah, karena dia sudah mempersiapkan semuanya tanpa diketahui oleh gadis itu.


"Disana sewanya mahal, aku tak bisa membayar sewanya." Aisyah menundukkan kepalanya, sebenarnya bisa saja dia menyewa apartemen di sana, tetapi dia tak mau sebab akan lebih banyak mengeluarkan biaya dan jatah bulananya makin bertambah.


Tuan Park tersenyum, lelaki itu terlihat begitu bahagia bisa berbicara panjang lebar dengan Aisyah yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri, "Aku memiliki beberapa unit apartemen di sana, dan kau akan menempati salah satunya tanpa uang sewa," ucapnya.


Aisyah mengangguk, entah bahagia atau sebaliknya mendapatkan keberuntungan untuk sekian kalinya dengan bertemu orang sebaik Tuan Park. Dia hanya berharap Tuan Park tulus membantunya, karena jika tidak tentu akan menyulitkan nya di masa depan.


"Terimakasih untuk semua kebaikanmu, Paman. Aku jadi merasa tak enak dengan semua pertonganmu ini," ucapnya sungkan.


Tuan Park hanya menepuk pundaknya lalu meninggalkan gadis itu seorang diri di sana. Dia berjalan menuju ruang kerjanya dengan sebuah senyum kebahagiaan, entah apa alasan yang membuatnya tersenyum itu.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


"Apa kamu tidak curiga kalau Tuan Park itu mempunyai sebuah rahasia antara dia dan kekasih mu. Eh, maksudku bukan seperti yang kau pikirkan Ryu," Sam meralat ucapnya saat mendapatkan tatapan tak suka dari Ryu.


"Begini maksudku, sepertinya Tuan Park mengenal Aisyah sebelumnya, karena dia sampai sebegitunya membantu kekasih mu yang bahkan tak dia kenal. Ini kan aneh, iya kan Lee?" Sam meminta persetujuan pada Lee.


Mereka bertiga saat ini sedang berada di ruang santai HS, sedangkan Shin dan Ye Jun sedang melakukan live di kamar mereka masing-masing. Ketiganya baru saja usai melakukan live, karena meraka tak membutuhkan waktu lama untuk berbincang dengan para fans.


"Aku juga berfikir seperti itu. Tak mungkin dia hanya menolong mu tanpa alasan lain, pasti ada hal lain yang membuat Tuan Park seperti itu," sahut Lee menyetujui pendapat Sam.


Ryu terdiam, dia membenarkan apa yang dikatakan Sam dan Lee, tetapi dia tak memiliki alasan yang tepat untuk berfikiran sama dengan mereka. "Tapi, Tuan Park tak mengenal Aisyah sebelumnya," ucapnya.


"Coba kau cari tahu akan hal itu. Tak mungkin juga Tuan Park menahan kekasih mu di rumahnya jika tak ada sesuatu yang membuat dia melakukan itu, dan satu lagi dia juga menghukum kalian karena kesalahan mu, bukan?" Sam kembali mengingatkan akan hukuman yang diberikan Tuan Park pada Ryu.


Ryu mengangguk, "Iya, memang sangat masuk akal ucapan mu itu, Sam. Aku akan cari tahu hal itu. Semoga saja Tuan Park tak mengecewakan ku," ucapnya. Dia hanya takut Tuan Park akan mengambil Aisyah darinya, meski itu sedikit menggelikan karena Aisyah hanya seorang gadis berusia sembilan belas tahun, sedangkan Tuan Park sudah hampir berumur setengah abad. Tak mungkin jika Tuan Park menyukai Aisyah, bukan?


"Sebaiknya memang itu yang harus kamu lakukan, tapi nanti setelah selesai semua pekerjaan kita. Sekarang lebih baik kita fokus untuk hari minggu, aku tak mau Tuan Cho marah-marah seperti beberapa hari yang lalu. Dia marah sama kamu tapi kita semua kena imbasnya, menyakitkan bukan?" ternyata Shin mendengar percakapan tiga sahabat, hingga dia memberikan saran dan juga keluhan yang mereka berempat lalui selama dua hari terakhir ini.


"Maafkan aku atas hal itu, aku akui memang bersalah di sini, tapi aku juga tak mungkin membiarkan orang yang aku cintai dalam keadaan seperti itu. Mungkin jika kau di posisi ku saat iutu, juga akan melakukan hal yang sama," sahut Ryu, dia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Shin.


Lee menepuk bahu Ryu, lalu menggelengkan kepala, "Tak apa, kita tahu apa yang kau rasakan dan itu juga sudah berlalu dengan baik, bukan?" ucapnya, membuat Ryu tersenyum.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2