
"Aku penasaran dengan suasana di atas sana. Bukankah kamu pernah mengajak Ye Jun ke atap gedung ini? Bagaiman kalau kita ke sana sekarang?" Ryu ingin mencari suasana baru, karena keadaan saat ini membuatnya merasa tak aman.
"Hah?" Aisyah yang masih terbayang apa yang baru saja Ryu lakukan, dia sama sekali tak mendengar apa yang di ucapkan Ryu. Dia mentatap kekasihnya itu dengan mulut terbuka.
"Jangan seperti itu, atau mau aku cium lagi?" goda Ryu.
Seketika Aisyah langsung melepaskan pelukannya, "Jangan menggodaku!" ucapnya.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanyanya.
"Oh itu, ayo kita kemana gitu. Ke atap misalnya? Aku juga ingin ke atap seperti Ye Jun yang pernah kamu ajak ke sana," ajak Ryu.
Aisyah tak menjawab, dia menatap penampilan kekasihnya yang masih berantakan, meski menurutnya Ryu tetap tampan dengan penampilannya itu. "Kamu mandi dulu sana, kau terlihat berantakan," cibir gadis itu.
"Tidak masalah, asalkan kamu masih mau dengan ku." Ryu menaik turunkan alisnya menggoda Aisyah.
Aisyah menggeleng, "Aku sih bisa menerima dirimu seperti apapun, tapi aku akan malu jika jalan berdua dengan mu yang masih seperti itu. Mandilah, biar ku ambilkan handuk dan pakaian ganti untuk mu." Dia meninggalkan Ryu menuju kamar yang ada di loteng.
Tak lama Aisyah turun dengan membawa handuk dan pakaian untuk Ryu, "Sana mandilah. Aku sudah mandi tadi." Menyerahkan pakaian tersebut pada kekasihnya.
"Kamu membelanjakan pakaian untuk ku?" tanya Ryu heran.
Aisyah mengangguk, "Hanya satu itu saja, lain kali kalau mau menginap bawa pakaian sendiri," jawabnya.
Ryu tersenyum, "Baiklah, nanti tolong cucikan pakaian ku yang ini ya. Nanti kalau aku menginap lagi tak usah membawa pakaian ganti." Dia mengedipkan sebelah matanya dan meninggalkan Aisyah menuju kamar mandi.
Setelah Ryu masuk ke kamar mandi, Aisyah segera mengganti pakaiannya, dia tak mungkin keluar apartemen menggunakan piyama, karena sudah pasti akan menjadi pusat perhatian banyak orang dan dia tak mau itu terjadi. Dirinya saja selalu menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang mengenakan hijab, meski sering kali dia menggunakan hoodie dan menutup kepalanya dengan hoodie tersebut.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Dua sejoli itu kini sudah duduk di sebuah kafe outdoor yang terletak tak jauh dari apartemen Aisyah. Kafe itu memiliki tempat private meski berada di luar ruangan, seperti yang saat ini ditempati Aisyah dan Ryu. Terlihat hanya ada dua meja dan salah satunya sudah diisi oleh dua orang tersebut.
"Lebih baik di sini daripada di rooftop, di atap gedung apartemen ku itu tak ada apapun, hanya benda-benda tak penting dan sedikit menyeramkan menurut ku." Aisyah melihat sekeliling yang begitu sejuk dengan pemandangan taman yang berisi berbagai macam bunga.
"Ya sepertinya begitu, dari pada di dalam apartemen mu, lama-lama aku bisa meniduri mu, terlalu sempit," ucap Ryu asal.
Aisyah mentap tak suka pada Ryu, "Baiklah kalau begitu jangan pernah datang ke apartemen ku lagi, jika seperti itu pemikiran mu. Kita bertemu di tempat lain, jangan di apartemen mu juga," ketusnya.
"Aduh sweetheart, aku hanya bercanda. Aku tak akan melakukan itu, aku janji pada mu." Ryu meraih tangan Aisyah, tapi gadis itu menepis nya.
Belum juga dia berhasil membujuk kekasihnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering, dia pun langsung menerima panggilan tersebut. Sedangkan Aisyah masih dalam mode ngambeknya, dia tak suka jika Ryu mengatakan hal yang tak disukainya seperti tadi, sesuatu yang bisa saja terjadi jika mereka khilaf.
"Sweetheart, aku keluar sebentar ya. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Maafkan ucapanku tadi ya." Ryu mengusap puncak kepala Aisyah sebelum meninggalkan kekasihnya itu, dia mengenakan masker dan juga penutup kepala untuk menyamarkan penampilannya.
Tak sampai lima menit Ryu telah kembali, dengan sebuah paper bag, "Lama ya?" tanya nya pada Aisyah.
"Kamu tahu makanan yang bisa kamu makan di sini?" Ryu menerima buku menu tersebut sambil membacanya.
"Hem," Aisyah hanya berdehem.
Ryu menatap sendu kekasihnya, "Maafkan aku, aku hanya bercanda tadi sayang." Dia kembali meraih tangan Aisyah dan kali ini gadis itu tak menolak.
"Seperti inilah kalau pacaran sama gadis remaja," ucapnya dalam hati, dia sadar remaja yang baru menginjak dewasa seperti Aisyah masih sedikit labil, meski dia akui Aisyah sudah lebih dewasa dari umurnya.
"Aku tak suka bercanda mu yang seperti itu. Aku khawatir Ryu! Imanku tak setebal itu! Kalau kau menginginkan hal itu bisa saja aku khilaf dan menyetujuinya, tapi kalau kamu enggak pernah berfikir seperti itu, kita bisa sama-sama saling menjaga." Kedua bola mata gadis itu berkaca-kaca, sebentar lagi hujan akan runtuh.
__ADS_1
Ryu mengerti apa yang dikhawatirkan Aisyah, dia juga membenarkan ucapan kekasihnya itu. Jika salah satu dari mereka menginginkan hal tersebut, tentu salah satunya juga bisa mengikuti meski mungkin akan berakhir sebuah penyesalan. Karena mereka dalam keadaan saling mencintai dan bisa dikatakan cinta mereka sedang membara saat ini.
Ryu mendekati kekaishnya itu, berdiri dengan kedua lutut supaya bisa menatap Aisyah, "Maafkan aku, aku tak akan melakukan itu lagi. Kamu jangan nangis ya, aku tak bisa melihatmu menagis." Dia pun menghapus air mata yang sudah jatuh di pipi kekasihnya.
Aisyah mengangguk, dia memeluk Ryu, "Aku juga minta maaf pada mu. Kamu harus sabar menghadapi ku yang terkadang masih sering ngambek seperti ini." Ucapnya.
Ryu membalas pelukan tersebut, lalu mengangguk. "Sudah ya, kita sudah saling memaafkan, sekarang kamu jangan nangis lagi." Ryu melepaskan pelukannya lalu mengusap kembali kedua pipi Aisyah.
Ryu kembali duduk di kursinya, dan tak lama pelayan datang membawa pesanan Aisyah yang ternyata hanya memesan dessert dan jus buah. Ryu pun memesan makanan untuknya.
"Aku punya sesuatu untuk mu. Aku membelinya sudah beberapa hari yang lalu, semoga kamu menyukainya." Ryu menyerahkan paper bag yang tadi dia bawa pada Aisyah.
"Terimakasih, tapi tak seharusnya kamu membelikan ku seperti ini, yang kemarin saja belum kita pakai." Aisyah menerima paper bag tersebut, dia sudah berkomentar bahkan sebelum melihat isinya.
"Wah, terimakasih. Kamu tahu saja kalau aku sudah kehabisan pashmina, aku tak tahu dimana membelinya. Lain kali ajak aku ke sana ya, dari pada aku harus merepotkan kak Bella untuk mengirim kain ini." Aisyah berbinar bahagia saat mendapati beberapa pashmina dengan motif dan corak berbeda.
"Tentu saja, kapan kau bisa aku akan mengajakmu ke sana." Jawab Ryu.
"Ada satu lagi untuk mu." Kali ini Ryu meraih sebuah benda yang ada di kantong mantelnya lalu menyerahkan benda tersebut pada Aisyah.
"Apa ini?" tanya Aisyah saat menerima sebuah kotak tipis panjang dari tangan Ryu.
"Bukalah," ujar Ryu.
Aisyah membuka kotak tersebut, "Wah, ini serius! Ah aku bahagia sekali, akhirnya bisa melihatmu beraksi di atas panggung. Terimakasih sayang." Aisyah menatap sebuah kertas berbentuk persegi panjang tak terlalu lebar dengan senyum bahagia. Awalnya dia mengira Ryu akan memberinya perhiasan atau apa, tapi ternyata tiket konser The Boys yang akan diadakan dua minggu lagi. Meski bukan sesuai harapannya Aisyah bahagia karena itu juga hal langka.
"Kau akan datang bersama Eun Ji. Karena kita tak bisa datang bersama, tapi tenanglah Eun Ji akan membawa mobilku nanti," ucap Ryu membuat Aisyah makin bahagia.
__ADS_1
Tak pernah menyangka jika dia akan mendapatkan tiket konser The Boys dengan cuma-cuma seperti saat ini. Dulu dia hanya berdoa semoga bisa selalu membeli tiket konsel idolanya itu ketikan mereka datang ke negaranya, tapi ternyata dia mendapatkan lebih dari apa yang diharapkan.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜