
Aisyah baru saja masuk ke dalam kamar yang ada di villa di mana tempat Ryu syuting. Hanya saja, kamar mereka berdua terpisah karena Aisyah tak ingin ada yang curiga dengan hubungan mereka. Wanita itu melemparkan tubuhnua di atas tempat tidur, karena kelelahan setelah perjalanan yang cukup memakan waktu. Baru saja dia akan memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu dari luar, dia pun bangkit dan membuka pintu tersebut.
"Hai, kita berjumpa lagi," ucap seseorang di luar sana.
"Kak Iren, ayo masuk kak." Aisyah tentu saja terkejut melihat siapa yang datang, meski begitu dia tetap mempersilakan Iren untuk masuk.
"Kak Iren di sini juga?" tanyanya.
Iren mengangguk, "Sudah satu minggu aku pindah kerja ke SM. Kebetulan sedang ada lowongan di sini," jawabnya.
"Syukurla. Jadi, kak Iren yang akan nemenin aku, nih?" Aisyah teringat akan ucapan Ryu, jika ada seorang staf yang akan menemaninya.
"Iya, Ryu memintaku untuk menemani mu. Awalnya aku tidak ikut ke sini, karena harus bekerja di kantor, tapi Ryu meminta secara langsung pada Tuan Cho," jawab Iren panjang lebar.
"Sampai segitunya dia mau ngajakin aku ke sini." Aisyah terharu mendengar usaha suaminya, tak menyangka jika Ryu akan melakukan hal itu.
Dua perempuan yang terpaut usia tak begitu jauh itupun melanjutkan obrolan mereka hingga melupakan rasa lelah yang tadi sempat bersarang. Apalagi ditambah Iren yang membawa beberapa makanan, membuat mereka berdua makin asyik dalam obrolan. Bahkan Aisyah melupakan pesan suaminya untuk mengabari dirinya jika sudah sampai, sebab mereka tidak berangkat bersama.
"Jadi, Kak Iren sama Sunni sekarang tinggal di apartemen Sam? Adik Kak Iren juga pindah sekolah dong," tanya Aisyah saat Iren mengatakan dia sudah tidak tinggal di kotanya.
Iren mengangguk, "Iya terpaksa kita pindah, karena rumah ibu sudah digadaikan ke Paman, dan Paman meminta kami keluar dari rumah. Awalnya aku tidak mau, karena di rumah itu banyak sekali kenangan masa kecil kami, tapi Sam menyetujui permintaan Paman, sebab dia tak mau mengingat masa kelam di rumah itu," jelasnya.
"Aku ikut prihatin. Kak Iren yang sabar ya, pasti ini berat buat Kakak." Aisyah mengusap lengan Iren dengan lembut, mencoba menenangkan perasaan gadis itu.
Iren tersenyum, "Terima kasih Aisyah, aku seperti menemukan teman sekaligus adik baru. Kamu bahkan lebih enak diajak bicara daripada Sunni," ucapnya.
__ADS_1
"Sunni masih terlalu muda untuk menerima kenyataan ini Kak," sahut Aisyah.
"Bukan terlalu muda, tetapi dia memang belum bisa berfikir dewasa. Umur kalian bahkan hampir sama, tetapi dia terlalu dimanja sama ibu ku, jadi ya seperti itu," ujar Iren.
Aisyah hanya tersenyum menanggapi, dia tak tahu harus mengatakan apa.
"Pasti kamu bertanya-tanya, kenapa ibuku sampai menggadaikan rumah, kan?" tebak Iren, sebab dia tahu Aisyah tak mungkin menanyakan hal itu.
Aisyah mengangguk, "Sebenarnya iya, kak. Sam kan sudah jadi idol sejak beberapa tahun lalu," ucapnya.
"Itu masalahnya, ibu dan ayah tidak pernah menyetujui cita-cita Sam jadi idol, bahkan hingga ayah meninggal belum juga memberikan restu, sebab itu ibu malu menerima pemberian Sam. Ibu juga enggak mau menceritakan keuangan pada Sam. Ibu selalu pura-pura marah kalau Sam memberi uang, dia lebih memilih menggadaikan rumah," jelas Iren.
Aisyah tak menyangka kehidupan seorang idol yang selalu di eluh-eluhkan di luar sana, ternyata mereka memiliki masalah pribadi yang rumit. Itu baru Sam dan Ryu yang dia tahu, masih ada tiga lainnya yang mungkin memiliki permasalahan pribadi yang lumayan rumit juga, tapi tentu Aisyah tak akan mengorek kehidupan mereka.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Kau tak usah khawatir, Iren baru saja mengirim pesan padaku, kalau dia sudah bersama Aisyah," bisik Sam disela istirahat syuting.
"Coba aku lihat mana pesannya." Ryu tak percaya begitu saja sebelum melihat bukti.
Sam menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan pesan Iren padanya beberapa menit yang lalu, "Percaya, kan? Fokuslah, jangan buat yang lain kesal lagi padamu. Apalagi jika mereka tahu kau memikirkan istrimu." Dia menepuk pundak Ryu dan beranjak menghampiri yang lain
karena syuting akan dilanjutkan kembali.
Ryu bernapas lega, setidaknya sudah mengetahui jika istrinya baik-baik saja meskipun tidak secara langsung. Dia hanya heran, kenapa Aisyah tak memberinya kabar? Apa mungkin ponsel istrinya itu mati atau ada hal lain yang membuat Aisyah melupakan pesannya. Tak mau memikirkan kemungkinan yang tak pasti, akhirnya Ryu pun menyusul yang lain untuk melanjutkan syuting.
__ADS_1
Pagi hari, Aisyah terbangun saat mendengar alarm dari ponselnya, tetapi dia terkejut bukan main saat merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Saking paniknya, dia bahkan melepaskan pelukan itu secara paksa, tetapi tangan kekar yang memelulnya itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku baru saja tertidur beberapa saat yang lalu, bolehkan aku tidur sebentar lagi?" suara itu membuat Aisyah bernapas lega, sebab dia sangat mengenali suara tersebut.
"Kau membuatku takut, Kak. Aku tidak tahu kamu masuk ke sini, jadi aku panik." Aisyah merubah posisinya hingga menghadap ke arah Ryu. "Kamu tidurlah beberapa saat lagi, nanti aku bangunkan kalau sudah waktunya sholat subuh."
Aisyah bangkit adi tidurnya meninggalkan Ryu yang masih memejamkan mata. Dia akan melakukan rutinitas paginya sebelum subuh, membiarkan sang suami absen kali ini karena dia tahu Ryu pasti sangat lelah.
Ternyata pertemuan pagi itu tak berlangsung lama, bahkan di hari yang masih pagi, Ryu harus kembali bekerja. Bagi Aisyah tak masalah, karena ke kota ini Ryu memang untuk bekerja, bukan berlibur. Akan tetapi bagi Ryu sangat bermasalah, sebab dia tak bisa jalan ke pantai berdua dengan Aisyah bahkan mereka tak lagi bertemu di tempat itu, karena sore hari mereka sudah harus kembali.
"Ryu sibuk sekali ya, bahkan kalian tak bisa jalan berdua," celetuk Iren saat mereka berdua berada di tepi pantai.
"Iya Kak, tapi aku sudah biasa seperti ini. Waktu kami masih pacaran, kita jarang sekali bertemu, seminggu sekali biasanya kami bertemu, ya karena kesibukan Ryu." Aisyah tersenyum saat mengingat momen pacaran mereka.
"Kau dulu sama sekali tidak curiga sama Ryu?" tanya Iren, dia heran mendengar ucapan Aisyah.
Aisyah menoleh ke arah Iren, lalu dia menggeleng, "Dia saja sibuk dengan pekerjaanya Kak, tak mungkin dia seperti itu," ucapnya.
"Iya sih, apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Apalagi kalian sampai menikah, bahkan aku lihat kalau Ryu sangat mencintaimu, sepertinya kau beruntung memiliki lelaki seperti Ryu," sahut Iren.
"Justru aku yang beruntung, Kak. Bisa memiliki lelaki seperti Ryu, bahkan saat gadis-gadis di luaran sana hanya bisa menghayal dan memimpikan suamiku itu, tapi aku bisa memilikinya." Aisyah tersenyum menatap Iren.
"Benar juga ya, kita berdua salah satu orang yang beruntung, karena tak harus bermimpi dulu untuk bertemu dengan mereka." Iren pun membalas senyuman Aisyah dengan tertawa renyah.
Siang menjelang sore itu, mereka habiskan di pantai hanya berdua saja, sebab pantai tersebut di tutup untuk umum, khusus di hari ini.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜