Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Beruntung Memilikimu


__ADS_3

Meski wajahnya babak belur, Ryu tetap datang ke acara party teman-temannya. Pukul sembilan malam dia baru sampai di tempat mereka biasa berkumpul, tentu saja kedatangannya menciptakan banyak pertanyaan dari keempat sahabatnya.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa yang terjadi? Siapa yang bisa mengalahkan mu?" Sam, dia yang melihat terakhir kali Ryu dalam keadaan baik-baik saja langsung memberondong berbagai macam pertanyaan.


"Iya, apa yang terjadi dengan mu?" sahur yang lainnya.


"Kalian tidak mau mempersilahkan aku duduk dulu?" sindir Ryu, dia mengusap sudut bibirnya yang masih terasa perih saat dibawa berbicara.


"Kau duduklah, biar ku ambilkan obat." Sam berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Ryu untuk duduk di tempat yang tadi dia duduki.


Ryu pun duduk dengan pandangan mentap ketiga sahabatnya yang juga menatap dirinya penuh tanda tanya dan prihatin.


"Harusnya kau mempertahankan wajah tampan mu yang tak seberapa itu, nanti semua orang curiga saat kita konser, dikira kau mendapatkan penganiayaan," ujar Shin yang selalu tak memikirkan kondisi orang lebih dulu saat berbicara.


"Kau ini, bukannya perihatin atas musibah sahabat kita, malah seperti itu bicaranya," protes Lee.


Tak lama Sam datang dengan membawa obat, dia dengan sigap ingin mengobati luka di wajah Ryu, tapi pemuda itu menolaknya, "Aku bisa sendiri," ujarnya.


"Sudah diam, kau tinggal terima beres." Sam bersikukuh mengobati luka di wajah sahabatnya itu.


Hanya beberapa menit saja Sam sudah berhasil membersihkan dan mengobati luka Ryu, dia pun mengembalikan kotak obat tersebut dan kembali bergabung dengan sahabatnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa kami bisa membantu?" Ye Jun yang sejak tadi diam kini mulai membuka suara sebab Ryu terus bungkam.


"Biasa, masalah dengan Ayahku. Kalian ingat kan kapan terakhir aku bertemu dengannya? Dan hal yang sama pun aku alami, seperti ini." Ryu hanya menceritakan intinya saja, sebab dulu dia pernah mendapatkan perlakuan seperti itu saat memutuskan pindah ke apartemen.


Mereka semua memahami apa yang Ryu rasakan, tapi mereka tak ingin tahu lebih panjang lagi, sebab itu bukan urusan mereka. Jika Ryu belum meminta bantuan, tentu mereka tak bisa melakukan apapun, takut jika Ryu akan kecewa pada mereka karena telah ikut campur urusannya.


"Lupakan luka di wajah ku, anggap saja ini hanya make up untuk memeriahkan acara kita malam ini." Ryu tak ingin party mereka malam ini gagal hanya karena masalahnya.

__ADS_1


"Aku punya ide, kalian harus mengikuti apa yang aku pikirkan. Tunggu sebentar." Sam kembali masuk ke dalam, entah apa yang akan dilakukan pemuda yang memiliki umur paling muda diantara mereka berlima itu.


Sam kembali dengan membawa alat make up yang biasanya mereka gunakan untuk menjaili satu sama lain saat mereka dalam mode jail.


"Kita harus membuat wajah yang mirip dengan Ryu. Kalian pasti tahu apa maksud ku kan?" Sam meletakkan alat make up tersebut di atas meja, lalu dia meraih salah satunya dan mulai mengoleskan di wajah tampannya.


"Aku tidak mau," tolak Shin.


"Baiklah, kau tidak mau buat sendiri kan maksdunya, biar ku bantu." Sam mendekat ke arah Shin, lalu mencoret wajah sahabatnya itu sesuka hatinya.


Mereka semua menertawakan kekonyolan mereka sendiri, apalagi mereka mereka mau menuruti kemauan Sam yang tidak masuk akal itu. Sedangkan Ryu, dia merasa lebih baik setelah melihat kekonyolan sahabatnya akibat ulah Sam. Selanjutnya mereka menikmati party kecil itu dengan diiringi canda tawa.


"Kau mau minum?" tanya Lee saat melihat Ryu menuangkan arak ke dalam gelas, entah apa yang dipikirkan pemuda itu, sebab biasanya Ryu paling tidak bisa minuman yang mengandung alkohol, dia akan langsung mabuk meski hanya meminum sedikit saja.


"Hem, aku penasaran ingin mencobanya," ucapnya, padahal dia hanya ingin melupakan sejenak masalah yang sedang dia hadapi.


Dalam kondisi mabuk, Ryu berpamitan pada mereka, dan Lee salah satu yang menawarkan diri untuk mengantar sahabatnya itu.


"Aku akan menginap di rumah mu, boleh kan?" tanya Lee.


"Aku tahu kau ingin menikmati berduaan dengan kekasihmu kan? Dan aku akan kau jadikan pendengar kegiatan laknat mu itu, oh tidak bisa!" Ryu menggoyangkan telunjuknya di hadapan wajah Lee.


Lee tertawa mendengar ucapan Ryu, "Kau tahu aja. Bolehlah, seminggu sekali saja tidak lebih." Bujuknya.


Ryu berdecak, meski dalam kondisi mabuk dia masih sedikit sadar, meski kepalanya terasa berat.


"Silahkan, tapi antarkan aku ke tempat Aisyah, aku tak mau menjadi pendengar kegiatan laknat kalian berdua. Tapi lain kali kalau ada Aisyah jangan lakukan itu lagi di apartemen ku." Jawab Ryu.


Lee tertawa bahagia, dia langsung menghubungi Eun Ji untuk datang ke apartemen Ryu dan menunggu dirinya sebentar di loby, karena dia akan mengantarkan Ryu ke tempat Aisyah lebih dahulu.

__ADS_1


Lee memapah tubuh Ryu hingga sampai depan pintu apartemen Aisyah, dia juga yang menekan bel yang berada di dekat pintu, setelah itu dia pergi begitu saja dan membiarkan Ryu tetap di sana.


"Kalian juga selamat bersenang-senang!" Lee menepuk pundak Ryu, dia mengira jika Ryu akan melakukan hal yang sama seperti dirinya dan Eun Ji.


Ryu hanya tersenyum smrik, tak berniat membalas ucapan Lee, biarkan saja sahabatnya itu berfikir seperti itu.


πŸ’œβ€οΈβ€πŸ”₯πŸ’œβ€οΈβ€πŸ”₯πŸ’œ


Ryu menceritakan semua kejadian itu pada Aisyah kecuali saat sang Ayah mengancamnya menggunakan gadis itu, Ryu tak mau membuat Aisyah takut dan khawatir. Sebelum ancama Ayahnya itu dilakukan, Ryu akan berusaha mencegahnya supaya sang Ayah tak melakukan apapun terhadap kekasihnya.


"Kenapa Ayahmu begitu jahat pada mu, Ryu?" Aisyah mengusap lembut luka lebam yang ada di wajah Ryu.


"Entahlah, sejak kecil dia memang tak pernah menyayangiku," jawab Ryu, dia mengingat masa kecilnya yang tak seperti teman-temannya yang selalu memiliki waktu bersama Ayah mereka, sedangkan dia tak pernah memiliki waktu berdua dengan ayahnya, hanya ibu yang selalu menemaninya di saat libur kerja. Waktu itu sang Ayah entah kemana, karena setiap minggu selalu menghilang.


"Ternyata berat juga perjalanan hidup mu." Aisyah masih setia mengusap wajah tampan yang kini dipenuhi luka lebam itu, sesekali dia menatap kedua bola mata Ryu yang terlihat memiliki banyak masalah.


"Jangan bilang seperti itu! Perjalanan hidupmu pun tak kalah sulit dari ku. Kita memiliki nasib yang hampir sama, hanya saja Papa mu sangat menyayangi mu, berbeda dengan ku." Ryu pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Aisyah, mengusap lembut pipi kekasihnya.


"Tapi aku menyayangi mu Ryu, meski seluruh dunia membenci mu, aku akan tetap menyayangi mu sampai kapan pun, kau tak akan tergantikan, seandainya kau bukan jodohku pu, posisimu akan tetap sama di sini." Aisyah menyentuh dadanya saat mengatakan kalimat terakhir.


"Terimakasih, aku sangat tersanjung mendengarnya. Dan terimakasih kau telah merawatku semalam, kamu telah memperhatikan ku dan masih banyak lagi. Aku sangat beruntung memiliki mu saat ini, dan kau akan jadi milikku untuk selamanya, aku sangat yakin dengan hal itu." Sahut Ryu.


Tanpa Aisyah duga, kekasihnya itu mengecup kening dan bergantian dengan kedua pipinya. Membuat wajahnya terasa panas karena malu. Dia pun menyembunyikan wajahnya itu di dada Ryu. Di sana dia justru mendengar detak jantung Ryu yang bertalu-talu begitu cepat, sama seperti detak jantungnya.


πŸ’œβ€οΈβ€πŸ”₯πŸ’œβ€οΈβ€πŸ”₯πŸ’œ


Minta like dan komennya dong teman-teman. Aku ingin melihat seberapa banyak yang membaca karya receh ku iniπŸ₯Ί.


Terimakasih untuk kalian semua yang sudi membaca karya receh ku ini, semoga sehat selalu buat kalian.

__ADS_1


__ADS_2