Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Bertemu Kembali


__ADS_3

Ryu masuk ke kamar Aisyah, tetapi gadis itu tak terlihat di manapun. Dia takut Aisyah pergi begitu saja setelah merajuk tadi. Hatinya lega saat melihat tas ransel milik kekasihnya itu masih berada di atas sofa, mungkin Aisyah sedang di kamar mandi. Benar saja, beberapa menit dia menunggu, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berubah, itu artinya Aisyah baru saja membersihkan diri.


Gadis itu sama sekali tak menyapa Ryu. Dia langsung mengambil mukena dan melaksanakan kewajibannya di bawah tatapan Ryu. Dia tak peduli, seakan Ryu hanya patung yang sedang mengawasinya.


"Maafkan aku ya." Aisyah terkejut saat Ryu berbisik di dekat telinganya. Wajah pemuda itu terlihat basah, mungkin baru saja mengambil air wudhu, tetapi dia sama sekali tak mendengar nya.


Aisyah bergeming, karena setelah mengatakan permintaan maaf, Ryu pun mengikuti jejaknya. Dia bersyukur dalam hati melihat perubahan kekasihnya. Hatinya begitu lega melihat Ryu yang semakin hari semakin membaik.


"Aku sudah memaafkan mu, hanya saja aku terlalu malu jika bertemu dengan teman-teman mu lagi," sahut Aisyah saat Ryu telah menyelesaikan kewajibannya.


"Mereka tak akan mengejek mu, bersikap biasa saja." Ryu menghampiri Aisyah yang sudah duduk di sofa menunggunya.


"Aku penasaran apa yang terjadi kemarin dengan mu?" tanya Ryu, dia tak ingin lagi membahas hal tadi, karena ada hal yang lebih penting dari pada kejadian tadi.


Aisyah menatap kekasihnya, dia sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, "Entahlah, aku bingung harus mulai dari mana dulu," celetuknya.


"Dari manapun, sesukamu. Aku siap mendengarkannya," sahut Ryu.


Aisyah menghela nafas panjang, "Kemarin saat aku pulang, Papa ada di sana dan aku tak sengaja mendengar pembicaraan mereka, sebuah rahasia besar yang mereka simpan selama ini," dia mulai menceritakan kejadian kemarin. Dia menceritakan semua yang diketahui tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.


Ryu mengusap punggung kekasihnya itu saat Aisyah menitikan air mata di tengah-tengah dia berkisah. "Aku mengerti bagaimana perasaan mu, perjalanan hidup kita hampir sama, hanya saja kamu lebih beruntung karena memiliki Mama sebaik Mama Winda," tuturnya setelah mendengar semua cerita Aisyah.


"Iya, kamu benar. Sebab itu aku tak bisa marah dengan Mama, meskipun disini Mama juga bersalah." Aisyah mengusap air mata dan ingusnya menggunakan tisu.


Ryu memeluk gadis itu, berharap pelukannya bisa membuat Aisyah sedikit lebih tenang. "Apapun keputusan mu, aku akan mendukung selama itu baik." Dia mengusap puncak kepala gadis itu.


"Setelah ini, aku akan menemui Papa dan Mama mu, tapi sebelum itu bagaimana kalau kamu bertemu dengan Mama kandung mu dulu? Pasti kamu juga merindukannya, bukan?" Bukan tanpa alasan Ryu mengatakan hal itu, dia tahu jika di dalam hati kecil Aisyah ingin sekali bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Apalagi wanita itu sama sekali tak bersalah di sini, dia juga korban seperti Aisyah.

__ADS_1


Aisyah menggeleng, "Aku tidak mau mengecewakan Mama," tolak nya.


"Kita bawa Mama sekalian, bagaimana? Mama juga pasti pengen ketemua sama putranya," usul Ryu.


Aisyah melepaskan pelukannya, "Biarkan waktu yang akan mempertemukan kita, karena aku yakin pasti akan bertemu dengan ibu kandungku sendiri tanpa kita rencanakan. Aku juga tak ingin menjelaskan semuanya, biar Papa yang menjelaskannya, karena dia yang bersalah di sini." Menatap wajah Ryu yang juga menatapnya, dia ingin meyakinkan pemuda itu jika saat ini belum siap bertemu ibu kandungnya.


"Baiklah, aku ikuti apa mau mu." Ryu mengangguk lalu kembali memeluk gadis itu.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Aisyah sedang menunggu kedua sahabatnya di depan gedung tempat konser Ryu dan kawan-kawannya. Sudah hampir setengah jam dia menunggu, tetapi kedua sahabatnya itu tak kunjung muncul. Hingga dia dikejutkan oleh seseorang yang datang dan langsung menyapanya.


"Hai, akhirnya kita bertemu di sini. Apa kabar? Kamu masih ingat dengan ku, kan?" sapa seseorang tersebut dengan senyum mengembang.


Aisyah menatap seseorang di hadapannya itu. Dia terkejut saat mendapati siapa yang datang menghampirinya. Tidak pernah menyangka jika mereka akan bertemu kembali, bahkan disaat dia sudah tahu siapa pemuda yang berdiri di hadapannya.


"Ah, enggak. Aku ingat kok, kamu Agam, kan? Maaf aku terkejut karena tak percaya di tempat seluas ini kamu bisa menemukan ku." Aisyah tersenyum canggung menimpali ucapan pemuda itu.


Agan tertawa mendengar ucapan Aisyah, "Aku sudah melihatmu sejak tadi, tapi ragu jika itu kamu. Betewe nonton juga?" Dia menunjuk gedung dibelakang Aisyah.


"Iya, pasti dong, mereka semua idolaku. Tidka mungkin aku melewatkan kesempatan emas ini." Jawab Aisyah sambil tersenyum. Dia tak merasa canggung karena mengetahui bagaimana status mereka sesungguhnya.


"Kamu nonton? Atau cuma lewat?" tanya Aisyah.


"Aku nganter temen, tuh." Agam menunjuk tiga gadis dan dua pemuda tepat di samping kirinya.


"Oh, nganterin pacar?"

__ADS_1


Agam menggeleng, "Bukan, masih pedekate. Kamu sendiri?" tanyanya.


"Enggak juga, lagi nunggu temen belum datang." Aisyah tersenyum saat tiga gadis itu menatap mereka berdua, tapi senyumnya sama sekali tak mendapatkan sambutan.


"Kayaknya kamu sudah tahu nama ku, tapi aku belum. Boleh kenalan lagi, kan? Aku Agam Maulana, bisa dipanggil Agam." Agam menjulurkan tangannya untuk menyalami Aisyah.


Kali ini Aisyah menyambut tangan pemuda itu dengan sebuah senyuman, "Aku Aisyah Mumtaz," jawabnya sengaja memberi embel-embel nama Papanya, dia ingin melihat bagaimana rekasi Agam saat mendengar itu.


"Waow! Bahkan nama belakang kita juga sama, Aisyah. Mumtaz, ya itu nama belakang ku, tepatnya nama Papa ku." Ternyata Agam terkejut mendengar nama belakang mereka yang sama.


"Iya, dia juga Papa ku," jawab Aisyah dalam hati.


"Kebetulan ya. Ah itu teman-teman ku. Aku akan menghampiri mereka, kamu kembalilah ke teman-teman mu, sepertinya kekaihmu cemburu dengan ku." Aisyah beranjak dari duduknya untuk menghampiri Nita dan Santi yang baru terlihat.


"Sebentar, boleh minta nomor mu?" Agam menghentikan langkah Aisyah, gadis itu berfikir sejenak lalu mengangguk.


"Baiklah, catat nomor ku." Aisyah menyebut beberapa nomor ponsel miliknya, dia merasa membutuhkan nomor Agam.


"Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi." Aisyah meninggalkan Agam yang sedang menyimpan nomor ponsel miliknya.


"Siapa sih dia? Kamu keliatan akrab banget sama dia?" tanya seorang gadis yang menghampiri Agam setelah Aisyah pergi.


"Teman, kita pernah bertemu di luar. Waktu aku liburan dua tahun lalu, dia kuliah di sana." Jawab Agam sama sekali tak merasa bersalah meski melihat kekesalan diwajah gadis itu.


"Genit banget, baru bertemu sekali sudah mau ngasih nomor." Gadis itu menghentakkan kedua kakinya sambil melipat kedua tangan di dada. Dia menatap kesal ke arah Aisyah yang sedang tertawa bersama kedua temannya.


"Jangan gitu, dia sudah punya pacar." Agam merangkul gadis itu dan berjalan menuju keempat temannya yang lain.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2