Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Harus Dihukum


__ADS_3

Aisyah sedang berdoa memohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa, ketika seorang yang menyekapnya masuk ke dalam kamar sambil berbincang lewat panggilan telepon. Sayup-sayup dia mendengar ucapan Ryu yang memaki dari seberang sana. Dia yakin jika kekasihnya itu akan menolong dirinya. Akan tetapi, dia salah ternyata orang yang menculiknya itu berusaha melecehkannya lagi. Dia kembali berteriak meminta tolong dan menyebut nama Ryu.


Melihat kondisi makin genting, dia berusaha menendang lelaki brengsekk itu, tapi sayang kakinya tak bisa bebas bergerak. Dia masih mencari cara supaya lelaki itu pergi dari atas tubuhnya, tapi kedua bola matanya tak sengaja melihat dua orang berpakaian hitam mendodongkan senjata ke arah mereka berdua, seketika dia pun berteriak.


"Akkkkhhhhhh!" teriaknya, takut jika lelaki berpakaian hitam itu akan menembaknya. Dia bahkan memejamkan kedua bola matanya, hingga terdengar suara tembakan beberapa kali, tapi dia tak merasakan apapun, justru mendengar jeritan lelaki brengsekk yang akan melecehkannya dan juga suara benda jatuh.


Aisyah membuka mata, dia tak sanggup melihat pemandangan di hadapannya, dimana lelaki itu tergeletak di lantai dengan kaki dipenuhi da*rah. "Apa yang terjadi? Tolong! Jangan bunuh aku!" jerit nya.


"Nona tenanglah, anda aman bersama kami. Biar saya bantu melepas talinya." Seorang lelaki berpakaian hitam itu membantu Aisyah melepaskan tali di kedua tangan dan kakinya.


"Apa aku bisa percaya dengan kalian? Jangan-jangan kalian akan menculik ku lagi, atau melecehkan ku! Aku tidak mau!" Aisyah sepertinya belum percaya dengan lelaki berpakian hitam itu.


"Saya mengerti akan ketakutan nona, tapi tenanglah saya bukan orang jahat. Kalau nona tak mau saya bantu tak apa, saya panggilkan teman saya sebentar supaya nona lebih percaya." Lelaki berbaju serba hitam itu menelpon temannya.


Sedangkan si penjahat sudah di seret keluar oleh dua lelaki berbaju hitam lain yang terlihat lebih kekar dari lelaki yang menolongnya. Rintihan serta makian terus keluar dari mulut penjahat itu, bahkan hingga mereka tak terlihat suara makian itu masih terdengar.


"Itu temanku sudah datang, dia yang akan membantu nona turun." Lelaki berbaju hitam itu menunjuk ke arah pintu, dimana berdiri seorang wanita dengan pakaian serba hitam.


"Mari nona, saya akan membantu nona. Tidak usah takut, nona sudah aman, semua penculik itu akan diserahkan ke pihak berwajib." Wanita itu membantu Aisyah berjalan meninggalkan rumah penyekapan tersebut, dan Aisyah tak menolaknya, kali ini sepertinya gadis itu percaya jika dia sudah aman.


"Siapa sebenarnya kalian?" tanya Aisyah saat berada di dalam mobil, dia melihat ada lima mobil lainnya yang berisi orang-orang berpakian hitam, tapi hanya wanita itu yang perempuan.

__ADS_1


"Nanti nona akan tahu sendiri siapa kami, biar bos kami yang menjelaskan karena kami tidak berhak untuk itu," jawab wanita tersebut.


Aisyah makin penasaran siapa bos mereka? Apakah Ryu? Tapi sepertinya tak mungkin sebab lelaki itu juga terlihat kalu saat dia lihat di telepon tadi. Jika bukan Ryu lalu siapa? Dia bahkan tak mengenal seseorang di negara ini yang begitu dekat kecuali Ryu.


"Sekarang kita mau kemana? Aku mau pulang," Aisyah melihat jalanan yang sama sekali tak dia kenali.


"Kita akan ke rumah bos besar. Nona pasti tidak akan diijinkan kembali ke apartemen itu," jawab wanita itu.


"Loh kenapa?" tanya Aisyah, dia terkejut mendengar ucapan wanita itu.


"Di sana tidak aman nona. Selain keamanan yang kurang memadai, di apartemen yang nona tempati banyak penjahat yang tinggal di sana. Sudah pasti bos tidak akan membiarkan nona kembali ke tempat itu lagi," jawab wanita itu.


Aisyah makin penasaran, tapi dia tak mau bertanya lagi sebelum melihat siapa bos mereka. Selama perjalanan dia terdiam, membayangkan apa yang akan terjadi jika orang-orang berbaju hitam itu tak datang menolongnya? Sudah pasti dia akan hancur karena lelaki penculik itu.


Tapi dia merasa jijik saat mengingat apa yang dilakukan penjahat itu, untung saja dia masih bisa mempertahankan hijabnya hingga saat ini, meski kedua pipinya sudah tersentuh lelki itu. Tiba-tiba air matanya menetes, dia tak mau bayang-bayang itu terus menghantuinya, dia tak sanggup.


"Nona, kau kenapa?" ternyata wanita itu menyadari perubahan wajah Aisyah.


Aisyah menggeleng, "Aku merasa jijik dengan wajha ku sendiri, dia sudah melecehkan ku," jawabnya dengan deraian air mata.


Wanita itu mengerti, meski dia tak pernah mengalami apa yang dialami Aisyah tetap saja dia merasa jika hal itu terjadi padanya dia pasti akan bersikap seperti Aisyah, jijik dengan tubuhnya yang sudah disentuh lelaki bejat seperti itu. "Tenanglah nona, semuanya sudah berakhir, anggap saja itu sebuah mimpi buruk," ucapnya.

__ADS_1


Aisyah diam, entah dia bisa melupakan kejadian itu atau tidak, dia tak tahu. Sebab, hal itu adalah kejadian mengerikan pertama kali yang dia alami selama hidup, meskipun dulu sering mendapatkan bully-an tetap saja hal itu tak ada apa-apanya dibandingkan kejadian hari ini.


"Kita sudah sampai, ayo turun. Nona bisa mandi dan berganti pakaian di sini." Wanita itu menuntun Aisyah turun dari mobil.


Aisyah terpaku melihat bangunan megah di hadapannya, sebuah rumah mewah yang begitu luas, ditambah halaman yang tak kalah luas hingga beberapa mobil bisa masuk ke dalam halaman itu. Tadi dia tak menyadari saat mobil memasuki halaman rumah tersebut.


Aisyah berjalan mengikuti langkah wanita itu, hingga mereka memasuki pintu utama. Terlihat ruangan yang begitu luas dengan berbagai macam isinya. Tapi pandangannya justru tertuju pada seseorang yang tepat berasa di hadapannya. Seketika kedua bola matanya kembali berembun saat seseorang itu memeluk tubuhnya erat.


"Sweetheart, maafkan aku. Sungguh aku manusia tak berguna! Aku tak bisa menolong mu! Bahkan aku yang membuat mu terluka, tapi aku hanya bisa diam saja." Yah, orang itu adalah kekasih Aisyah, Ryu. Dia menangis penuh haru sekaligus menyesal, karena tak bisa menolong Aisyah. Tapi dia juga bersyukur Aisyah kembali dengan selamat.


Aisyah membalas pelukan Ryu, dia menggelengkan kepala, tak mau Ryu menyalahkan dirinya sendiri, karena dia juga merasa bersalah sebab tak mengenal mana kekasihnya dan mana yang bukan kekasihnya.


"Kau tak boleh menyalahkan dirimu sendiri, aku yakin ini sudah takdir. Memang jalan seperti ini yang harus aku lalui," ucapnya.


Ryu menggeleng, lalu dia melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Aisyah, lalu mengecup seluruh wajah gadia itu, terutama di tempat lelaki penculik itu mencium wajah Aisyah. Ryu tak rela jika bekas penculik itu masih menempel di tubuh Aisyah.


Aisyah hanya diam, dia tahu apa maksud Ryu melakukan hal itu. Tapi seketikan dia tersadar dimana saat ini mereka berada, hingga dia mendorong tubuh Ryu.


"Kenapa?" tanya Ryu sama sekali tak merasa bersalah.


"Kau itu, lupa dimana sekarang? Dan kau sudah keterlaluan melakukan hal itu dihadapanku, sepertinya kau pun harus mendapatkan hukuman," ucap Tuan Park yang sejak tadi melihat interaksi dua sejoli itu.

__ADS_1


Ryu meringis, dia lupa jika saat ini sedang berada di rumah Tuan Park. Dia jadi malu sendiri, apalagi aksinya tadi dilihat beberapa pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2