
Mama Winda sedang sibuk di dapur saat terdengar sebuah bel. Wanita itu pun langsung memadamkan kompor gas yang masih menyala, demi menghormati tamu yang datang. Dia pun bergegas membuka pintu, sebab bel terus berbunyi seakan tamu itu tak sabar menunggu terlalu lama.
"Ada apalagi kamu datang?" tanyanya tak suka melihat tamunya itu.
"Biarkan saya masuk dulu Win, ada beberapa hal yang akan saya bicarakan pada mu," jawab tamu tersebut.
Winda pun mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk, "Aku harus menyelesaikan masak dulu, kamu sabar menunggu, kan? Kalau tidak sabar bisa datang lagi nanti. Terlihat jelas jika Winda tak menyukai kedatangan tamunya, bahkan dia enggan menatap tamunya tersebut.
" Silahkan, saya punya banyak waktu untuk menunggu acara memasak mu." Tamu bersikap biasa saja, seolah pengusiran Winda bukan masalah besar.
Winda pun meninggalkan tamu tersebut untuk menyelesaikan acara masak-menasaknya. Tak lupa dia memberi segelas kopi hangat pada tamunya itu. Meski tak menyukai tamu tersebut setidaknya dia masih memperlakukan tamu itu dengan baik.
Cukup lama Winda menyelesaikan urusan dapurnya. Dia memang sengaja berlama-lama, berharap tamunya itu tidak betah dan berpamitan sebelum dia selesai masak. Akan tetapi itu hanya menjadi harapannya saja, sebab tamu itu masih setia menunggu dirinya hingga selesai.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Katakan saja, tetapi kamu tak bisa memaksa kehendaku seperti beberapa waktu lalu." Winda sudah kembali dengan membawa teh hangat untuk dirinya sendiri. Dia duduk berhadapan dengan tamu tersebut.
"Ini soal Nazwa. Seperti yang sudah aku katakan dulu, aku minta persetujuan mu, karena Nazwa berstatus putrimu meskipun bukan putri kandung."
Ya, tamu itu adalah Fadly Mumtaz, Papa biologis Aisyah yang sudah tega menelantarkan putrinya sendiri demi tujuannya tercapai.
"Sudah aku katakan Tuan Fadly yang terhormat, aku tak mau menyetujui permintaan konyol mu itu. Asal kamu tahu, meskipun Aisyah tak lahir dari rahimku, tapi di tubuhny mengalir darahku, dia tetap darah daging ku, dan aku tak akan membiarkan dia menderita karena Papanya lagi." Winda menatap tajam Fadly, dia sama sekali tak memiliki rasa takut pada lelaki itu.
"Tenang dulu Win. Aku melakukan ini juga untuk kebaikan putriku. Semua harta kekayaan ku sudah jatuh ke tangan Agam, putra mu. Itu sebabnya aku menyetujui permintaan sahabat ku itu untuk mengangkat Nazwa sebagai putrinya, dia tidak memiliki ahli waris otomatis semua hartanya akan jatuh ke tangan Nazwa. Bagaiman kamu setuju, kan? Kamu jangan egois dong Win, putramu sudah bahagia, sekarang giliran Nazwa yang bahagia." Entah apa yang ada di dalam otak Fadly hingga rela menukar putrinya dengan harta, bahkan untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Aku tak mau, aku tak yakin Aisyah bahagia dengan ide gila mu itu." Winda terus menolak, yang terpenting baginya saat ini adalah kebahagiaan Aisyah, karena putra kandungnya Agam tentu sudah bahagia dengan keluarga angkatnya.
"Aku berjanji akan menginjinkan kamu bertemu Agam setiap saat, kalau kamu menyetujui permintaan ku ini." Fadly kembali membujuk dengan cara lain.
"Sekali tidak ya, tetap tidak! Aku tak akan mengorbankan putriku demi harta, aku bukan manusia gila seperti mu. Sekarang kamu pergi dari rumah ku! Aku tak mau mendengarkan alasanmu yang lain." Winda menunjuk pintu untuk mengusir Fadly yang menurutnya tidak tahu diri.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Kalian harus menginap, seharian ini kalian berdua akan aku kurung di rumah ku." Aisyah baru saja turun dari taksi diikuit oleh kedua sahabatnya. Dari bandara mereka langsung pulang, karena Aisyah merasa masih lelah. Dia tak sanggup jika langsung bepergian sebelum istirahat.
"Siap! Ini kesempatan langka, dan mungkin ini terakhir kalinya kita tidur bareng." Santi menyadari jika dia sebentar lagi akan menikah, tak mungkin setelah menikah akan menginap di rumah Aisyah lagi.
"Yoi! Yuk cepetan gue kangen sama Mama. Rindu berat dengan wanita cantik itu." Aisyah berjalan lebih dahulu dengan menyeret kopernya diikuti kedua sahabatnya.
"Ais, lo enggak apa-apa?" tanya Nita, panik saat melihat Aisyah terduduk di tanah dengan berlinabg air mata.
"Kalian bisa tinggalin gue dulu, besok gue akan hubungi kalian lagi," pinta Aisyah, dia tak mau sahabatnya mendengar pertengkaran di dala sana.
Akhirnya Nita dan Santi pun mengikuti ucapan Aisyah, sebab tanpa sengaja Nita mendengar ucapan seseorang di dalam sana, jika Aisyah bukan anak kandung Mama Winda.
Aisyah terus mendengarkan percakapan kedua orang tuanya tersebut tanpa berniat menyela atau ikut campur dengan masalah mereka. Dia ingin tahu siapa sebenarnya dia? Dan dimana Papa dan Mamanya?
Dia panik saat mendengar Mama mengusir lelaki itu. Dia ingin pergi sebenarnya, tetapi urung sebab dia akan menanyakan langsung semua itu pada mereka. Hingga akhirnya Aisyah menerobos masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Baru saja Fadly beranjak dari duduknya, mereka berdua dikejutkan dengan datangnya seorang gadis yang baru saja mereka bicarakan, yaitu Aisyah. Gadis itu terlihat berantakan dengan kedua bola mata memerah, dan pipi di penuhi oleh jejak air mata.
"Sayang, kamu pulang? Kenapa enggak bilang sama Mama, kalau kamu mau pulang, Nak?" Winda mendekati putriny, meski dia tak yakin Aisyah akan menerimanya dengan baik. Sebab dia yakin jika Aisyah mendengar percakapannya dengan Fadly.
"Tolong katakan jika yang aku dengar tadi tidak benar? Katakan!" Air mata Aisyah kembali runtuh, dia tak sanggup menerima kenyataan ini. Sangat menyakitkan.
"Sayang, maafkan Mama." Winda memeluk Aisyah, wanita itu pun ikut menangis melihat keadaan putrinya. Dia begitu mencintai Aisyah meski gadis ini tak lahir dari rahimnya sendiri.
Fadly mendekati dua perempuan yang sedang menangis tersebut. Dia tak menyangja jika putrinya akan secepat ini mengetahui kondisi yang sesungguhnya.
"Tetap di sana!" Aisyah berteriak membuat Fadly berhenti seketika.
"Ma, jelaskan padaku. Siapa aku sebenarnya? Kenapa kalian berdua tega dengan ku? Aku manusia yang masih bisa merasakan rasa sakit," ucap Aisyah sesegukan.
Mama Winda terdiam, dia tak sanggup menceritakan semuanya. Dia tak ingin Aisyah meninggalkan dirinya, jika menceritakan semua itu. Akan tetapi Aisyah memang harus mengetahui yang sesungguhnya, supaya dia tahu siapa ibu kandungnya.
"Mama akan menjelaskan padamu, tapi dengan satu syarat." Akhirnya Winda mempunyai sebuah ide agar Aisyah tak meninggalkannya.
"Katakan Ma, apa syaratnya?"
"Jangan pernah tinggalkan Mama, setelah kamu mengetahui semuanya ya, please." Winda menatap putrinya itu dengan derai air mata, dan tersenyum saat Aisyah menganggukkan kepala.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1