Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Menjadi Milikmu


__ADS_3

Aisyah menaiki bus tanpa arah tujuan, air matanya terus mengalir mengingat semua kebahagiaan yang Papanya berikan adalah sebuah kepalsuan. Sungguh dia makin membenci lelaki yang sayangnya ayah kandungnya itu, tetapi begitu tega menukarnya dengan uang. Jika seperti ini lebih baik tak bertemu dengan lelaki itu saja.


"Mama! Aku benci Papa Ma! Aku benci lelaki itu! Dia jahat Ma! Jahat sama aku, Ma!" teriak gadis itu saat berada di tepi laut seorang diri.


"Kenapa enggak lenyapkan aku saja! Kenapa harus menjual ku? Lebih baik aku mati! Aku benci Papa! Aku benci darahnya yang mengalir di tubuhku! Aku benci!" Aisyah terus berteriak mengeluarkan semua sesak di dadanya, tetapi bukannya lega dada itu terasa makin sesak di tambah tangisnya yang makin menjadi membuat dia sulit bernafas.


Tubuh gadis itu luruh, hingga sebagian tubuhnya bermandikan pasir, "Kenapa kau memberi bahagia berselimut kehancuran? Aku lebih memilih menderita tapi berakhir bahagia," lirihnya. Dia tak lagi berteriak seakan tenaganya sudah terkuras habis.


Teriknya matahari tak membuat gadis itu beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Seakan panas matahari melelehkan seluruh kekecewaan dan kemarahannya. Menyembunyikan wajah dibalik lipatan kedua kakinya. Air matanya terus mengalir tanpa henti disertai suara sesegukan yang kian melemah.


"Kenapa tidak bu nuh aku saja? Aku tak mau hidup dengan lelaki yang bahkan lebih tua dari mu! Kenapa kamu tega! Kenapa?" Aisyah terus meracau tak jelas, dia seperti seseorang yang kehilangan arah tujuan.


"Mama, aku ingin pulang. Aku mau hidup dengan Mama seperti dulu, aku enggak mau di sini," gumamnya.


Cukup lama gadis itu berada di pinggir pantai dan meratapi nasibnya. Dia tak ingin kembali ke apartemen lagi, karena apartemen itu milik Tuan Park yang telah membeli dirinya dari sang Papa. Aisyah terus berfikir jika Tuan Park benar-benar akan menjadikan dirinya seorang istri atau hanya simpanan, entahlah. Dan itu membuat dia makin membenci Papanya.


Gadis itu terkejut saat ponselnya bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Saat melihat siapa si penelpon dia pun langsung menjawabnya.


"Kau dimana?" pertanyaan pertama saat sambungan itu terhubung.


Aisyah menyeka ingusnya asal, dia tak ingin orang diseberang sana mengetahui kondisinya, "Kenapa? Aku di apartemen," jawabnya berbohong.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menipuku Ais. Aku baru saja mendapatkan foto mu. Benarkah kau di pantai seorang diri dan sedang menangis?" tanya seseorang diseberang sana.


Aisyah teringat akan Jae yang menjadi pengawalnya, dia melihat sekeliling tapi sama sekali tak menemuka bayangan seorang Jae. Apa mungkin pemuda itu yang mengirim fotonya? Tapi tidak mungkin Jae memberikan foto itu pada Eun Ji. Ya, yang meneleponnya adalah Eun Ji.


"Kenapa diam? Kau ada masalah? Baiklah, tetaplah di sana. Aku akan tiba sebentar lagi." Eun Ji lelah bertanya pada Aisyah, sebab gadis itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Dia pun langsung memutus panggilan dan kembali melakukan mobilnya menuju tempat diakan Aisyah berada.


Aisyah menghela nafas kasar, dia sebenarnya sedang ingin sendiri, tak ingin ada orang lain mengetahui keadaannya saat ini, apalagi Eun Ji. Bisa saja gadis itu melaporkan pada Ryu, dan dia tak tahu harus menjawab apa saat ditanya Ryu nanti. Dia memutuskan untuk mencuci muka dan membenahi penampilannya sebelum Eun Ji datang.


"Kau kenapa? Aku siap mendengarkan cerita mu." Eun Ji baru saja tiba, gadis itu ikut duduk di dekat Aisyah.


Aisyah menggeleng, "Aku hanya rindu dengan Mama," jawabnya berbohong.


Eun Ji terdiam, dia merasa Aisyah menyembunyikan sesuatu, tetapi dia tak mau ikut campur urusan gadis itu. Cukup baginya menemani Aisyah saat ini, khawatir jika Aisyah melakukan hal di luar dugaan. Dia hanya bisa mengusap punggung gadis itu perlahan, berharap bisa sedikit menenangkannya.


"Kau tentukan saja dimana tempat makannya," sahut Aisyah.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Aisyah kembali menyaksikan aksi panggung Ryu beserta keempat temannya. Kali ini dia duduk berdampingan dengan Eun Ji. Malam ini dia terlihat tak begitu bersemangat seperti malam kemarin, tentu memikirkan masalah yang sedang menimpanya. Akan tetapi saat Ryu menatapnya, dia berusaha untuk tak terlihat berbeda dari kemarin malam.


Setelah konser itu usai, Ryu mengirim pesan padanya jika dia akan pulang ke apartemen malam ini dan meminta Aisyah menunggunya. Aisyah tak bisa menolak akan permintaan kekasihnya itu, dia tak ingin mengecewakan Ryu kembali.

__ADS_1


"Kau tidak masalah jika menunggu Ryu seorang diri?" tanya Eun Ji saat dia mengantar Aisyah kembali ke apartemen Ryu.


Aisyah mengangguk, "Tak apa, kau kembalilah. Aku yakin Lee sudah menunggumu, dia juga pasti rindu denganmu," jawabnya.


"Baiklah, aku pergi ya." Eun Ji melambaikan tangan meninggalkan Aisyah seorang diri.


Apartemen itu terasa sunyi, membuat Aisyah teringan kembali akan kejadian pagi tadi. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran sang Papa yang tega menjualnya itu, sungguh perilaku yang tak patut dilakukan oleh seorang ayah pada putrinya. Aisyah menghela nafas berat, dia tak mau terlihat buruk di mata Ryu, sebab dia tak ingin membebani pikiran kekasihnya itu.


Disisi lain, selesai membereskan semuanya Ryu dan keempat sahabatnya pun kembali ke HS. Akan tetapi Ryu memilih langsung pulang ke apartemen, karena dia sudah merindukan keksihnya. Dia ingin berlama-lama memeluk keksihnya itu, karena dengan begitu rasa lelahnya akan tergantikan dengan perasaan bahagia.


Sesampainya di apartemen dia tak langsung menemui Aisyah, lebih dulu membersihkan diri karena seharian kegiatan di luar, ditambah aksinya di atas panggung yang menghasilkan banyak keringat. Dia tidak se-pd itu untuk menemui Aisyah langsung.


"Sweetheart, aku sudah kembali." Ryu mengetuk pintu kamar Aisyah yang ada di lantai dua, dan tak lama pintu itu terbuka lebar.


Tanpa Ryu duga, Aisyah langsung menubruk tubuhnya. Untung saja dia sudah mandi sebelum menemui Aisyah, jika tidak sudah pasti dia akan minder karena bau keringat. Dia pun membalas pelukan gadis itu, tetapi dia merasa ada yang aneh menyentuh tangannya di belakang punggung Aisyah.


"Ada apa dengan mu? Katakan kenapa kamu seperti ini?" tanya Ryu tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Aisyah menggeleng, enggan menjawab pertanyaan Ryu. Dia juga masih setia memeluk kekasihnya itu. Rasanya begitu nyaman dalam pelukan pemuda itu, seakan semua masalah yang menimpanya terlupakan sejenak. Iya hanya sejenak, sebab setelah itu Aisyah teringat akan ide gilanya yang sudah dia mulai.


"Sayang, tidurlah dengan ku. Aku ingin menjadi milikmu malam ini." Entah setan dari mana yang membuat Aisyah mengatakan hal itu, bahkan sebelum Ryu merespon ucapannya, dia sudah lebih dulu menyatukan bibirnya dengan bibir Ryu.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2